Prince of Persia: The Sands of Time

Suatu hari di tahun 90an, sepulang sekolah, saya dan kakak terkadang menyempatkan memainkan Prince of Persia di komputer. Grafik dua dimensi, gerakan jagoan Dastan yang lincah melompati batu-batu dan meminum ramuan warna-warni membuat waktu bermain seru dan menegangkan! Kini permainan komputer ini bisa kita lihat dalam film Prince of Persia: The Sands of Time. Setelah sekian lama ngiler melihat trailer Prince of Persia (PoP), akhirnya baru-baru ini saya dapat menjawab rasa penasaran saya terhadap film action kolosal ini.

Setelah performa memukau Jake Gyllenhaal di Brothers, kini ia kembali menghiasi layar lebar dengan otot yang lebih besar dan mungkin image yang lebih seksi sebagai Dastan, sang pangeran Persia. Lawan mainnya tak kalah menarik. Gemma Arterton yang sebelumnya memiliki peran kecil dalam film James Bond: Quantum of Solace, kini menyabet pemeran utama wanita, putri Tamina, dengan warna kulit yang lebih gelap dan bentuk tubuh yang aduhai – sangat eksotis!

Di tambah lagi kehadiran aktor kawakan Inggris Ben Kingsley dengan kemampuan akting yang secara konstan maksimal ini. Sayangnya setelah selesai menonton saya tidak begitu puas dengan film kolosal ini. Alasannya bervariasi. Mulai dari hasil suntingan yang terkesan dipaksakan membuat film tidak memiliki alur yang terputus. Kemungkinan besar dikarenakan produser film ini Jerry Bruckheimer yang mengharuskan sutradaranya memotong banyak adegan dalam film karena film ini dinilai Jerry Bruckheimer terlalu panjang. Sejumlah adegan bahkan terkesan mulai dari tengah-tengah. Saya pun baru mengerti alur ceritanya setelah film 2/3 berjalan tepatnya ketika sang Putri Tamina menceritakan mengapa belati suci ini sangat penting dan kasiatnya yang mengagumkan.

Jake Gyllenhaal yang performa akting di film-film sebelumnya sangat optimal pun terlihat setengah hati dan tidak menjiwai. Ini pun terlihat dalam sejumlah wawancara promosi film Prince of Persia ini di berbagai media. Gyllenhaal yang biasanya sangat antusias dan spesifik menjelaskan karakter peran dan alur cerita film-filmnya, tidak memancarkan cahaya antusiasme di matanya. Gyllenhaal tampak kikuk mungkin juga karena ia seorang kebangsaan Amerika Serikat yang harus melafalkan aksen Inggris. Ia memang mengaku sangat hati-hati dengan aksen Inggrisnya itu, mengetahui orang Inggris secara umum sangat mudah mengkritik aktor yang melafalkan aksen Inggrise tidak sempurna.

Anehnya, sang sutradara tampaknya mengharuskan Jake memiliki aksen Inggris, padahal latar belakang film ini di Persia (sekarang Iran). Mestinya jika Jake memiliki aksen Amerika pun tak apa karena dia sendiri bukan berasal dari keluarga kerajaan (seluruh anggota keluarga kerajaan memiliki aksen Inggris).

Hubungan antara putri Tamina dengan Dastan pun terasa terlalu cepat bersemi. Dastan baru saja membantu saudara kandungnya menghancurkan kota milik Tamina. Namun sesaat setelah kota hancur, Tamina langsung jatuh cinta ketika pertama kali beradu pandang dengan Dastan. Secara logika, pasti ada amarah yang kemudian tumbuh menjadi cinta seiring dengan berjalannya waktu. Meski begitu, Dastan dan Tamina terlihat sangat ideal, pasangan cantik dan ganteng ini tentunya menjadi pemandangan nan molek bagi para penonton.

Film ini sebenarnya berdurasi lebih dari 116 menit. Namun produser film ini, Jerry Bruckheimer meminta sutradara Mike Newell memangkas sejumlah adegan. Alhasil film ini terkesan terpotong-potong. Dalam wawancaranya dengan Movies Online, Bruckheimer mengatakan tidak ingin membuat penonton duduk di bioskop terlalu lama. Padahal, banyak sejumlah film panjang yang meraih sukses di mata penonton seperti film kolosal James Cameron Titanic (1998) berdurasi 194 menit atau lebih dari 3 jam!

Meski ceritanya terkesan terpotong-potong, Ben Kingsley dengan pengalaman akting selama bertahun-tahun, mampu memberikan performa akting yang konsisten dan baik.

Tema dari film ini yakni adalah memperjuangkan pihak yang benar. Tampaknya film Prince of Persia ini juga menyentuh topik modern yakni pertarungan antara Amerika Serikat dengan Iraq. Karena kerajaan Persia menuduh kota Tamina memiliki senjata yang dapat menghancurkan Persia. Namun tentunya satir ini dalam konteks lebih ringan – dari segi film, Prince of Persia mungkin meraih sukses biasa saja. Meski begitu, Prince of Persia menjadi gamepaling sukses tahun ini lho!

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0473075/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: