Yovie Widianto Dari Dekat : Perempuan, Politik & Pemerintah

This slideshow requires JavaScript.

Mokul – modal dengkul adalah panggilannya semasa SMA. Di saat kawan-kawannya mengendarai mobil bermerk nan trendi ke sekolah, pria ini kemana-mana berjalan kaki. Itu yang membuat dirinya perlu usaha lebih untuk menarik perhatian kaum perempuan di sekitarnya saat itu. Namun ini cerita lama.

“Halo! Saya sudah mondar-mandir dua kali tadi,” sapa Yovie Widianto yang datang lebih awal dari saya meski tinggal di luar Jakarta.

Yovie baru mulai bermain piano saat SMP. Meski demikian ia telah terbiasa dengan musik sejak kecil. Ayahnya seorang kontraktor. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang selalu ikut ayah kemana pekerjaan ayah membawa. Mereka berdua inilah yang mengenalkan Yovie pada musik. “Bapak suka memainkan lagu-lagu jazz. Seperti Miles Davis, Oscar Peterson, Chick Corea, Ella Fitzgerald dan Selena Jones. Ibu dulu mendengarkan The Carpenters dan The Beatles,” kata Yovie.

Perlahan tapi pasti ia merambah dunia musik. Ia bermula dari seorang pemain piano di Hotel Savoy Homann di Bandung. “Kalau kamu dulu melihat ada anak SMP main piano setiap Senin sampai Kamis dari jam empat sampai enam sore. Itu saya,” kata Yovie. Sejak itu Yovie konsisten di dunia musik. Ia membuat grup band kecil-kecilan dengan Ruth “Uthe” Sahanaya dan Trie Utami. Trio jazz ini tidak memiliki nama. Namun karena trio ini sering memainkan lagu-lagu soundtrack film Sleepless in Seattle – salah satunya lagu Stardust – mereka dikenal masyarakat setempat grup Stardust.  Yovie membuat grup musik berikut bernama Indonesia Enam dan grup ini memenangkan festival musik Budokan di Tokyo pada 1987.

Tiga tahun kemudian, Yovie mendapatkan penghargaan sebagai komposer terbaik di Young Star International Festival Taipei. “Pada saat saya menang di Taipei saya pikir sambutannya akan besar. Yah setidaknya ketemu menteri lah. Tapi kejadiannya tidak demikian. Masuk headline koran saja tidak,” kenangnya.

“Saat itu saya membawakan musik-musik jazz,” terang Yovie. Meski musiknya mendapatkan apresiasi di luar negeri, tidak demikian di dalam negeri. “Makanya saya pindah ke pop,” kata Yovie. Sejak itu ia membentuk Kahitna – grup band yang ngehits dan eksis hingga kini meski sudah berusia lebih dari 20 tahun. Sejak itu, seperti memiliki sentuhan Midas, lagu yang Yovie tulis – baik untuk Kahitna atau untuk sejumlah penyanyi kondang Indonesia – banyak menjadi hits di tangga nada Indonesia.

Yovie terkenal dan identik dengan lagu cinta. Ketulusan tampaknya menjadi motto hidup Yovie sejak ayahnya berpesan pada Yovie kecil untuk selalu menjadi “orang otentik”. Mungkin karena pesan itu pula lirik Yovie Widianto tidak pernah gagal menyentuh hati para pendengarnya – dinyanyikan saat jatuh cinta, putus cinta, atau jatuh cinta lagi . . . dan lagi.

Ia selalu bertutur kata sopan dan manis kepada semua orang – baik laki-laki mau pun perempuan. Tidak heran sejumlah tabloid dan acara infotainment sering mengaitkan namanya dengan sejumlah selebriti cantik Indonesia. Yovie memang mengatakan dapat inspirasi untuk lagu-lagunya dari kecantikan perempuan. Namun cantik pun memiliki arti tersendiri bagi Yovie. “Dari mata. Karena mata tidak bisa berbohong,” jelas Yovie. Yovie tidak berhenti di sini saja.

“Perempuan punya pemikiran dalam hal tertentu saja, tidak perlu tahu semuanya, ia sudah menarik. Misalnya seorang perempuan punya kemampuan membatik. Lalu ia menerangkan secara jelas cara-cara membatik. Itu sudah menarik,” kata Yovie yang kagum dengan Josephine “Obin” Komara – desainer batik terkemuka Indonesia.

Di sisi lain pendiri Kahitna ini tentunya pernah bertemu dengan perempuan-perempuan yang ia ajak bicara dan tidak nyambung. “Biasanya ini mengacaukan imajinasi,” kata Yovie yang memang liriknya banyak terinspirasi perempuan-perempuan elok yang ia temui sejak SMA hingga kini.

Perempuan kurang terpelajar mungkin mengacaukan imajinasi. Namun ada sesuatu yang lebih mengacaukan pikiran Yovie: korupsi. “Korupsi sudah membudaya di Indonesia. Yang paling sederhana saja – mencontek; membajak lagu orang. Untuk merubah negara, kita harus mulai dari diri sendiri,” tegas Yovie.

Mantan loper koran ini memiliki ambisi mengembangkan budaya Indonesia. Langkah awal yakni dengan menciptakan musik yang mencerdaskan bangsa. “Musik yang cerdas itu musik yang membuat pendengarnya menganalisa,” kata Yovie. Ia mengatakan banyak sekali musisi bagus yang kurang terekspos hanya karena acuan berlebihan media terhadap sistem rating yang tidak tepat. Karena itu, menurut Yovie, musisi berbakat seperti Andi Rianto, Endah N Resha, Viky Sianipar, Balawan (Bali), dan Teuku Shafick (Medan) tidak menerima ekposur yang berimbang.

