(Tidak Sekedar) Teater

Teater tidak hanya panggung kayu tempat aktor berdiri, berbicara dalam sorotan lampu.

Teater adalah sebuah kanvas. Kanvas tempatku “melukis” bentuk dan warna yang menggambarkan kehidupan yang akan, mungkin, atau terlanjur terjadi.

Ku mainkan sebuah karakter yang bukan diriku, namun dari dalam diriku.

Kutenggelamkan pikiran, emosi dan tubuh ke dalam naskah, merasakan kehidupan yang mungkin telah berlalu, atau takkan pernah kurasa.

Di panggung teater, ku rasakan indahnya seni peran, mendalami rasa yang lahirkan empati dan pengertian bahwa hidup tidaklah selalu hitam atau putih. 

 

On Sadness & Hope

It’s that heat in your stomach. It’s that break in your heart that pushes, demands for tears for it to heal. It’s that confusion in your mind, the confusions that bounce off the wall of your skull like a pinball going rampant. It’s that desire to find a light, that peace, the breeze that will soothe a burning soul. It’s a slow burn all right . . . slow but, I’m so afraid, could eventually lead to one’s demise.

It’s not the demise of the body I worry so. It’s the demise of a jubilant spirit that used to prance around me with such glee; that used to blanket my existence, telling me that it is all all right. Bathe me with light and I shall live again.

On Making Decisions

You are the one who knows how you feel and how to deal with what you’re feeling. You “talk” to yourself, you talk to others, you listen to others, then you talk to yourself, and finally you listen to yourself: your conscience — the God-given “friend” we are all born with. With conscience (and logic), humans make decisions in their lives, either it’s easy decision or tough ones. Whatever it is, making decisions requires (at times, a lot of) thinking, considering and reconsidering. And when something doesn’t feel right in your life, you know it. You feel it. And then you experience this urge to make it right. To keep you “right”. We, humans, go through different ways before making a decision. I’ve always been a thinker, a feel-er.  And when something does not feel right, I think about it. I can let it sit for days, for weeks, for months, however long I need. Then I test it with my heart again, and again and again. I scale it, measure it, taste it, think it, think some more, feel it and finally . . . I come to a decision.

Kenapa Sih Harus Bohong?

Saya kerap tidak mengerti kebiasaan orang berbohong. Bohong — apakah itu besar atau kecil — dua-duanya sama sama mengesalkan. 

Contoh: Janjian bertemu dengan seseorang. Namun si seseorang membatalkan pertemuan dengan alasan sakit. Pada nyatanya, seseorang ini ternyata ke-”gep” di sebuah, semisal, coffee shop dengan orang lain. Ketika tertangkap, alasan yang keluar dari mulutnya adalah “Oh iya, kemarin saya bilang saya akan ketemuan sama Si Anu karena Si Anu akan ke Singapura keesokan harinya. Maaf sekali mungkin penjelasan saya kurang jelas ke Anda.” 

Padahal alasan yang dia kemukakan sehari sebelumnya adalah: “Sakit.” (Sudah tertangkap basah pakai nge-les pula.)

Bohongnya masuk kategori kecil. Tapi sama menyebalkannya khan? 

White lies. Kebohongan putih. I don’t get it. 

Kenapa kita harus membuat-buat alasan ketika fakta sebenarnya lebih masuk akal? Karena kejujuran itu, sebagaimana pun buruknya, akan selalu jauh lebih dari daripada kebohongan. Ketika kita mendengar realita yang mungkin menyakitkan, tapi realita ini keluar dari mulut seorang yang jujur, setidaknya kita masih bisa menghormati atau bahkan mengagumi keberaniannya mengungkap sesuatu yang sulit namun jujur. Namun kalau berbohong, yang ada malah kita jadi kehilangan respect pada Si Pembohong Putih ini. 

Kepercayaan adalah sesuatu yang sulit kita dapatkan. Karena kepercayaan hanya terbentuk seiring berjalannya waktu dan dari konsistensi. Dan untuk konsistensi terbukti, butuh waktu. Dan ketika kita konsisten, reputasi lahir. Baik buruknya reputasi lagi-lagi tergantung pada kebiasaan atau habit kita. 

Lalu, apakah kita mau mengorbankan reputasi terpercaya hanya karena sebuah “kebohongan kecil”? 

 

Selesaikan Masalah dengan “Yang Bermasalah”

Sosial media bagai pisau bermata dua. Sebagian pengguna menggunakan secara berguna — apakah untuk promosi, jual beli atau berikan inspirasi. Namun ada sebagian yang menggunakannya untuk “menggantung cucian kotor” alias selalu mengeluh bahkan menjelekkan orang lain di depan publik.

