Are We?

Are we living in a more and more insular world? Are we conversing to understand each other or just to prove that we are right? There is so much talking, but not enough listening, understanding. Where does this get us though?

Paris, Gardot and An Old Love

This day last year, there I was in the streets of Paris. In a dark blue ensemble, I entered L’Olympia.

Placed myself in the front row right in the centre. Melody Gardot and La chanson des vieux amants. She cried, closed the night with three white roses, one I was lucky enough to have received. I still have that rose, tucked in between the pages of James Baldwin’s Giovanni’s Room.

That was one incredible night.

Silence.

I like my silence. I like the silence around me. I don’t necessarily have to speak when I don’t feel like it. There is too much noise in the world. Perhaps we should stay quiet once in a while?
Silence fixes things. Silence fixes me. Silence gives me the space I need to see clearly. Silence helps me love and be loved wholly.

Kesan dan Kenyataan.

Kita itu paling suka, di hadapan orang lain, di dunia nyata atau maya, memberikan kesan yang jauh lebih baik dari siapa kita sebenarnya dan apa yang sedang kita rasakan.

Mungkin karena kita butuh merasa diterima, menjadi bagian dari sesuatu; mungkin karena kita sedang ingin merasa lebih baik dari apa yang kita rasakan sebenarnya; mungkin karena kita ingin lari dari kenyataan yang tidak selalu manis. Mungkin.

Anak.

Tetangga. Saya dengar mereka — seorang ibu dan anak lelaki bernama Jason. Saya mendengar mereka dan tahu nama sang anak karena ibunya yang terus meneriakkan namanya sedemikian frustrasi.

‘JASON! Dengar. DENGARRRRRRRR!’

Marah-marah yang semuanya tumpah di atas anak yang, dari nada suaranya, terdengar usianya kurang dari 10 tahun.

Ibunya membredel dengan rentetan kalimat-kalimat yang tak nyambung dan janggal satu sama lain. Semuanya bernada tinggi, kadang teriak, kadang seperti menggila sendiri, karena Jason tak banyak bereaksi.

Bayangkan betapa membingungkan situasi ini bagi seorang anak yang pengalaman hidupnya masih tidak terlalu banyak, referensi emosinya jauh lebih sederhana dari orang dewasa, dengan saraf-saraf otak anak yang masih terus berubah. Mendengar teriakan saja sudah membuat hati dan pikiran kacau, apalagi datang dari ibunya, di mana perutnya pernah menjadi rumah aman pertama.

Chaotic. Dibayangkan rasanya pasti kacau di kepala, Jason.

Dari luar pintu, ibunya terdengar gila. Meracau tak karuan, mengancam, berteriak, kemudian mengancam lagi kali ini untuk memindahkan sekolah karena dia yakin sekolah yang sekarang telah gagal menghasilkan anak yang patuh dan mendengarkan perintahnya. Sepanjang kelahi, umpan balik Jason terhadap ibu hanya 10 persen berbanding 1000 persen renteten peluru tajam yang muncul dari mulut ibu.

Apa akar amarah ibu? Dia tidak terdengar bahagia. Apakah ditinggal suami mati, dikhianati atau cerai? Apakah dulu ibunya ibu sering berteriak tak karuan juga ketika hati dan pikirannya kacau? Apakah mungkin ayahnya ibu yang demikian? Apakah ibu tertekan pekerjaan? Apakah rasa frustrasi ibu datang dari ketidakbahagiaan sang ibu sendiri yang tidak tahu bagaimana mengolah semua ketidakbahagiaan ini sehingga samsak paling dekat adalah Jason?

Jika kita belum selesai dengan diri sendiri, apakah bijak menghadirkan nyawa baru di bumi? Nyawa baru ini hidup dan baiknya bisa hidup dengan keseimbangan jiwa. Dan memberikan keseimbangan jiwa itu bukan hal mudah. Perlu sadar diri.

Ada anak-anak keleleran di jalan-jalan di bawah teriknya matahari ibukota. Ada anak-anak keleleran di atas kursi anak di restoran-restoran mal megah juga.

Keleleran dari kasih sayang orang tua yang bisa jadi tidak sempat atau tidak dapat kesempatan belajar mencintai dirinya sendiri dulu, sehingga kurang paham bagaimana mencintai anaknya. Mungkin mereka menghadirkan nyawa baru karena tekanan keluarga atau mereka di sekitar?; mungkin nyawa baru menjadi tambal permasalahan yang menganga dengan pasangannya?; mungkin karena distraksi dari kebosanan?

Anak itu nyawa baru yang hadir bukan untuk membungkam bising yang datang dari mulut keluarga; bukan menjadi api yang menghangatkan ranjang yang sudah dingin; bukan sekedar penerus genetik; apalagi bukan asesoris untuk dipamerkan di dunia maya, setelah dijepret kemudian dipindah-rawatkan ke tangan asisten rumah tangga.

