Menemukan Cinta Kembali

Menemukan cinta kembali. Mungkin ini menjadi salah satu cerita yang ku paling senang dengar dari lingkaranku.

Kerap turut sedih ketika melihat raut wajah yang abu dari mereka yang berkisah tentang hatinya yang pecah berkeping karena ditanggalkan sosok cinta yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Pecahan hati mengalir di pipinya, jatuh ke dalam cangkir kopi yang telah dingin karena lupa diminum sementara kisah sedih terus mengalir dari bibirnya.

Perempuan Yang Satu berbagi kisahnya tentang cinta yang semakin lama semakin tidak mungkin. Cinta antara tiga insan yang berakhir dengan pilihan terakhir. Pilihan terakhir yang ditandai perpisahan dalam dinginnya salju di Prancis sana Natal lalu.

Perempuan Yang Lain berbagi kisahnya tentang cinta yang semakin lama semakin tidak mungkin. Dalam kasih yang terbangun empat tahun, yang satu mengira mereka selalu menapak pada jalan yang sama. Yang satu tak dinyana menapak semakin jauh dari jalan yang mereka pernah lalui bersama. Bukan salah siapa-siapa, mereka hanya tumbuh menjadi insan yang berbeda dan menginginkan hal yang berbeda. Meski begitu, bukan berarti perpisahan ini mudah, setidaknya tidak demikian bagi yang ditanggalkan. Ku masih ingat meminjamkan telingaku untuk menampung air matanya.

Masih kuingat raut wajah Lelaki Yang Satu saat ia tunjukkan hatinya yang remuk ketika perempuan yang akan dilamar memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Kesedihannya mengubah cara ku memandang lelaki. Dulu (mungkin dengan bodohnya) ku pernah berpikir bahwa lelaki tidak bisa pecah hatinya. Namun ketika ku lihat wajahnya yang abu, matanya yang sayu, dan bahasa tubuh yang layu, ku tahu ku salah. Dan di hari itu pun aku pinjamkan telinga dan empatiku pada ia yang berduka dan ingin lari dari pahitnya putus cinta.

Ah… kisah cinta yang kadaluarsa, kisah berpisah yang paling sulit didengar, dicerna dan terkadang sulit dilupa. Satu hal yang kubaca dari raut mereka adalah seakan mereka tidak bisa hidup tanpanya.

Musim berlalu dan mereka perlahan menapak meninggalkan duka.

Di pertengahan tahun ini, Perempuan Yang Satu menemukan cinta kembali di pantai pulau dewata. Dua orang dari negara berbeda kebetulan berpijak di pasir yang sama, melihat angkasa yang sama, dan saling menyapa. Pendek cerita, mereka kini bersama berlabuh antara Indonesia dan Australia. Wajah temanku ini kini penuh senyum. Ku pun tersenyum seakan bisa merasakan bahagianya.

Pagi ini, Perempuan Yang Lain bertelepon denganku dan dari suaranya terdengar langkah semangat. Dia berkata ‘Ku punya kekasih baru.’ Sepertinya aku orang pertama yang tahu karena ia langsung berkata ‘Jangan kau berani berani beritahu ayah ibuku. Biar ku cerita sendiri’. Aku pun setuju sambil tertawa geli. Tawa geli yang muncul bukan hanya karena permintaannya, tetapi juga bahagia karena ia tak lagi bersedih sendu.

Lelaki Yang Satu akhirnya memutuskan lari dengan berlari. Dari marathon hingga bukit ia tapaki, dari negara yang satu ke yang lain. Menenggelamkan diri untuk melupa cinta yang lama.

Kisah mereka mengingatkan ku pada satu buku dari filsuf modern Alain de Botton ‘Essays in Love’. Di usia 20an, Alain bercerita tentang fase jatuh cinta, putus cinta, merana, dan menemukan cinta kembali.

Menemukan cinta kembali… mungkin bagi sebagian tidak sesederhana yang sudah tertutur barusan. Karena pasti di luar sana ada mereka yang tak lagi bisa temukan cinta baru karena tahu hatinya hanya bisa tertambat pada satu.