Penggunaan #2 inilah yang tidak pernah saya mengerti hingga kini.

Barusan membaca entry sosial media seseorang. Isinya: “Ga pernah happy sama suami yang keluar malam dengan alasan nemenin teman makan malam. *penting banget*”

Sementara sang suami nge-post fotonya bersama sang teman yang sudah ia kenal sangat lama yang sedang butuh sesi curhat. Pakai geotagging lokasi pula. Jelas untuk meyakinkan sang pasangan bahwa dia tidak “ngapa-ngapain”.

Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga mereka, saya percaya pada satu hal. Jika ada problema dalam rumah tangga atau apa pun itu, saling bicara ke satu sama lain, bukan malah curhat tidak karuan ke sosial media. Memang kalau “curhat” ke sosial media masalah selesai?

Dalam hubungan apa pun — mau itu pertemanan atau pernikahan — menggumbar borok pribadi ke ranah publik bukan hal bijak dan tidak menyelesaikan masalah. Jika ini terjadi, liang masalah malah makin membesar. Perpecahan pun perlahan namun pasti takkan terelakkan.

Lagi-lagi, saya jadi bertanya pada diri sendiri:

Kita kerap takut konfrontasi, sebar amarah ke publik yang menambah kontroversi, alhasil buat masalah makin bengkak tak terkendali? Ini jelas bukan solusi. 

Manusia Memuakkan!

Makan siang yang seharusnya nikmat menjadi memuakkan ketika saya melihat seorang anak berusaha merekam/memfoto seorang anak lelaki gemuk – mungkin berusia 10 tahun – yang sedang menangis meraung karena diledek saudaranya. Sang perekam pun adalah anak lelaki seumuran berkacamata yang ternyata saudara kandung si bocah gemuk yang sedang tersiksa.

 

Saudara kandung mempermalukan saudaranya sendiri di tempat umum. Mungkin dia berpikir, betapa “keren”nya jika ia bisa mem-posting video/foto “Si Adik Cengeng” di sosial media, di Facebook? Twitter? Apa pun itulah dimana tombol LIKE menunggu untuk dipencet. Inikah generasi baru kita? Generasi yang terpapar kecanggihan digital, terpapar dampak negatif sosial media yang mendorong narsisisme — mencari popularitas di atas penderitaan orang lain – hanya demi mendapatkan belasan, puluhan, ratusan atau ribuan tombol LIKE?

 

Dangkal!

 

Yang lebih mencengangkan, di antara dua ‘preman’ kecil dan anak yang dipermalukan, ada lebih dari 5 orang tua yang tidak melakukan apa-apa ketika sang preman menjadikan saudara kandungnya sendiri korban bual-bualan hingga menangis kesakitan di depan publik. Mereka semua hanya menunduk, meneruskan makan seakan tak terjadi apa-apa. Seakan tak peduli apakah kericuhan ini mengusik kenyamanan tamu lain atau tidak.

 

Apakah karena budaya timur yang “mengedepankan” budaya malu sehingga lebih baik menyelamatkan wajah sendiri daripada mengakui ketiga anak “liar” ini sebagai bagian dari mereka?

 

Dua hal ini sungguh memuakkan!

 

Tanpa bermaksud rasis, keluarga disfungsional ini kebetulan berdarah Tionghoa. Saya pun berdarah Tionghoa. Ketika itu pun saya tersadar, teringat ketika kecil saya sering di-bully keluarga – oleh nenek saya sendiri, berdarah Tionghoa. Ketika saya menangis, nenek mengejek saya memanggil saya “Terompet!”. Saya menangis semakin keras. Dan makin keras saya menangis, ia semakin memanggil saya “Terompet!!” dan bibi saya pun ikut-ikutan meledek. Sekali lagi, tanpa bermaksud rasis sama sekali, saya jadi bertanya pada diri sendiri, apakah memang ini termasuk cara ampuh dari budaya ini untuk ‘mendidik’ anak? Ataukah ini memang budaya “Timur” secara umum? Ataukah kebetulan saja?

 

Kalau boleh mengemukakan pendapat pribadi, anak adalah tanggung jawab besar. Jika memang tidak siap dan tidak mengerti cara mendidik anak, jangan punya anak. Jangan hanya karena tekanan keluarga untuk berkeluarga, kita jadi salah kaprah — membesarkan anak tanpa tahu betul cara mendidik dan mendisplinkan mereka secara sehat. Ini hanya akan melahirkan generasi baru tanpa empati.