Jason. Dia lahap bulat-bulat teriakan ibu-nya, dia akan mengemban bagasi jiwa yang tidak ringan. Dia ‘kan tumbuh besar dengan banyak pertanyaan, kebanyakan mempertanyakan diri sendiri. “Apa salahku?”

Bagasi yang tidak ringan yang jika tak terurai dengan sadar diri penuh, bisa menghancurkannya dan sekitar.

Anak, itu tanggungjawab. Kalau belum selesai dengan diri sendiri, lantas apakah pantas memiliki?

Jangkar Kapal

Berusaha menarik jangkar kapal, bukannya tidak bisa. Tapi bagaimana jika jangkar bersumber dari kapal raksasa dan terlalu berat bagi satu manusia untuk mengangkatnya agar kapal bisa berjalan ke titik tujuan?

Menarik jangkar kapal, percuma. Yang ada malah urat nadi di tubuh berteriak seakan akan segera meledak, akar merah di pipi menyeruak, peluh sebesar jagung bentol bentol di sekujur tubuh, daya habis . . .  tanpa hasil apa-apa.

Memindahkan jangkar yang keras kepala menghujamkan dirinya di dasar laut.

Ada hal dalam hidup seperti jangkar raksasa dalam laut. Terkadang yang terbaik adalah menerima bahwa jangkar itu akan tetap di situ, dan kita bukanlah yang punya daya untuk memindahkannya. Lantas apa berikutnya? Ya sudahlah. Terima. Tinggalkan. Jalan terus.

Bunuh Diri

Kate
Hari ini warga dunia penikmat fashion guncang dengan berita kepergian salah satu tokoh mode terbaik Amerika Serikat, Kate Spade. Perancang tas ternama ini ditemukan meninggal di apartemennya di kawasan elit Park Avenue, New York. Kepolisian New York menduga kuat Spade meninggal karena bunuh diri, selendang melingkari lehernya. 

Kalau dilihat dari permukaan, profil Spade memang seakan punya segalanya. Pada 1999, ia menjual 56% saham dari perusahaan yang ia bangun kepada Department Store Amerika ternama Neiman Marcus sebesar US$33.6 juta. Pada Mei 2017, brand fashion ternama Coach juga telah mengumumkan akan merengkuh merk Kate Spade dalam sayapnya dengan  harga US$2.4 miliar (Levenson dan Gingras, 2018). Dengan pemasukan berjumlah fantastis, tidak heran jika Spade berumah di Park Avenue, Upper East Side. Siapa pun yang tinggal di kawasan ini, tinggal jalan kaki kalau mau menikmati taman kota New York tersohor Central Park. Apartemen Park Avenue rata-rata bernilai US$7 -US$95 juta per unitnya (Adamczyk, 2014). Spade jelas punya uang, ketenaran dan kesuksesan. Lantas apa yang menyebabkan Spade mengakhiri hidupnya di usia ke-55? 

Yang tahu pasti hanyalah Spade sendiri — cerita sedih dan depresif yang ia bawa ke kuburnya. Orang-orang terdekat di sekitarnya mungkin tahu, atau mungkin juga berspekulasi tentang apa yang ada di pikiran Spade. Sementara khalayak publik hanya bisa berasumsi dan mengambil kesimpulan berdasarkan rentetan kalimat yang tersusun dalam ratusan paragraf di Internet (baik fakta maupun rumor).
Kematian Kate Spade secara tidak sengaja mengajak kita berefleksi tentang bunuh diri.
Data World Health Organization menunjukkan, di Indonesia, 5000 orang meninggal bunuh diri pada 2010. Pada 2012, angka ini meningkat menjadi 10,000. Secara global, 800.000 orang meninggal karena bunuh diri. Ini setara dengan 1 kematian setiap 40 detik (Herman, 2014).
Memang, mengakhiri hidup itu, bagi filsuf seperti Jean-Paul Satre dan David Hume, adalah hak manusia (Burton, 2012). Tapi manusia juga punya hak untuk hidup (Equality and Human Rights Commission, undated).
Alasan bunuh diri pada setiap individu berbeda-beda, tapi intinya penyebabnya sama: bunuh diri karena tidak lagi tahan dengan tekanan hidup, baik tekanan dari eksternal maupun dari internal (harus diakui, terkadang diri kita sendiri adalah musuh terbesar kita — suara-suara gelap yang bercokol di sudut benak, tawa kecil yang menjadi terbahak bahak ketika melihat kita gundah kemudian hilang kendali. Familiar?).
Salah satu yang bisa kita lakukan ketika kita merasa tertekan adalah bercerita tentang kegundahan kita ke orang lain, apakah itu ke psikiater, atau ke teman atau keluarga yang kita percayai. Salah satu kunci untuk bisa meringankan beban mental seseorang, apalagi yang kita sayangi, adalah mendengarkan secara seksama dan dalam. Karena ketika seseorang tertekan, yang mereka butuhkan adalah didengarkan perasaan dan unek-uneknya. Tidak perlu selalu langsung memotong pembicaraan dan memberikan solusi, karena kerap manusia itu hanya butuh didengarkan saja kok. Ketika diminta masukan, berikan tanpa menghakimi. Duduk bersama dan luangkan waktu untuk mereka yang tersiksa jiwanya agar seiring waktu berjalan, semakin tenang pula jiwanya.
Waktu dan empati — dua hal sederhana namun punya kekuatan signifikan untuk membuat seseorang merasa lebih baik dan semoga, sedikit demi sedikit, menjadi makin jauh dari niat untuk mengakhiri hidupnya.
***
Bibliografi
Adamczyk, A, (2014, October 2014). Inside New York’s $95 million penthouse: 432 Park Avenue. Forbes. Retrieved from https://www.forbes.com/sites/aliciaadamczyk/2014/10/16/inside-new-yorks-95-million-penthouse-432-park-avenue/#593364754a86
Burton, N. (2012, May 22). Can it be right to commit suicide? Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/hide-and-seek/201205/can-it-be-right-commit-suicide
Equality and Human Rights Commission. (Undated). Article 2: right to life. https://www.equalityhumanrights.com/en/human-rights-act/article-2-right-life [accessed 6 June 2018).
Herman. (2014, September 11). WHO: Angka bunuh diri di Indonesia capai 10.000 per tahun. Berita Satu. Retrieved from http://www.beritasatu.com/kesehatan/209155-who-angka-bunuh-diri-di-indonesia-capai-10000-per-tahun.html
Levenson, E & Gingras, B. (2018, June 6). Kate Spade, fashion designer, found dead, in apparent suicide. CNN. Retrieved from https://edition.cnn.com/2018/06/05/us/kate-spade-dead/index.html
Photo: CNN.

