Nak.

 

Aku tidak pernah menjadi seorang anak. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil.

Aku tidak pernah menjadi si kecil yang riang, padahal bahagia seorang anak kecil muncul dari hal yang sangat sederhana. Aku tidak pernah jadi si kecil berprestasi, karena terlalu sibuk menjadi jala curahan hati si dewasa yang bingung linglung harus kemana membawa sedihnya. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil yang pertama kali mengenal cinta lelaki dari sang ayah. Yang kupelajari duluan malah rasa cemburu.  Bukan karena dia memuji sang kakak yang nilainya lebih baik, melainkan karena dia “bercanda” akan memadu kasih dengan perempuan lain yang bukan ibunya.

Aku tidak pernah menjadi seorang anak yang paham apa itu kasih, karena tidak pernah belajar dari si dewasa. Mungkin sang panutan terlalu sibuk meng-iya-kan ego-nya, atau mungkin terlalu bingung mencari rumus bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai orang dewasa.

Aku pernah menjadi anak yang bingung. Tubuhku di sekolah. Buku yang seharusnya penuh dengan tulisan ilmu, malah penuh dengan gambar nisan yang bertuliskan namaku. Aku, seorang anak yang kepalanya terus melarikan diri dalam impian indah, namun tubuh dan hatinya tenggelam dalam kegetiran.

Aku pernah menjadi anak itu. Tapi Nak, aku takkan pernah membuatmu merasa begitu.

Kan kubiarkan kau berlari dan tertawa tanpa gundah dan sedih di hati. Tangismu hanya karena lututmu terantuk aspal, bukan karena harus memikirkan gundahku, gundah dewasa, kegundahan yang belum kau perlu tahu.

Ketika lututmu luka dan kau menangis karena malu dan daging yang menganga, ku kan ada di sana, lingkari tubuh kecilmu dengan lenganku, jariku ‘kan belai rambutmu dan katakan semua akan baik baik saja. Ketika pun hatimu yang terluka, ku kan ada di situ untukmu. Ku ‘kan ada saat kau merangkak, berdiri, berjalan, belajar . . . dan belajar menjalani kehidupan.

 

 

 

 

 

“Teman Lama”

Hisapan asap itu selalu membawaku ke malam-malam menyendiri di musim dingin di tanah kanguru. Sepuluh tahun telah berlalu. Tak pernah terpikir sedikit pun aku akan ada di sini sekarang. Berada dalam kondisi kini dan sekarang. Konsistensi membawaku perlahan ke tempat yang lebih tinggi. Tentu, hidup seakan tak lengkap tanpa momen pahit dan menyakitkan — kecil atau besar. Kegagalan dan rasa sakit ku pakai sebagai anak-anak tangga yang semakin kudaki, hanya membuatku makin kuat dan mantap. Setiap tahun, sebagian langkah terasa berat, meski berat ku maju terus. Setiap langkah mengakar kuat dalam tanah yang kupijak.

Kemarin, ku tak mampu berdiri. Pikiranku lagi-lagi nyasar ke titik-titik gelap yang dulu aku kunjungi. Kegelapan menyelimuti dengan senang hati seperti teman lama. Seorang Teman Lama yang menyapa dengan senyuman menyeringai yang mengerikan. Seringai yang kutakuti. Seringai yang tak sabar ingin menelanku bulat-bulat dalam kemuramannya. Dan ketika ia menelanku, tiap detik terasa seperti sejam, setiap jam terasa seperti sehari. Hari itu terasa seperti kemuraman bertahun-tahun. Ku tak kuat menahannya.

Aku muram, dikelilingi, dibanjiri ribuan tanda tanya dan ribuan andai. Mereka membuatku disorientasi, menyeretku ke ruang pengap tak tertahankan.

Tapi ku sudah belajar, ketika dalam kegelapan, terima dia dengan tangan terbuka. Biarkan dia tinggal bersamamu sampai ia memuaskan laparnya. Dan benar, hari itu, ku biarkan dia menikmati cita rasa dari setiap airmataku, berjam-jam, hingga ku tertidur, hingga dalam tidur.

Ku bangun merasa sebagai sisa-sisa. Kepalaku berat tapi aku bertekad hari ini ku akan putar peranku dengannya, sang Teman Lama.

Ku ajak bicara setan di kepalaku. Ku katakan padanya, ku berkata . . . “Sudahkah air mataku memuaskan dahagamu? Sudah kenyangkah kau pagi ini, Teman Lama?” Ku tersenyum. Dan senyuman itu membuat dia bosan denganku. Aku tidak lagi asyik diajak bermain. Aku tak seru lagi dipermainkan karena aku tidak menyerah meski dia telah membantai dan mengoyak jiwaku sehari sebelumnya.