 

Kita adalah Manusia yang seharusnya merasa bangga ketika berbuat baik tanpa harus menunjukkan ke publik kita telah berbuat baik. Kita adalah Manusia yang merasa bahagia ketika orang yang kita sayangi bahagia. Kita adalah Manusia yang mampu berempati dan menyejukkan hati yang remuk. Kita adalah Manusia yang memberi cinta, kasih sayang dan ketenangan ketika orang tersayang menitikkan air mata.

 

Kisah ini untungnya berakhir baik. Seorang tamu, lelaki berusia 40 tahunan, mendatangi meja keluarga disfungsional ini dan dengan tegas memaksa preman preman kecil menghentikan perbuatannya. “Stop! STOP! Kamu bangga merekam tangis adikmu dan memamerkannya ke teman teman di sosial media?! Kamu bangga?! Kita manusia. Mampu berpikir. Mampu berempati. Pikirkan! Bertindaklah sebagai manusia. Jangan seperti binatang!” tegasnya. Ia memarahi sang preman. Nah giliran sang preman yang dipermalukan. Sang pria pun kembali ke mejanya, meneruskan makan sambil terus mengawasi dan memelototi preman preman kecil, memastikan ia tidak mengulangi perbuatannya.  Tak lama ketika itu, barulah salah satu anggota keluarga dewasa mulai ‘mendidik’ ketiga anak ini, memarahi – memberikan pengertian — layaknya orang tua seharusnya ketika anak berlaku salah. Selesai makan, mereka meninggalkan restoran. Ibunda sang anak melambaikan tangan kepada sang pria 40 tahun dan pria pun mengangguk. Apakah keluarga disfungsional itu akan menjadi fungsional akibat kejadian ini, hanya Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya, mereka kini sedikit mengerti apa itu menjadi Manusia.   

 

Dan satu lagi, STOP BULLYING!

Rasa & Syukur

Waktu kecil, sekecil apa pun sesuatu, terasa begitu hebat dan mengagumkan. Ketika dewasa, sesuatu yg luar biasa tidak selalu terasa luar biasa. Mati rasa. Dan demi merasa, selalu mencari yg lebih dan lebih lagi. Bagai tak ada batas, kepuasaan manusia. Apakah terkadang kita berharap bisa kembali ke masa lalu? Kembali miliki tubuh, kepala dan jari-jari kecil yang mampu meraba dan merasa, yang biasa menjadi luar biasa. Ketika kembali merasa, manusia bersyukur. Dan ketika bersyukur, manusia bahagia.

Swing With Marissa Anita

Originally posted on Blog Komunitas Fans News Person:

Kemarin Marissa Anita menjadi bintang tamu di ‘The Lady Who Swings’ Hardrock FM. Obrolan lengkapnya akan saya unggah kapan-kapan. Info terbaru dari obrolan kemarin adalah Marissa Anita sekarang sudah pindah dari Metro TV ke stasiun televisi baru NET.

Sementara ini, nikmati dulu Marissa Anita ber-swing.

Diakhir acara, dia ber-swing bareng penyiar Hardrock FM Aimee Saras.

Benar-benar berbakat penyiar berita yang satu ini!

View original

Kematian dan Ketulusan Cinta

Kematian seorang teman. Tak dekat. Beberapa kali bertegur sapa. Namun hanya sekali bercengkarama. Ringan namun pribadi. Dalam dan mengesankan. Hari ini, sang teman, jurnalis Djafar Assegaf meninggalkan keluarganya, koleganya, dan sebuah kesan malam itu. Malam dimana ia bercerita tentang kisah hidupnya. Pernikahan dengan seorang wanita Eropa yang tak disukai ibunya.

Pada tiap orang, ada yang ia bagi, ada yang ia simpan untuk dirinya atau hanya untuk rekan yang mengerti dan mau mengerti rahasianya. Semua itu ia tuturkan dengan bahasa Indonesia dengan intonasi Belanda. Bunyi yang mengingatkan pada era perjuangan, era di mana bangsa mengerti nasionalisme yang internasional. Elegan.

Di antara matahari pulang dan bulan menjemput malam, hangat air mata tiba-tiba membelai pipi. Bagai ada dua jiwa dalam dada. Yang satu sesak karena kepergian seorang teman. Yang satu sesak karena sang teman yang telah pergi mengingatkanku pada kehidupan yang fana. Bahwa suatu hari ku kan terpisah dari mereka yang kucinta. Cepat atau lembat. Kepastian ini membuatku gundah.