 

A Love Letter to Manhattan

Dear Manhattan,

If everything goes well, I will see you again soon.

It’s been how many days has it been? One year and six months, eighteen months, seventy-two weeks or approximately five hundred and fourty-ish longing days since we last saw each other.

Thanks for letting me step and hop on a windy day on Brooklyn bridge on my birthday. Thanks for blowing light snow on my blue coat and stripy wooly hat as I walked your Central park. Thanks for introducing me to my first acai berry bowl at the petite Pause Cafe at your Lower East Side. Thank you for the parades of great coffees in the morning and post-lunch afternoon at Abraco in East Village, Stumptown in the famous slim and gloriously erect Flatiron and Blue Bottle in Chelsea. Oh that scrumptious teeny little donuts at Chelsea market? Thanks for that too. Doughnuttery after a pleasant sushi lunch at Lobster Seafood Market (Est. 1974) wasn’t it?

It was a spring full of birthday gifts it was. I walked the Highline with my blonde bombshell Polish Chicagoan friend Shazy-Z. I sat on the bench by Hudson River. Stepped on the pebbles of Meat Packing District where some scenes of Sex and the City took place. I barely shed sweat on that walk, but I guess it was still good enough reason to drop by Gansevoort Market for one of the best chocolate-loaded gelato I have ever had. Yes I relish good food, always.

Back to sex, yes, Sex and the City (tour) was what I had, from picking up that richly-iced cupcake that Carrie and Miranda shared on their walks from Magnolia Bakery on Bleecker St, Steve’s bar on (supposedly) Mulberry St to Pleasure Chest on 7th Ave where Charlotte York discovered her ‘new found friend’ that kept her voluntarily locked in her bedroom for days, the bunny vibrator.

Thank you Manhattan, that Sex was good.

The pleasure escalated when I saw Village Vanguard, the oldest jazz club in New York conveniently steps away from 7th Ave’s sexy shop. Miles Davis used to hang and jam in this dark bar. I bet you it used to be smokey (though now no smoking indoors in New York), moody and cinematic. Decades forward, moody and cinematic still it was when I sat in that corner bobbing and shaking my head and tapping my fingers as the trumpets, saxophone, and the piano played. Of course with the company my pink Cosmopolitan.

Manhattan, if everything goes well, this time I will see you in November. As I close my eyes, I already see your beautiful face as your leaves fall. Orange, red, brown, whatever mood you are in, you stay gorgeous to me.

Ah Manhattan, wait for me, will you?

Homesick: Rindu Rumah?

Homesick. 

Kata ini dalam pemahaman pribadi artinya kerinduan terhadap negara kita berasal, tanah kelahiran, dan segala aspek kehidupan yang ada di dalamnya.

15 hari sudah saya tinggal di kota kecil berpenduduk sekitar 60,000 orang di Loughborough Inggris Raya. Saya curiga, kok semakin bertambahnya hari malah semakin nyaman? Kapan ini homesick menyerang?

Di kepala saya sering muncul pertanyaan-pertanyaan. Seperti biasa, saya langsung telaah pertanyaan dan rasa ini. Saya potong-potong, cacah, amati dan muncullah buih-buih pikiran berikut:

“Saya tidak/belum homesick karena . . .”