Matahari terbit, dia mulai jalan menjauh. Matahari terbenam, ia pun menghilang dari pandanganku. Tapi ku sangat kenal dengan Teman Lamaku ini. Oh dia pasti akan kembali. Tapi ku ‘kan selalu buka tanganku dan memeluknya ketika ia datang. Tak apa, karena ku tahu aku akan selalu membuatnya bosan. Kemarin seharian penuh.  Lain waktu ku tak tahu berapa lama ia akan tinggal bersamaku. Teman lama akan selalu datang untuk menikmati deritaku. Tapi lagi-lagi, selamat datang selalu akan terucap dari bibirku untuknya, dan keesokannya lagi-lagi ‘kan ku buat dia bosan dengan sinarku. Karena ku tahu, pada akhirnya, cahaya dalam diriku akan selalu menang.

“Old Friend”

That one puff always takes me back to those solitary nights in winter in the land of kangaroos. Ten years have passed since. Never thought I would be here and now. In the condition I am in, here and now. Consistency leads to a steady hike. Yes, life gives its occasional faltering — big and small. The faltering I use as my stairs to be stronger. Each year, some pace were heavy, but steadily moving forward. Every step rooted deep into the ground.

Yesterday, I could barely stand up. My mind again roamed into the dark places I used to visit. That blackness enveloped with glee like an old friend. An Old Friend who greeted with the nastiest grin. That nasty grin I fear. The grin that could not wait to eat me up in its somberness. And when it did, every second felt like an hour, every hour felt like a day. That day felt like years of somberness. Unbearable.

I was somber, surrounded, inundated with question marks and what ifs. They disoriented me, dragging me to the insuffarable.

But I learnt, when in darkness, welcome him. Let him stay with you until he satisfies his hunger. And I let him indulge on every teardrop for hours until I fell asleep, and when I was asleep.

I woke up feeling like his leftover. My head was heavy but I was determined to turn the table.

I negotiated with the devil in my head. I said to him, I said . . . “Have my tears quenched your thirst? Are you full now, Old Friend?” I smiled. And that smile bored him. I was not fun anymore for I was not defeated after the beatup. The sun rose, he walked away. The sun set, he finally left, but of course only to return again I don’t know when. Oh he will come and visit again. I know that for sure. Knowing how he is. But Old Friend, I will always welcome him. Cause I know I will always win his boredom in the end. This time it’s one day. Next time who knows? Old Friend will have me suffer for his pleasure. But again, I always welcome him, and bore him with my light the next day. Because in the end, I know, that light within will always win.

 

 

Manusia Koper

 

Setiap orang punya cerita.

Cerita yang abu-abu.

Lahir di dunia dari orang tua yang tidak bisa dipilih.

Tumbuh membawa bagasi mereka dan sekitar.

Koper bersumpal bermacam benda/hal.

Berat, ringan, putih, hitam, bulat, persegi, harum, busuk,

bahkan terkadang sedikit banyak terselip yang bentuk, bau, dan warnanya abstrak bahkan absurd.

Setiap orang punya cerita.

Cerita yang abu-abu.

 

 

 

Crooked.

In my head, it’s that world. When things are crooked yet I do not know why they are crooked, it crooks the heart. And when things are crooked, perhaps it is good to accept the crookedness caused by the invisible crook that sometimes is invincible so that the heart no longer crooks hence not crooked. Ah the crooked heart, the crooked mind, these crooks create crooked seconds, minutes, hours, days , crooked moments. Some seconds, minutes, days are just crooked and . . . it’s all right.

The Worst Battle of All

“WAR will forever be one of the worst things in life.

But when in this battle, we turn out to be our own enemy, that, for me, is the worst battle of all.”

– Marissa Anita

 

Trials, Tribulations and Us the Perpetual Tinkerer

There are so many wonderful concepts in this world. These concepts appear to counter all the bad things in the world. Concepts are easily understood by the brain, but often times not by the heart. But the heart will only believe what the brain believes. Isn’t that right? So why does this go all wonky? Read More

Disorientasi

Disorientasi.

Dimana yang baik dianggap buruk.
Dimana suara mayoritas malah tidak bersuara.
Dimana suara hati ditelan bumi.
Dimana yang palsu mendapat tempat.
Dimana jati diri tergerus.

Masalah + Kepentingan = Hampa Solusi?

Semua masalah di dunia sebenarnya punya solusi. Permasalahannya sekarang apakah kita mau menggunakan solusi-solusi itu untuk memecahkan masalah. Biasanya solusi tidak jadi terpakai karena terbentur kepentingan.  Kalau tidak sesuai dengan kepentingan, solusi pun akhirnya tidak jalan.

Masalah: Jakarta macet. Solusi: Kurangi jumlah mobil di Ibukota dan bangun sistem transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau . . . (silakan tambahkan solusi Anda).

