Lovely Man

Empat belas tahun lalu, Saiful (Donny Damara) meninggalkan istri dan anaknya untuk menjalani hidup sebagai dirinya sendiri. Dulu Saiful seorang kuli membanting tulang di siang hari. Sekarang Ipuy mengenakan gaun merah ketat, riasan wajah tebal, berlenggak-lenggok di jalanan kota Jakarta di malam hari. Ipuy pergi tinggalkan Cahaya (Raihaanun). Menginjak usia remaja, Cahaya mencari ayahnya untuk mengisi kenangan bersama sang ayah yang telah hilang selama 14 tahun ini. Pergilah ia ke Jakarta. Tibanya di kota metropolitan ini, ia terkejut.

Hubungan antara orang tua dan anak pada umum sudah kompleks. Namun kompleksitas ini semakin bertambah ketika seorang anak memiliki seorang ayah yang ternyata waria. Lovely Man mengangkat liku-liku hidup manusia serta permasalahannya. Jika kita dihadapkan pada suatu masalah, haruskah kita hadapi, ataukah lari darinya? Jika orang tua berbuat suatu kesalahan dalam hidup, haruskah kita sebagai anak mengulang kesalahan yang sama, ataukah berusaha untuk hidup lebih baik? Lovely Man merajut tema-tema ini dengan kehidupan di kota Jakarta.

Orang tua pada umumnya berusaha untuk memberikan yang terbaik pada anak. Begitu pula sebaliknya. Namun apakah yang terbaik bagi orang tua selalu yang terbaik bagi anak? Lovely Man juga “bermain” dengan pertanyaan ini. Cahaya mendambakan hubungan batin yang erat dengan Ipuy. Sementara Ipuy merasa perannya sebagai ayah adalah memberikan cukup nafkah untuk makan dan pendidikan Cahaya, tidak lebih.  Namun apakah ini cukup untuk Cahaya?

Interaksi antara Ipuy dan Cahaya menarik. Dari perbincangan mereka di lokasi berbeda-beda di Jakarta, penonton bisa mengambil kesimpulan sendiri tentang kompleksitas hubungan keduanya tanpa harus “disuapi”.

Pemeran utama pria Donny Damara memenangkan piala aktor terbaik dalam festival film terbesar di Asia Asian Film Festival 2012. Performanya sebagai Ipuy telah mengalahkan aktor kawakan Hong Kong Andy Lau. “Saya kagum sama perempuan yang bisa memakai high heels!” tukas Donny yang sepanjang film harus mengenakan sepatu hak tinggi. Cara jalan dan berbicara Donny bagaikan seorang perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Untuk mendalami perannya, Donny banyak bercengkarama dengan beberapa temannya yang waria. Tantangan bagi Donny adalah memerankan seorang waria yang otentik. Menciptakan karakter ini tentunya tidak mudah.

Chemistry antara kedua aktor utama ini meyakinkan. “Saya mengarahkan tapi juga memberi kepercayaan pada aktor saya untuk memainkan peran ini,” kata Teddy. Hasilnya, tak kalah menarik perhatian yakni istri sang sutradara Raihaanun yang memerankan Cahaya. Gerak-geriknya natural. Saat ia tidak berbicara pun, raut wajahnya mampu bercerita.

Saya ingat pernah menghubungi Teddy saat film ini masuk festival luar negeri pertamanya di Busan International Film Festival tahun lalu. Perjalanan Lovely Man ternyata berlanjut ke Bangkok (World Film Festival of Bangkok), Amerika Serikat (Palmsprings International Film Festival, California) dan terakhir Hong Kong — dimana film ini mendapatkan dua nominasi: sutradara terbaik dan aktor terbaik.

Menonton Lovely Man seperti menonton realita. Dalam dunia nyata, tidak semuanya harus serba cepat dan efisien. Dalam Lovely Man, sutradara Teddy Soeriaatmadja seakan menggandeng tangan penontonnya, berjalan pelan menyusuri sudut-sudut kota Jakarta yang tidak semuanya selalu seindah yang kita lihat di  kartu pos — bagaikan metafora bahwa kehidupan manusia tidak selalu berjalan mulus. Lovely Man is indeed . . . a lovely film.