  • Saya lahir di Indonesia tetapi selama ini cenderung merasa sebagai ‘Warga Negara Dunia’ atau ‘A Citizen of the World’. Penduduk dunia dengan otak paling canggih adalah manusia. Orang Indonesia, Inggris, China, Vietnam, Jerman, Austria, Prancis dan lainnya adalah manusia. Yang membedakan kita semua hanya bentukannya (warna kulit, warna mata, tinggi badan — segala sesuatu yang biasanya kasat mata). Namun karena kita semua adalah manusia, kita punya bahasa yang sama yakni ‘bahasa rasa’. Jadi dimana saya ditempatkan, selama saya membagi bahasa rasa yang sama dengan penduduk dunia lainnya, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mulai merasa seperti di ‘rumah’ sendiri.
  • Dalam kehidupan, saya pakai kacamata ‘ingin memahami’ bukan ‘menghakimi’ atau saling curiga. (Ironis memang kalimat yang baru saya tulis ini. Di saat kita bicara tentang memahami, Inggris Raya sedang memutuskan apakah akan keluar atau tidak dari Uni Eropa. Sejumlah media Inggris juga kerap mengaitkan kata Brexit dan (anti) imigran dalam sejumlah berita. Begitu pula dengan kandidat presiden dari Partai Republikan Donald Trump yang dalam kampanyenya selama ini menjual retorika yang tidak ramah pada penduduk imigran di Amerika Serikat.) Meski begitu, saya kekeuh pakai kacamata pilihan saya, membuka pikiran, dan mungkin karena itu proses adaptasi di negara baru menjadi lebih mudah.
  • Tidak homesick bukan berarti tidak nasionalis. Malah bisa jadi nasionalisme sehat tumbuh sumbur. Teman-teman mahasiswa bertanya dari mana saya berasal? Ada yang mengira saya dari China (hampir 2/3 mahasiswa internasional di departemen ilmu sosial datang dari China. Mungkin karena rambut dan mata saya segelap teman-teman dari negeri bambu ini); ada yang mengira dari Malaysia (memang betul kami sama-sama Melayu); ada si Angus McCalister, kolega asal Manchester, berusia 20-an yang bingung mereka-reka kebangsaan saya. Katanya: “Kamu bukan dari China. Bahasa Inggris-mu kental beraksen Amerika Serikat. Kamu jadi dari mana?” Saya jawab dengan senyum lebar: “Indonesia.” Dan setiap kali saya sebut “Indonesia”, rasanya seperti tersambar Anging Mamiri. Sejuk betul.
  • Setiap hari mendapat pengalaman baru dan ini sangat asyik. Yah, namanya juga anak baru, ada-lah kejadian salah ambil arah pulang, salah naik bus (pengalaman yang setiap diingat membuat saya tersenyum simpul geli melihat tingkah polah sendiri seperti ini), jalan kaki dalam setiap kesempatan (mumpung banyak trotoar), mata kuliah yang tiap minggu menyuapi dengan bacaan bejibun (sampai kedua mata ini mabuk kata dan kalimat), dosen yang asyik jadi memotivasi memutar otak (sampai otak panas terbakar!), dosen yang kadang menggoda rasa kantuk, rumah baru, empat musim dan temperatur udara yang dinginnya tidak pernah gagal membangunkan raga ini.

Yah, memang baru 15 hari di sini dan pasti ada yang bilang “Itu mah baru sebentar. Lihat saja nanti setelah beberapa bulan.” Bisa jadi?

Tapi untuk sekarang, saya sudah merasa tinggal di negara yang sambutan dan dekapannya senyaman rumah sendiri.

Hari ke 6: Dingin Hangat ‘Rumah’ Baru di Loughborough

Day 6

Loughborough, UK

Saya mulai merasa nyaman tinggal di negara yang dingin ini. Cuaca di Loughborough sejauh ini menyambut saya dengan senyuman. Sinar matahari setiap pagi menyapa dengan seringai yang paling lebar. Meski angin terkadang nakal berhembus membuat saya mengancingkan jaket musim dingin saya lebih rapat dari biasanya. Temperatur udara bervariasi jelang musim gugur tahun ini – antara 8 derajat di malam hari hingga 18 di siang hari. Udara boleh dingin, tetapi hati semakin hari semakin hangat. Bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai belahan dunia; berinteraksi dengan kolega dan guru dalam kelas; dan mengekplorasi gedung-gedung kampus yang tersebar di ‘komplek’ Universitas Loughborough yang luasnya 1.77 km persegi (atau 1 koma 77 juta meter persegi). Universitas Loughborough adalah satu-satunya universitas di United Kingdom yang seluruh kampusnya berada dalam satu lahan besar. Selain itu, menurut badan peringkat Times Higher Education, universitas ini mendapatkan peringkat terbaik untuk ‘student experience’ atau pengalaman mahasiswa secara keseluruhan. Ini hari ke-tiga saya kuliah dan sudah merasakan betapa menarik mata kuliah yang saya ambil (seperti Digital Economies, Media and Cultural Industries dan Online Research Methods and Media Analysis). Semua sesuai dengan ‘goal’ saya ketika memutuskan untuk sekolah lagi yakni memahami etnografi media digital dan bagaimana saya cara meminimalkan dampak buruk dan memaksimalkan dampak baik digitalisasi media pada publik. Direktur Program saya lengkap. Namanya Dr Emily Keightley. Saya sempat bertukar e-mail dengannya sebelum terbang ke Inggris, menanyakan apakah saya bisa mendapatkan izin meninggalkan bangku kuliah seminggu untuk meliput pemilu presiden Amerika Serikat di bulan November. Dia tak keberatan dan langsung memberi izin dengan syarat saya akan tidak lupa memberi tahun dosen kelas dan membaca bahan bacaan yang cukup banyak agar tidak ketinggalan. Impresi awal saya terhadap Dr Keightley jadilah sangat baik.

