Ketika Ajal Menjemput

Kematian — mungkin sesuatu yang menjadi mimpi buruk seluruh makhluk hidup di dunia. Namun apa yang ditakuti ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir?

Apakah rasa itu ketika kita tahu ajal akan menjemput dalam hitungan menit, detik? Apakah rasa itu ketika kematian datang perlahan selagi penyakit menggerogoti setiap inci tubuh kita? Apakah rasa itu ketika kita tahu akan meninggalkan orang yang dicinta, melepaskan mereka yang tak lagi kita lihat tawanya, tak lagi rasakan cintanya Рapakah dalam bentuk belaian atau amarah ketika terbakar cemburu? Apakah rasa itu ketika kita tidak tahu jika ada kehidupan lanjutan di alam sana, alam yang konon penuh bahagia dan damai dalam arti sebenarnya? Apakah rasa itu ketika kita melihat cahaya dunia meredup dalam tarikan nafas paling akhir?

Pagi tadi saya berbincang dengan seorang kawan. Kematian tidaklah pernah mudah. Ada yang berharap mati dalam tidur. Mungkin damai bagi yang tinggalkan dunia. Tapi sakit bagi yang ditinggalkan dalam tiba-tiba. Mungkinkah mati perlahan lebih baik? Mungkin ini siapkan hati yang rela bagi mereka yang tertinggal, namun sengsara panjang bagi yang ‘kan meninggalkan.

Apa pun itu perjalanan kita, satu hal selalu tertanam dalam benak dan hati. Siapa pun bisa pergi kapan pun, dengan atau tanpa pesan. Maka jalani hari untuk cintai yang harus dicintai sepenuh hati. Dan ketika kita pergi, mungkin kita tinggalkan jejak air mata di pipi, namun dengan waktu, senyum akan mekar di hati dalam memori yang ‘kan kita peluk selamanya.

 

%d bloggers like this: