Jangan lupa panaskan teko teh. Selain susu, bagi Anda yang suka manis, bisa tambahkan gula.
Selamat mencoba!
Directed, Shot and Edited by Andrew Trigg
Hari ini menjadi hari terakhir siaran di 811 Show. Dua tahun lebih yang menyenangkan. Banyak sejarah manis kusimpan di hati. Terima kasih Metro TV telah menjadikan saya bagian dari keluarga selama lima setengah tahun. Semuanya pengalaman berharga. Bahagia mendapat restu dari orang-orang terkasih di Metro TV untuk pindah ke “rumah” baru. Terima kasih khususnya kepada Mas Tommy (Suryopratomo) — salah satu penggagas 811 Show. Direktur Pemberitaan Metro TV ini adalah seorang pemimpin yang mengayomi dan tak pernah berjarak dengan kolega-kolega dari seluruh tingkatan jabatan. Mas Tommy menjadi salah satu role model dalam hidup saya di dunia kerja. Terima kasih kepada Najwa Shihab yang telah menjadi salah satu inspirasi untuk selalu mengedepankan integritas dan kualitas dalam bermedia. Terima kasih kepada Zelda Savitri yang telah menjadi mentor, teman dan kolega yang menjadi contoh profesionalitas dalam bekerja. Saya akan teruskan misi media yang mendidik.
Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan Journalist Development Program 2 — bekerjasama dengan kalian di studio dan di lapangan seru! Terima kasih kepada Putri Ayuningtyas, Widya Saputra, Rory Asyari, Tommy Tjokro yang selama ini menjadi sahabat bercanda, bertukar pikiran, bertukar cerita hati.
Terima kasih kepada seluruh tim 811 Show (dulu dan sekarang) yang telah menjadi keluarga terdekat di kantor. Begitu banyak ide dan tawa kita bagi bersama dalam pertemuan mingguan dan show harian. It’s been a great pleasure working with you all. Terima kasih Adhie Pamungkas, Rastra Dewangga, Corysha, Rachmayanto, Tony Sjah, Fanny Firawati, Afrit Wira, Tian Lahiri, Ralph Tampubolon (thanks for having me on Newshow too, man!), Haruyakti Wijasena, Indriyanti Kusuma, Abadi Aulia, Prabu Revolusi, Maria Kalaij, Shinta, Zenith, Embun, Sandy, Lia, Odi, Kang Asep, Mas Arief, Bulu, Eve, Adul, dan semua anggota tim 811 Show yang tak tersebut satu per satu.
Terima kasih Dalton Tanonaka, co-anchor Indonesia Now. Lima setengah tahun lalu, saya mewawancarai Dalton untuk sebuah artikel majalah sosialita. Siapa sangka 5 setengah tahun kemudian saya bisa duduk di sebelahnya membawakan satu-satunya berita Bahasa Inggris di Indonesia. Terima kasih Dalton telah menjadi kawan dan kolega yang selalu membuat saya tertawa di sela-sela taping Indonesia Now!
Terima kasih kepada Pak Popey yang selama ini selalu mendorong saya untuk selalu berkomunikasi dengan pemirsa secara jelas dan ringkas.
Terima kasih kepada seluruh chef yang pernah berbagi resep di 811 Show serta para band Indonesia yang pernah mampir dan menghibur pemirsa 811 Show selama dua setengah tahun terakhir. Semangat kalian dalam memberikan resep dan musik terbaik ke pemirsa menjadi inspirasi bagi saya.
Terima kasih kepada seluruh rekan-rekan Metro TV dari berbagai divisi yang telah membuat masa-masa di Metro TV selama ini begitu berkesan. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan saat kita bekerjasama. Sukses selalu!
Meski pindah “rumah”, persahabatan dan persaudaraan di antara kita akan terus berlanjut. Terima kasih sekali lagi kawan!
Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pemirsa Metro TV yang meluangkan waktunya menonton 811 Show di pagi hari. Saya mendapatkan respon begitu luar biasa baik melalui email mau pun Twitter hari ini. Saya merasakan cinta para pemirsa dan saya berterima kasih sekali karena cinta pemirsa sungguh menjadi energi dan motivasi terbesar bagi saya untuk terus belajar dan berusaha memberikan tontonan media berkualitas demi kemajuan kita bersama. Terima kasih sekali lagi. Terima kasih!
Menjelang masa Praktek Kerja Lapangan ku dimulai, aku hampir tak pernah lupa menyelipkan satu lantunan kalimat penyejuk hati kepada Yang maha memiliki hidup di akhir sujudku, agar aku dijodohkan dengan perusahaan yang di dalamnya aku dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Bagiku, Praktek Kerja Lapangan ini penting untuk karirku setelah lulus nanti. Di sinilah kesempatanku untuk semaksimal mungkin ‘berburu’ perusahaan dengan kredibilitas baik agar aku memiliki nilai lebih untuk ku ‘jual’ nantinya.
Akhir pekan selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk bereksperimen di dapur. Masak apa pun untuk keluarga tercinta pastinya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita semua. Apalagi ketika melihat keluarga tercinta menikmatinya sampai piring terlihat bersih bagai tak pernah terpakai.
Akhir pekan ini, saya membuat kudapan yang cocok bagi pencinta coklat: Cocoa Rice Krispie Treats. Ini adalah kudapan asal Amerika. Pertamakali saya mendengar tentang kudapan ini saat menonton serial favorit Sex & the City beberapa tahun yang lalu. Ketika berkunjung ke rumah salah satu teman dari Kedutaan Besar Amerika baru-baru ini, anak perempuannya membuat kudapan ini sebagai teman minum teh di siang hari. Selain rasa yang menggoda lidah, membuatnya pun sangat mudah dan cepat. Untuk aktifitas keluarga, Anda pun bisa mengajak anak atau ponakan Anda untuk ikut membuat. Berikut resepnya!
Cocoa Rice Krispie Treats
Panaskan 60gr BUTTER dengan 20 MARSHMELLOW BESAR hingga meleleh. Masukkan 2 sdm COKLAT BUBUK kualitas terbaik, aduk rata hingga menyatu dan membentuk adonan lengket. Matikan kompor. Masukkan satu kotaksereal Coco Pops/ Rice Krispies, aduk rata. Letakkan dalam pinggan hingga permukaan atas rata. Tuangkan coklat meleleh di atasnya. Taburi dengan coklat bubuk. Biarkan dingin. Ketika dingin, potong-potong dan nikmati dengan segelas susu, secangkir kopi atau teh.
Selamat mencoba!
Jangan lupa panaskan teko teh. Selain susu, bagi Anda yang suka manis, bisa tambahkan gula.
Selamat mencoba!
Directed, Shot and Edited by Andrew Trigg
Salah satu yang menyenangkan menjadi seorang jurnalis adalah ketika bertemu dengan narasumber. Mereka bak buku yang hidup. Masing-masing punya kisah menarik untuk kita cerna dan kemudian refleksikan.
Minggu lalu saya sempat berbincang dengan kawan baru. Ia seorang pemilik kedai kopi trendi di bilangan Jakarta Barat. Sebut saja namanya Nyonya Lee. Yang awalnya berencana wawancara singkat tentang kedai kopi a la Baratnya, berlanjut menjadi cengkerama panjang tentang hidup hanya karena kami berdua punya kesamaan — pernah mengenyam pendidikan di Sydney, Australia.
Sambil makan sepotong kue coklat dengan krim jeruk, secangkir kopi hangat dan alunan musik jazz easy listening, mulailah Nyonya Lee bercerita. Ia bersaudara sembilan. Kebanyakan dari mereka tinggal di Australia atau negara barat lainnya. Satu per satu ia ceritakan dengan antusias. Namun keceriaannya hilang ketika bercerita tentang satu saudara perempuannya. Ia meninggal di usia 30 tahun karena kanker. “Ya. Dia tinggal di Sydney. Padahal makannya bagus. Olah raga teratur. Hidup sehat pokoknya,” kata Nyonya Lee. Melihat wajah saya yang bingung, ia menyambung kalimatnya, “tapi ya itu . . . Stress. Dengan suami dan perceraiannya.” Ketika melihat raut wajah Nyonya Lee, saya memutuskan untuk tidak menanyakan lebih detil perceraian dan sakit sang kakak perempuan.
Hidup kita memang tidak jauh dari dua macam emosi: negatif dan positif. Saat hal-hal menyenangkan bertandang dalam hidup, nikmati seakan tak ada hari esok. Ketika malang datang dan menyakiti hati, menangislah sampai rasa sakit mereda. Perasaan negatif membuat kita stress, akhirnya tidak nyaman secara fisik dan mental. Ketika kita stress, tanpa kita sadari kita bunuh diri/memperpendek hidup, karena penyakit mematikan biasanya merupakan hasil mutasi buruk yang berakar dari stress. Bicaralah pada orang terkasih atau yang Anda percaya yang bisa obyektif dan menyejukkan hati — apakah itu orang tua, pasangan, atau teman dekat. Beruntung dari curahan hati ini, muncullah solusi dari problema yang kita hadapi. Ketika hati tak kunjung tenang, ada satu cara: meditasi (sesuai dengan kepercayaan masing-masing). Carilah tempat yang tenang dan mulailah bicara pada Sang Pencipta layaknya meluapkan curahan hati dengan seorang teman lama. Hati tenang. Stress jauh. Hidup lebih lama.
Photo by: Holstee Manifesto
Menyenangkan. Itulah kata yang mungkin bisa menggambarkan Bangun Lagi Dong Lupus.
Sejak novel ini pertamakali muncul pada 1986, tulisan Hilman Hariwijaya ini langsung ‘melegenda’ di kalangan anak muda dan anak-anak yang lebih muda lagi saat itu. Kepopuleran novel Tangkaplah Daku Kau Kujitak ini langsung membuahkan film dengan judul yang sama satu tahun kemudian, dan lima film kemudian. Setelah penampilan layar lebar terakhir pada 1991, masyarakat Indonesia kini bisa kembali menikmati aura positif Lupus dalam film besutan Benni Setiawan ini.
Bangun Lagi Dong Lupus berkisah tentang kehidupan Lupus (Miqdad Addausy), si anak baru di SMU Merah Putih. Bagaikan takdir, di hari pertamanya itu ia bersinggungan dengan Poppie (Acha Septriasa). Kecantikan Poppie berkesan di hati Lupus. Namun sayangnya Poppie sudah ada yang punya. Halaman baru kehidupan Lupus tidak hanya indah dengan kehadiran Poppie, tetapi juga ada Boim (Alfie Alfandy) yang super kocak, Gusur (Jeremy Christian) yang puitis, dan Si Kutu Buku Anto (Fabila Mahadira). Layaknya anak SMU pada umumnya, problema yang mereka hadapi tidak jauh-jauh dari urusan sekolah. Poppie sibuk membuat sekolah. Lupus sibuk dalam lomba peduli lingkungan Go Green. Tapi di antara tugas-tugas sekolah ini, tentu saja ada romansa dan persahabatan yang menjadi elemen drama film ini.
Hilman menciptakan tokoh Lupus sebagai tokoh idola yang selalu membawa nilai-nilai positif. Sesuatu yang mungkin semakin ke sini semakin terkikis di kalangan muda. Ketika kita dibombardir dengan tayangan televisi penuh intrik, dengki, mata melotot dan teriak-teriak, Lupus menjadi angin segar yang menyejukkan. Ia selalu membawa nilai-nilai luhur. Lupus menjalankan tugas sekolah dengan sangat baik. Ia menghormati, menghargai dan menyayangi sesama termasuk keluarga, teman-teman, dan guru. Ia pun merupakan ‘teman tapi mesra’ Poppie yang gentleman.