Ketika masuk kelasnya untuk pertama kali Jumat lalu, saya berharap menemukan perempuan paruh baya, berambut putih, dengan garis kerut pada wajah yang kalau bisa bicara akan bercerita tentang ilmu akademis dan pengalaman hidup yang tidak sebentar. Saya salah. Mmm . . . tidak sepenuhnya salah. Dr Keightley punya pengetahuan akademis yang luar biasa (saya rasakan dari cara ia mengajar dengan referensi media dan penelitian yang luas). Namun di depan kelas berdiri tegak perempuan yang (saya duga) di akhir 30an, bergaun merah menyala dengan potongan leher V dengan tingkat kerendahan yang pas, membuat mata saya menuju pada titik indah dimana dua gundukan menyembul elegan. Perutnya juga menyembul karena ada bayi tiga bulan yang tidur di dalamnya. Rambut bob pirang, senyum mengembang dan keramahan menyemangati kelas saat itu. Meski sedang mengandung, tak lupa ia mengenakan sepatu hak tinggi hitam yang membuat lekuk betisnya cukup sedap dipandang. Saya suka Dr Keightley. Caranya mengajar, sejauh ini, yang paling saya suka. Dan untungnya sebagian besar mata kuliah saya diajarnya. Saya diam-diam berharap semoga hasil kerja akademik saya nantinya tidak akan terlalu mengecewakan untuknya.

Seperti tadi pagi pergi ke kampus, saya pulang juga jalan kaki. Angin berhembus cukup membuat menggigil, tetapi ketika boots saya menapak mantap dalam rute pulang selama 20 menit, kulit ini pun akhirnya menyesuaikan. Saya nyalakan musik 70 hingga 90an sebagai teman pulang. Setiap tapak saya hiasi dengan senyuman. Senyum yang mengembang sepanjang jalan karena hari ini hari yang baik. Bersyukur.

-M-

PS: Saya belum bertemu dengan tetangga manusia saya, tapi sudah disambut dengan tetangga kucing saya sore ini. Meski saya belum tahu namanya, ‘pertemuan’ kita menumbuhkan rasa sayang yang instan. Si kucing mengeong, meminta untuk disayang, saya ulurkan jari-jari dingin dekat kepalanya, ia pun menyambut manja. Hallo kamu, kucing sayang, teman baruku.

img_1197

‎Wiji Thukul “Muncul Pertama Kali di depan Publik Swiss” didampingi Direktur PFN

Wiji Thukul “Muncul Pertama Kali di depan Publik Swiss” didampingi Direktur PFN
Locarno, Swiss, 9 Augustus 2016
Istirahatlah Kata-Kata film tentang penyair Wiji Thukul tayang pertama kali di dunia pada 9 Agustus 11.00 pagi waktu Swiss, berkompetisi pada sesi Cineasti del Presente. Di depan lebih dari 500 orang, Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen itu mendapat tepuk tangan panjang setelah pemutaran berakhir.