Masalah: Jakarta banjir. Solusi: benahi saluran drainase. Batasi pembangunan berlebihan. Tambah ruang terbuka hijau . . . (silakan tambahkan solusi Anda)

Masalah: korupsi di Tanah Air. Solusi: perkuat lembaga anti korupsi. Perkuat penegakan hukum seadil-adilnya. Rekrut politisi bersih dan kompeten . . . (silakan tambahkan solusi Anda).

Masalah: kekurangan tenaga kerja ahli dan kompeten. Solusi: tambahkan pelatihan, rekrut dan rawat “bibit” baik yang berpotensi . . . (silakan tambahkan solusi Anda).

Itu tadi sekedar ilustrasi segelintir contoh masalah dan solusi Jakarta dan Indonesia. Meski sudah ada solusinya, permasalahan di atas masih saja berlanjut.

Ketika masalah dihadapkan kepentingan, solusi semakin jauh?

Masalah + Kepentingan = No Solution?

Apakah selalu demikian formulanya?

Sah-Sah Saja

Manusia menggunakan berbagai cara untuk mengatasi problema dalam hidup. apakah itu kesedihan, kesepian, atau depresi. Manusia mencari penghiburan dalam berbagai bentuk. Sebagian “menenggelamkan diri” dalam alkohol, sebagian mencari bahagia semu dalam obat-obatan terlarang, sebagian dalam seks, sebagian bahkan sampai menyakiti dan membenci diri sendiri — mulai dari memukul diri, mengiris nadi, hingga menjemput ajal dengan lompat dari atas gedung — semuanya demi mencari “kedamaian”.

Kini, dengan makin majunya teknologi, muncullah media sosial yang semakin lama hanya semakin canggih dan bervariasi. Sejak media sosial lahir, warga dunia menggunakannya sesuai kebutuhan masing-masing. Apakah itu untuk promosi, untuk berbagi inspirasi, atau mencela/ mencemooh satu sama lain. Kebebasan berekspresi bukan? Atau kebablasan berekspresi?

Saya tidak tahu pasti kapan tepatnya kutipan-kutipan motivasi mulai bermunculan di sosial media. Tetapi yang jelas kata-kata motivasi ini bagai pisau bermata dua. Ada yang suka dan ada yang tidak. Contoh kutipan motivasi seperti ini:

quotes

Yang suka, menganggap kalimat inspirasional memberi semangat hidup. Yang tidak, menjadi terganggu karena berbagai alasan pribadi masing-masing.

Mereka yang apatis mungkin saja telah makan asam garam dalam hidup. Ketika hidup dirundung pedih terus menerus, manusia mana yang tidak makin pesimistis? Karena mungkin dalam pesimisme, mereka menemukan kekuatan untuk melindungi diri dari rasa sakit. A motivation to survive. Sebuah “motivasi” untuk bertahan hidup. Sah-sah saja.

Bagaimana dengan mereka yang simpati/ suka dengan kutipan motivasi?

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang teman. Pertemanan kami sampai ke ranah sosial media. Saya termasuk penikmat kutipan motivasi di linimasanya. For some reason, it feels good to read, it gives me hope when I’m down, even for a second. Pikir saya, ketika seseorang memasang kutipan yang positif dan membangun semangat, pasti orang itu berada dalam kondisi bahagia, sempurna-lah hidupnya. That her/his life is smooth sailing.

Saya salah.

Ketika kami duduk bersama, di antara selingan sruput kopi dan kue yang empuk, kami saling membuka hati. Murung, desah ragu, semua bercampur sehingga membuat kopi dan kue yang seharusnya nikmat terasa hambar karena terbalut sedih.

Lalu mengapa kesedihan atau kepahitan itu tidak terpancar di sosial media?

Ketika ia memasang kutipan motivasi dan membacanya, ini membuatnya merasa tidak sendirian. Bahwa di luar sana ada yang bernasib sama (kutipan itu ditulis seseorang di luar sana yang pernah merasakan apa yang ia rasakan). Dan mungkin rasa ketidaksendirian ini memberinya harapan.

Saya boleh menyimpulkan, sang pesimis ternyata tidak jauh berbeda dengan “sang optimis”. Jika sang pesimis mencari kekuatan melalui pesimisme. Sang optimis mencari secercah harapan di saat sulit melalui “optimisme”. Jika kutipan motivasi mampu menyelamatkan seseorang dari penghancuran diri, mengapa tidak?

Ah, memang manusia kompleks. Namun yang jelas, bincang dengan seorang teman kembali mengingatkan saya pada sebuah kutipan.

“Don’t judge a situation you’ve never been in.”

“Jangan menghakimi orang lain ketika kita tidak pernah mengalami apa yang mereka alami/rasakan.”

Semua orang punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasi masalah dalam hidupnya. Apa pun caranya, selama itu tidak menyakiti diri atau orang lain, sah-sah saja.