Meski ku berusaha menahan, derasnya air mata mulai mencekik hingga akhirnya ku bersimpuh di pelukannya dan katakan “ku sungguh tak bisa hidup tanpamu”.

Dia yang sungguh kucinta dan cinta aku dengan segala ketulusannya.

Kematian, mengingatkanku untuk jangan pernah menyia-nyiakan mereka yang memberi ketulusan cinta. 

Segudang Pertanyaan Demi Kemajuan Bangsa

Pagi ini saya gunakan untuk membaca peristiwa-peristiwa terkini yang terjadi di bumi pertiwi. Tampaknya laman seluruh kantor berita Indonesia tidak pernah sepi dari berita kasus korupsi. Dari Kasus Bank Century (biaya bailout 600M bengkak menjadi 6T dan fakta terbaru setelah KPK memeriksa mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani) hingga PKS (Kasus Impor Daging, Ahmad Fathanah dan orang-orang yang terkait dengan Fathanah yang ternyata terlibat beberapa kasus korupsi, hingga PKS meminta tegas KPK membuka kembali kasus Century — Mmm, apakah ini masalah saling serang antar partai menuju 2014?).

Media tak henti menyuapi para pembaca/masyarakat dengan kasus korupsi dan tingkah polah para koruptor hingga muak dan muntah. Media mungkin berharap semakin muak masyarakat, semakin masyarakat tidak lagi bisa mentoleransi tindak tanduk para koruptor, semakin urgen lahirnya penegakan hukum 100% adil di negara ini sehingga negara kita akhirnya bisa menjadi negara yang maju karena masyarakatnya kebanyakan atau sepenuhnya sejathtera. Kapankah Indonesia bisa menjadi negara yang betul-betul menyayangi masyarakatnya. Pikiran saya tergelitik sehingga menelurkan sejumlah pertanyaan ini. . .

Pertanyaan Demi Kemajuan Bangsa: YA/TIDAK?

  • Apakah regulasi/ Undang-Undang sudah bersih kepentingan yang berkuasa?
  • Apakah penegakan hukum sudah berjalan semestinya?
  • Apakah penegak hukum kita sudah 100% netral dari pengaruh siapa pun yang berkuasa?
  • Mungkinkah suatu negara memiliki penegakan hukum yang 100% netral dari kekuasaan apa pun?
  • Apakah sebagian besar politisi (pemerintah dan anggota parlemen) Indonesia sudah betul-betul kompeten dan memiliki integritas tinggi dalam menjalankan tugasnya?
  • Apakah sebagian besar politisi (pemerintah dan anggota parlemen) Indonesia sungguh-sungguh duduk di kursi berpengaruh mereka mengemban dan memperjuangkan kepentingan rakyat?
  • Apakah sesulit itu memperjuangkan kepentingan rakyat ketika kita masuk dalam dunia perpolitikan Indonesia?
  • Seberapa bersih atau kotor politik di Indonesia?
  • Seberapa kuat politisi yang bersih di Indonesia dalam bermanuver demi mendorong kepentingan rakyat banyak?
  • Seberapa kuat politisi kotor (tidak kompeten dan potensial koruptor) di Indonesia dalam bermanuver demi membuat regulasi yang menguntungkan pihak-pihak yang berkuasa atau berduit?
  • Bisakah Indonesia bersih dari korupsi?
  • Kapankah Indonesia bisa bersih dari korupsi?
  • OK. Kalau mau kompromi, kapankah Indonesia bisa 90% bersih dari korupsi?
  • Apakah korupsi memang budaya Indonesia? Kalau kita tilik dari sejarah, apakah budaya pemberian upeti Indonesia menjadi akar korupsi?
  • Dimanakah hati nurani para politisi/pejabat negara korup saat ia rakus makan uang yang semestinya mereka gunakan untuk kesejahteraan rakyat banyak?
  • Apakah para politisi/pejabat negara korup punya hati nurani?
  • Apa yang ada di pikiran dan hati para koruptor saat menikmati makanan/jalan-jalan/fasilitas yang ia bayar dengan “uang panas”?
  • Apakah Indonesia sudah memiliki pemimpin yang mampu berempati, sungguh menyayangi, mau dan mengambil keputusan-keputusan yang mensejahterakan rakyat?

Saya yakin masih banyak segudang pertanyaan masyarakat untuk melengkapi sejumlah tanda tanya di atas. Tapi yang jelas, saya sungguh berharap sebelum saya menghembuskan nafas terakhir, saya bisa melihat Indonesia yang lebih baik dari sekarang. Demi kelangsungan dan keberlangsungan hidup anak cucu kita.

Amin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 239 other followers