Sebelum film dimulai, Carlo Chatrian, Director artistik Locarno International Film Festival memberikan pengantar bahwa Istirahatlah Kata-Kata adalah film dari Indonesia, tentang seorang aktivis, pembuat puisi yang juga sekaligus ayah yang punya peran penting dalam perkembangan demokrasi di Indonesia,
“Saya sangat senang karena yang membawa kisah ini adalah sutradara yang 4 tahun lalu membawa film panjang pertamanya ke Locarno. Tahun ini dia kembali dengan film keduanya.”

Abduh Aziz, direktur Produksi Film Negara yang mendampingi Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara (Produser), Marissa Anita (pemain Sipon) ke Locarno mengatakan bahwa, “PFN sangat mendukung film ini bisa tayang di Indonesia kepada publik luas, diterimanya Istirahatlah Kata-Kata di Locarno International Film Festival, membutikan Indonesia kaya akan cerita kemanusiaan yang bisa dikembangkan oleh para pembuat film lainnya. Film ini harus tayang di bioskop Indonesia. ” Ujar Abduh.

Anggi, sang sutradara dalam sesi tanya jawab menyampaikan “Wiji Thukul adalah salah satu dari banyak para pejuang demokrasi yang memungkinkan saya untuk membuat film. Tanpa terbukanya ruang demokrasi pada tahun 1998 di Indonesia, mustahil bagi saya untuk bisa dapat memperlihatkan film ini kepada anda semua. Di dalam film ini saya memberikan ruang untuk puisi-puisi Wiji Thukul bisa terdengar lagi. Saya juga ingin menunjukkan perjalanan hidup seorang sastrawan yang mendiami hidup dan kata-kata.”
“Kami datang ke Locarno didampingi oleh Institusi negara yaitu Direktur PFN dan Perwakilan dari Kemdikbud, ini dukungan yang penting dan kami yakin bahwa akhir tahun 2016 nanti film Istirahatlah Kata-Kata dapat kami perlihatkan kepada masyarakat Indonesia di bioskop seluruh Indonesia.

Ketika salah seorang penonton bertanya: apakah generasi muda Indonesia tahu tentang Wiji Thukul? Yulia Evina Bhara menjawab, “Untuk itulah film ini dibuat, agar kami dan generasi muda Indonesia belajar tentang sejarah, bahwa demokrasi diperjuangkan oleh banyak orang dan salah satunya adalah Wiji Thukul”
Marisa Anita yang dalam film ini memerankan Sipon, Istri Wiji Thukul mengatakan bahwa “ Di Film ini suara Wiji Thukul terdengar. Dulu sangat terdengar di tahun 80-90 an, dengan film ini semoga generasi kami juga bisa mendengar suara Wiji melalui puisi-puisinya.”

Selain Abduh Aziz, Direktur PFN, turut mendampingi berangkatnya delegasi Istirahatlah Kata-Kata adalah Ahmad Mahendra, Kasubdit Program Evaluasi dan Dokumentasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemdikbud RI.
Sesi tanya jawab dipandu oleh Mark Peranson, Direktur program Locarno International Film Festival.

Film Istirahatlah Kata-Kata adalah produksi kolaborasi bersama Muara Foundation, Partisipasi Indonesia, KawanKawan Film dan LimaEnam Films. Mari kita saksikan film ini di bioskop Indonesia pada akhir tahun 2016.
Kontak:
Yulia Evina Bhara-Produser: 081282275648- yuliaevina@gmail.com

Chocolat

When the sight of melted dark chocolate sends chills throughout my body, what does it mean?

The sensation tickles.

Imagine . . . Does it remind you of that moment when the one you love caress your skin for the first time? A piece of memory impressed in your mind, a history that will never fade . . . . . . . . . . . . . . . .

Jakarta, 27 July 2016, 18:48

 

Raindrops, Music and Peace

Jakarta, 19 July 2016, 5:15pm

I’m sitting alone in my office looking out as the raindrops kiss the grey glass of my window. Listening to Joao Gilberto’s S’wonderful while my White Gardenia candle burns calmly next to my computer screen. And suddenly I feel, being happy can be that simple.  Even just like this, in this current state, in this moment,  I find peace.