“Sekarang kita memiliki stasiun TV banyak. Namun isinya jauh lebih bervariasi dulu pada saat kita hanya memiliki TVRI. Di TVRI dulu kita bisa mengenal lagu pop, bisa mengenal ‘Madu dan Racun’, bisa mengenal Rhoma Irama. Sekarang apakah masyarakat Indonesia tahu Tari Seudati seperti apa?” jelas Yovie yang rindu dengan keragaman “warna” televisi jaman dulu.

Menurutnya regulasi pemerintah terhadap sejumlah televisi di Indonesia terlalu lentur. “Media memang bebas. Namun pemerintah juga harus berpihak pada hal yang memperbaiki kehidupan rakyat. Ketika sudah terlalu industri, pemerintah harus punya regulasi khusus – regulasi media yang menjaga keanekaragaman karena Indonesia adalah sentra-sentra budaya,” jelas Yovie.

Untuk kembali memperkuat budaya masing-masing daerah, Yovie berharap suatu hari ada regulasi yang mewajibkan stasiun TV Indonesia memberikan empat jam dalam seminggu untuk mengekspos budaya masing-masing daerah. “Ketika semuanya berdasarkan hukum pasar, adanya Amerikanisasi dan Koreanisasi, kita harus menyikapi secara cerdas. Ketika terkena akulturasi, rakyat harus diberikan pilihan-pilihan sehingga mereka masih punya kecintaan terhadap budaya sendiri,” kata Yovie.

Ia mengatakan selama ini ada sejumlah partai politik yang mendekatinya untuk menjadi kader. Ia pernah tertarik. Namun setelah menganalisa lebih jauh, lulusan cum laude Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini memilih tidak menjadi anggota legislatif seperti sejumlah rekan selebriti yang kini duduk di bangku DPR.

“Saya ingin berada di posisi pengambil kebijakan atau keputusan. Bukan berarti harus menjadi menteri. Bisa menjadi staf ahli menteri – memberi masukan pada si pengambil keputusan yang akan berdampak ke masyarakat. Bukan sebagai orang-orang yang menilai, mengamati atau katakanlah yang membuat undang-undang. Karena kita lebih baik membuat action. Kita tahu betul apa yang masyarakat butuhkan dan bagaimana aplikasinya. Saya tidak punya ambisi tertentu. Hanya terkadang geregetan!” tukas Yovie.

Pemain piano pecinta musik jazz ini berpendapat Indonesia seharusnya punya kementerian khusus untuk mengurusi budaya. Mungkinkah? “Harusnya sih memungkinkan. Karena lihat Korea dengan departemen budayanya. Mereka bisa buat gerakan Hallyu (Korean Wave) karena kementeriannya fokus. Orang-orang Korea sejak kecil sangat mempelajari budaya mereka,” jelas Yovie.

Menurut Yovie, Indonesia bisa mencontoh kesuksesan Korea dalam “jual budaya”.“Apa aset utama Indonesia: bahasa. Bahasa Indonesia adalah senjata kita. Kalau ada penyanyi go international, jangan menyanyi pakai bahasa Inggris. Bahasa Indonesia artistik, bunyinya enak dan unik. Buktinya dengan Korea sekarang, masyarakat dunia tahu apa artinya ‘Sarange’,” kata musisi yang juga mengkombinasi bahasa Korea dan Indonesia dalam single pertama boyband arahannya 5Romeo Semenjak Ada Dirimu.

Bicara tentang 5Romeo, boyband Indonesia teranyar ini adalah hasil “idealisme yang kompromistis” Yovie. Sebagai produser, ia menekankan kemampuan bernyanyi dan harmonisasi. “Yang jelas grup nyanyi harus bisa nyanyi,” kata Yovie yang menomorduakan koreografi tarian.

Lagu-lagu 5Romeo memiliki irama dan tempo dance yang kental. Selain “mendaur ulang” lagu yang pernah dipopulerkan Anditi, 5Romeo juga kembali mengadirkan hits boyband tahun 80an New Kids on the Block Step by Step.

Setiap mencipta lagu dengan gaya atau latar belakang budaya baru, Yovie selalu mempelajari musik hingga detil. “Kebetulan anakku Arsy suka musik elektronik. Dia dengerin Pitbull, SuJu dan LMFAO. Ketika aku buat lagu untuk 5Romeo, aku kasih dengar Arsy. Dia bilang ‘Ah, masih jadul! Ini mah kayak disko-disko Michael Jackson. Yang sekarang ga’ kayak gini,’” tawa Yovie. Namun setelah beberapa aransemen, akhirnya Yovie mendapat anggukan dari Arsy. “Wah boleh juga,” katanya.

5Romeo rencana akan rilis album pertengahan tahun ini menghadirkan beberapa hits lawas tulisan Yovie termasuk lagu Kahitna Cantik. Tidak hanya pop dance saja, 5Romeo juga akan menyanyikan lagu Takkan Terganti dengan aransemen dance dengan unsur distorsi a la Franz Ferdinand.

Dulu, ia pernah menjadi penjual gula kacang bersama nenek. Pernah jadi loper koran di usia 10 tahun. Pernah menjadi ball boy di lapangan tenis saat berusia 12 tahun. Pernah bercita-cita menjadi tukang sapu yang membersihkan kota Bandung. Wajib selalu menjadi juara satu karena selalu menggantungkan nasib pendidikannya pada beasiswa.

Maju beberapa dekade, bocah yang sama telah menciptakan lebih dari seratus lagu dan menjadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia musik Indonesia.