Dawn of the Planet of the Apes

Flu Simian mematikan mayoritas manusia di dunia, menyisakan sebagian kecil hidup karena tubuh yang imun secara genetik. Sebagian yang hidup ini tinggal di San Fransisco, Amerika Serikat. Sepuluh tahun berlalu dan energi akhirnya habis. Ini memaksa Dreyfus (Gary Oldman) dan Malcolm (Jason Clarke) mencari energi alternatif yang hanya ada di wilayah kediaman para kera — “bangsa” yang sangat membenci manusia. Kera-kera ini bertubuh kekar dan besar, mampu berbicara, sangat kuat dan sangat marah tiap kali berhadapan dengan manusia.

Caesar (Andi Serkis) adalah simbol pemimpin bijaksana yang didera dilema antara membela bangsa kera atau kembali membuka hati kepada manusia. Tangan kanan Caesar — Koba (Toby Kebbel) adalah simbol dendam, kekecewaan dan trauma. Koba selamanya membenci manusia karena pernah menjadi percobaan manusia di masa lampau. Dreyfus sakit hati kehilangan keluarganya dalam “perang” dan punya misi selamatkan manusia dari serangan bangsa kera tak berotak dan buas. Sementara Malcolm dan keluarga mampu membuka mata hati kepada bangsa kera yang mampu berpikir, diajak bicara dan kerjasama. Pada dasarnya semua karakter ini menggambarkan karakter-karakter manusia di sekitar kita.

Seluruh aktor memerankan perannya dengan baik sehingga menghadirkan kisah yang menyentuh dan humanis. Rancangan wajah bangsa kera pun secara detil menggambarkan karakter masing -masing. Mereka yang baik atau galau bermata dan bergaris wajah lembut sementara yang buas digambarkan lebih tak terawat. Sinematografi hadir dengan gambar-gambar yang terus menerus bercerita dan penuh makna (mise-en-scene) http://www.elementsofcinema.com/directing/mise-en-scene.html

DAWN PLANET APES MOV

Dawn1

Koba1

Malcolm

Dawn of the Planet of the Apes adalah lanjutan yang memuaskan dari Rise of the Planet of the Apes (2011). Dan secara kebetulan film ini rilis di saat berbagai macam konflik dunia sedang memanas. Film ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Avatar (James Cameron, 2009).

Sutradara Mark Reeves dan penulis Mark Bomback dkk seakan mengajak penontonnya berpikir bahwa untuk memenuhi kebutuhan suatu bangsa, kita tidak perlu menginvasi negara lain secara brutal demi merebut energi yang terkandung di tanah bangsa itu. Bahwa untuk melanjutkan hidup nyaman, warga dunia bisa saling berbagi dengan diplomasi manusiawi. Namun fakta sejarah dunia sejauh ini jauh dari utopia. Perang berdarah dari jaman ke jaman terus pecah demi keserakahan, kekuasaan atau sekedar ego para pemimpin untuk menunjukkan pada dunia ia yang terkuat.

Akhir Dawn of the Planet of the Apes pun tidak berakhir, seperti hidup manusia dan sejarah yang akan kita buat terus berlanjut. Akankah kita akhirnya mencapai utopia itu, dimana kita tidak lagi berperang dan menciptakan hidup harmonis satu sama lain? Akankah ada dunia yang tak lagi saling salah paham, dunia dengan komunikasi jujur terbuka, dunia yang saling memaafkan dan damai.

“Ape not kill Ape”. Kera tidak membunuh Kera. Inilah pesan Caesar yang mungkin bisa kita artikan manusia seharusnya tidak saling bunuh. When kindness speaks, we create a better, more peaceful world for everybody, as kindness cures all.

Durasi: 130 menit | Rating: PG-13 | Genre: Action, Sci-Fi, Drama, Thriller | IMDB: 8.6 | Metacritic: 79

Published by

Marissa Anita

A multi-hyphenate: #journalist #actress #mc #moderator