Life: The Eternal Pursuit of Meaning and Happiness

The first time I watched Eat Pray Love, I was perhaps too young to understand. I remember that I was not very impressed by the film. I thought it was just about a privileged woman from New York not being able to find happiness when everything that went around her was fine. She had a beautiful place in New York, married for eight years but still managed to feel unhappy. I did not get her, at all.

I watched it the second time last night. Still not very impressed by the film and how it was directed and how the script was written and how the scenes were edited and laid down. But this time, I understood the character better. It was most likely because now I’m a little older and have gone through, let’s say, some events in my life that have given me a better understanding of what she went through.

Was it depression? Was it a midlife crisis? She was feeling nothing and needed to find meaning in her life, needed to find what she wanted in life. She decided to take a sabatical from New York and flew to Italy, India and Indonesia — a year out of the Big Apple. Did she find what she was looking for? Did she find happiness? It was still unclear when the film ended. I have not read the book so am not sure either if she in the end finds “happiness” when the book ends either. But whatever the ending is, I figure that life, at least mine, is about discovering little happiness everyday. We will stumble upon little sadness everyday too. Little sadness, big sadness, little happiness, big happiness, and little sadness, happiness, big sadness, big happiness, big happiness, little happiness, big happiness and little sadness and happiness and the so the cycle of life goes . . .

Film imitating life imitating film. It’s funny how sometimes, in some inexplicable way, we seem to watch films we relate to at a certain stage of our lives. You can’t help but think and self reflect as the credits scroll up on the big screen. Some films perhaps make us feel worst, but some make us a little bit more optimistic.

 

 

MengHakimi Hati

Ketika suara-suara mengHakimi itu masih terus menghantui, ia tersadar bahwa ia mulai kehilangan jati diri.

“Palsu! Naif! Jangan selalu menempatkan diri sebagai korban! Muak!” . . . terus bergema tiada henti, gema pengHakiman yang sebenarnya lahir dari kegelisahan Sang Hakim. Namun sayang, rentetan ujaran ini terlanjur merasuk dalam Hati.

Perkenankan saya bercerita tentang Hati.

Hati, dulu hangat dan terbuka, kini tak lagi menjejak pasti dan mulai membenci diri. Sekali lagi, Hati membenci dirinya sendiri.

Goresan dari sayatan pertama belum kering, sudah ditusuk lagi dengan belati ke dua. Luka kedua hampir sembuh, harus kembali sobek dengan hantaman ketiga. Darah segar mengucur deras dari Hati yang sudah biru hitam lebam. Merah darah menjadi simbol bara amarah dan rasa sakit yang lahir dari tuduhan tak berdasar.

Hati remuk akibat suara Hakim. Suara yang dahulu samar terdengar bak gaung dari nirwana ternyata hanya menyamar. Suara itu kini menjelma menjadi gemuruh parau yang pahitnya terasa di ujung lidah terluar, tengah, hingga kanan kiri, hingga pangkal, bagai empedu yang tak sabar mencengkik leher, merampok napas, merenggut, mengerut-keriput dan membekukan hati yang dulu merah, hangat, berdegup dan hidup.

Hakim telah mengkhianati rasa dan harapan dalam Hati.

Remuk redam, Hati masih berusaha untuk berdegup, sementara darah terus mengalir meninggalkan rumahnya. Hati mempercepat degupnya agar darah segera tinggalkan dirinya karena baginya, darah adalah sumber Rasa. Hati tak ingin lagi merasa. Ia mau Rasa hilang dan akhirnya mati.

 

 

 

 

 

 

A Splendid Torch

A Splendid Torch by George Bernard Shaw

This is the true joy in life, the being used for a purpose recognized by yourself as a mighty one; the being a force of nature instead of a feverish, selfish little clod of ailments and grievances complaining that the world will not devote itself to making you happy.

I am of the opinion that my life belongs to the whole community, and as long as I live it is my privilege to do for it whatever I can.

I want to be thoroughly used up when I die, for the harder I work the more I live. I rejoice in life for its own sake. Life is no “brief candle” for me. It is a sort of splendid torch which I have got hold of for the moment, and I want to make it burn as brightly as possible before handing it on to future generations.