Ketika Lempeng Itu Bergeser

Suatu hari ada sesuatu yang bergerak dalam diri. Akhirnya hari itu datang. Hari di mana ku rasa diriku yang dulu namun tidak seperti dulu. Paham maksudnya? Dulu namun baru. Kekuatan diri yang dulu pernah ada, sempat hilang, namun kini kembali. Ku bertanya ‘apa yang baru saja terjadi?’

Pernahkah terjadi pada dirimu?

Dulu. Ketika kau merasa semua baik-baik saja. Sebelum kelam itu. Sebelum suara-suara bingung itu menghantui. Bukan hanya dalam keseharian saja. Namun pula dalam mimpi.

Dulu. Ketika kau merasa dunia penuh senyum. Ketika kau tahu rasa takut itu jauh. Ketika rasa percaya diri ini hangat bahkan membara dalam dirimu. Bara yang muncul ketika lebih muda, ketika menjadi idealis itu mudah karena realita hidup yang masih belum banyak.

Dulu bara itu meletik-letik, menyembur-nyembur.

Kini, bara itu tenang. Itu dia. Itu dia. Dia perlahan kembali. Ku rasakan kembali hangatnya. Selamat tinggal rasa takut. Rasa takut yang selama ini menghalangi apa yang ku mau. Apa yang membuatku merasa HIDUP. Kuhadapi suara gelap itu. Kukatakan padanya: ‘Persetan!’

Kini, hari itu, kurasakan pergeseran itu. Seperti lempeng bumi yang bergeser. Lempeng itu bergeser dalam diri, menimbulkan gempa lembut misterius namun terasa benar. Terasa benar. Aku yang dulu, namun aku yang baru. Paham maksudnya?

Satu tahun perjalanan keluar dari zona nyaman, zona aman. Diri ditantang secara fisik dan emosi, membuat diri semakin paham apa sebetulnya hidup ini dan bagaimana menjalankan hidup ini dalam cara yang membuat diri semakin kokoh namun damai. Seperti pohon, ya, seperti pohon yang makin tua dengan akarnya yang makin mencengkeram tanah. Suluran akar menusuk makin dalam, makin lebar merangkul tanah, dengan batang dan ranting yang mekar pecah, sulur ranting yang tidak beraturan dengan arah tumbuh meraih matahari dan angkasa, tidak beraturan namun berdiri kokoh. Itu dia. Itu dia.

Diri ini kembali . . . Kembali ke dulu, tapi dulu yang sekarang, dulu yang sekarang. Dan dulu yang sekarang, rasanya . . . (desah panjang)

The Challenging Path of Mindfulness

The road to mindfulness does not come without challenges. As we are clearing our mind, we open our hearts to all sorts of emotions. When happiness visits, we feel contentment and peace more than ever before. The feeling of being present and alive is magnified to a level of here-and-now that we have perhaps long forgotten. As much as we feel more joy while we walk on the path of mindfulness, we also feel much more pain. Speech or moments that hurt are magnified to a level of here-and-now that we have perhaps previously tried to deny and defy. The path of mindfulness is not easy. Nevertheless, keep practicing.