Bangun Lagi Dong Lupus juga membawa nilai-nilai kesederhanaan. Jangan harap Anda melihat anak-anak SMU yang sibuk bermain smart phone. Semua karakter menggunakan HP ‘jadul’ yang hanya berfungsi untuk telepon dan sms. Kebanyakan dari mereka pun meggunakan transportasi umum atau berjalan kaki untuk mondar-mandir dari dan ke sekolah. Ketika anak muda kini menggunakan bahasa AL4Y dan ber-’beb’ ria, Gusur menggunakan bahasa yang tertata rapi bahkan puitis. Bahasa Gusur yang unik dan selera humor Boim yang super gokil pastinya mengundang tawa penonton (Alfie Alfandi tampaknya memang terlahir menjadi komedian. Setiap kali dia in-frame, tingkah polahnya tidak pernah berhenti membuat saya tertawa!)
Meski pendatang baru, Miqdad mampu menghadirkan penampilan yang natural ketika beradu akting dengan aktris Acha Septriasa. Miqdad tampaknya memiliki bakat alami sebagai aktor. Selama beradu akting dengan lawan mainnya, siapa pun itu, Miqdad tidak pernah melepaskan pandangan dari mereka. Inilah yang menjadi alasan mengapa mimik wajah dan reaksi Miqdad realistis. Chemistry antara seluruh aktor utama dan pembantu terjalin baik.
Kehadiran sejumlah cameo menjadi kejutan manis bagi penonton. Aktor Didi Petet, Firda Razak, Cici Tegal, Debby Sahertian, Ira Maya Sopha, Dedi Mizwar dan sang produser Eko Patrio membawa kita pada masa keemasan pertelevisian Indonesia di tahun 90an. Penampilan mereka sedikit, namun sangat mengesankan. Membuktikan bahwa talenta tulen takkan lekang oleh waktu.
Hilman mengingatkan kita mengapa Lupus begitu sensasional. Bersama Benni Setiawan, Hilman meramu dialog sederhana yang cerdas, lucu dan mengena. Gaya suntingan yg pas juga membantu menciptakan momen-momen lucu dalam film ini.
Bangun Lagi Dong Lupus memang berlangsung pada jaman sekarang. Namun era 80an uniknya terasa. Penggemar Lupus dapat bernostalgia. Sementara penonton baru akan jatuh hati dengan karakter Lupus dan kawan-kawannya. Keluar bioskop, saya puas dan berharap. Puas telah menonton film berkualitas yang sangat menghibur, dan berharap makin banyak film Indonesia berkualitas berjaya di negeri sendiri juga.
Beberapa waktu lalu, saya pernah men-tweet pentingnya pendidikan demi menjaga kestabilan ekonomi. Ada yang setuju, ada yang tidak. Namun ada satu komentar yang membuat saya berpikir. Ia mengatakan bahwa jaman sekarang susah cari kerja meski memegang gelar sarjana. Kemudian saya membayangkan, jika saya menjadi kepala Human Resource Development (HRD) sebuah perusahaan, apalagi kalau perusahaan itu “seksi” atau menjadi target banyak fresh graduates, saya pasti akan menerima ratusan bahkan mungkin ribuan CV dalam sebulan. Saya tidak akan punya waktu untuk benar-benar membaca seksama setiap CV di meja dan akhirnya banyak lulusan baru yang menganggur. Lalu bagaimana kita bisa membuat CV kita menarik perhatian sang kepala HRD? Mungkin saya boleh berbagi sedikit bagaimana membuat CV yang mudah dibaca, alhasil eye-catching.
Yang jelas, sebuah CV harus mampu menunjukkan kita adalah orang yang tepat untuk posisi yang kita incar. CV juga harus bisa menunjukkan kita punya pengalaman, kualifikasi dan keterampilan yang berguna untuk melaksanakan jabatan itu.
Tubuh CV terdiri dari:
Personal Profile adalah keterangan singkat mengenai diri kita, apa harapan dan yang bisa kita tawarkan jika kita diterima bergabung dengan perusahaan ini.
Work Experience adalah pengalaman kerja kita selama ini. Jika kita baru lulus, namun saat kuliah punya pengalaman kerja part-time atau keorganisasian, bisa kita tulis di sini.
Education & Qualifications adalah latar belakang pendidikan kita (formal dan informal). Jangan lupa cantumkan prestasi (IP, atau penghargaan yang kita terima selama menjadi mahasiswa/i). Cantumkan juga judul skripsi apabila relevan dengan jabatan yang kita incar.
Skills adalah kemampuan yang kita dapatkan dari kursus.
Reference adalah orang yang pernah bekerjasama dengan kita dan dapat memberikan testimoni mengenai kualitas dan etos kerja kita jikalau perusahaan membutuhkan background check mengenai kita.
Penggunaan Bahasa: jelaskan kontribusi nyata Anda di setiap bagian CV. Misalnya:
Anda pernah menjadi penyiar di kampus Anda selama 3 tahun. Anda ingin melamar menjadi penyiar di sebuah radio hits di Jakarta. Cara menulis:
2000-2003 | Penyiar Radio Hits
Saya memproduksi tiga acara baru untuk Hits Radio dalam waktu tiga tahun di kampus saya. Saya menjadi produser, DJ, guestbooker, dan sound editor selama menjabat. Saya juga delapan liputan seputar Java Music Festival yang saya rekam di lapangan, edit dengan ProTools.
Dan yang paling penting: CV kita harus jujur!
“Kalau flu paling pas makan sup ayam.” Begitulah kira-kira isi tweet hari ini sambil berbagi resep sup ayam a la Barat favorit hasil iseng-iseng Googling. (Google. Penemuan yang sangat menyenangkan dan super berguna di era modern seperti kini. Banyak resep-resep OK tanpa harus beli buku atau pun mengorbankan pohon-pohon demi mencetak buku resep!)
Kembali ke topik, twitter entry kali ini mendapatkan berbagai tanggapan dari para follower terkasih. Salah satu tanggapan menggelitik datang dari Yuli Metri.
“Hobinya masak dan makan-makan. Tapi kok kurus ya?”
Terima kasih atas komentarnya Yuli.
Pertanyaan ini kerap juga muncul baik dari rekan kerja di kantor, sesama personel media di lapangan, dan teman-teman dekat. “Kemana saja makanan yang baru saja kamu makan?” kurang lebih seperti itulah tanggapan mereka (salah satunya rekan Rory Asyari) ketika melihat saya melahap makan siang sepuluh tusuk sate ayam, sepiring nasi dan semangkuk bakso bihun di warung “Maknyus” di sebelah gedung kantor.
Apa rahasianya?
Selain seni, saya sangat menikmati makanan. Makanan adalah salah satu dari sekian banyak kenikmatan terindah yang Tuhan berikan kepada manusia. Untuk itu, saya kerap mementingkan kualitas dari kuantitas. Kalau makanan enak, meski hanya satu porsi, nikmatnya memuaskan dan membuat hati senang.
Bagaimana dengan pola makan?
Saya sangat jarang sarapan di rumah di pagi hari. Berat rasanya menyiapkan sarapan saat mata mengantuk sementara harus menyeret diri keluar rumah untuk memulai hari, mempersiapkan 811 Show. Beruntung breakfast show ini hampir selalu menghadirkan chef dengan berbagai keahlian untuk membagi “Resep Hari Ini” bagi pemirsa kita. Jadi waktu icip-iciplah menjadi “ajang” sarapan saya di pagi hari. Itu pun biasanya hanya satu (kadang dua atau tiga) sendok, atau semangkuk. Cukup untuk bertahan hingga makan siang.
Nah, makan sianglah menjadi waktu tepat untuk menikmati makanan dalam porsi normal (atau lebih, tergantung tingkat kelaparan hari itu). Jangan makan terburu-buru. Nikmati setiap suap, aroma dan rasa makanan itu. Ketika piring Anda bersih, Anda tidak hanya kenyang namun juga bahagia dan puas. Biasanya kalau makan dengan porsi mengenyangkan di siang hari, Anda pun akan kenyang lebih lama.
Saat kenyang lebih lama inilah Anda bisa memutuskan akan makan malam atau tidak. Ketika masih kenyang, saya biasanya memilih makanan yang ringan. Apakah itu salad, sup ayam dan sayur, buah (apel, pisang, kiwi, rambutan, mangga . . . apa saja, kecuali duren lho ya), yoghurt buah, atau segelas susu (rendah lemak bisa menjadi pilihan). Kata spesialis gizi klinik dr Fiastuti, protein itu bisa membuat kenyang lho.
Saya pun mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak berlebihan. Bukan karena takut gemuk, melainkan lebih kepada ingin hidup sehat dan tentunya (semoga) hidup lebih lama. Ayah saya menderita diabetes (otomatis saya enam kali lebih rawan terkena diabetes). Sementara ibu darah tinggi. Konsumsi lemak jenuh dan tak jenuh pun seringkali cepat membuat kepala pusing. Gejala-gejala kecil tak mengenakkan itulah sebetulnya sensor tubuh kita yang ada baiknya kita dengarkan.
Dan satu lagi, olah raga. Pilihlah olah raga yang Anda sukai. Ada sebagian yang suka berlari di treadmill, ada yang suka di Gelora Bung Karno. Namun ada juga yang menganggap berlari itu membosankan. Banyak pilihan olah raga namun saya paling suka ikut kelas dengan dasar menari. Pada 1991 hingga 1998, saya menghabiskan dua hari dalam seminggu menari balet sambil asyik terbuai lantunan musik klasik. Menari membuat saya bahagia. Nah, kalau bisa bahagia sekaligus sehat, mengapa tidak?
Inti dari semua ini adalah selalu nikmati apa yang kita lakukan dalam hidup, sekecil apa pun itu, dan kita akan hidup lebih bahagia.
“Keyakinan itu bagaikan burung yang merasakan cahaya dan bernyanyi ketika subuh masih gelap” – Rabindranath Tagore
Punya kesempatan untuk hidup itu adalah hadiah terindah bagi manusia. Bayi terlahir bagaikan kertas putih. Pengalaman hidup yang naik turun adalah guratan tulisan yang mengisi “buku kehidupan” kita.
Pengalaman hidup itu seperti sebuah koin. Pengalaman indah bisa membuat manusia makin indah. Namun pengalaman yang terlalu indah bisa membuat manusia lupa diri. Sementara pengalaman buruk bisa menjerumuskan seseorang ke hidup tersiksa dan sedih tak berujung. Namun juga bisa membuat seseorang kuat menjalani hidup dan membagi kekuatannya dengan mereka di sekitarnya. Dua sisi pengalaman hidup inilah yang membentuk karakter, membantu menempatkan dan menentukan bagaimana kita berinteraksi di masyarakat.
Setiap orang pasti mengalami tingkat tantangan hidup yang berbeda-beda. Seberapa pun beratnya tantangan hidup, jangan pernah biarkan kesedihan, amarah dan keputus-asaan merundung terlalu lama. Karena ketika kita membiarkan energi positif menang dalam diri, hal-hal baik pun akhirnya akan datang.
“Faith is the bird that feels the light and sings when the dawn is still dark.” – Rabindranath Tagore