The Fault in Our Stars

Setelah The Notebook (2004) sukses meraih hati para penikmat kisah cinta dalam film, kini hadir The Fault in Our Stars (2014) yang pastinya bakal masuk dalam daftar film kisah cinta legendaris sepanjang masa.

Film arahan Josh Boone ini mengisahkan tentang Hazel Grace (Shailene Woodley) dan Gus (Ansel Elgort), dua anak muda yang bertemu dalam sebuah kelompok pendukung penderita kanker dan jatuh cinta. Hazel Grace harus jalani hidup bergantung pada tabung oksigen yang ia bawa kemana pun. Sementara kanker telah mengamputasi salah satu kaki Gus. Pada awalnya Hazel Grace merasa tak penting untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, toh umurnya sudah jelas, pendek dan hidup tak ada harapan. Namun Gus terlanjur kesengsem dan terus berusaha mengambil hati Hazel Grace. Mengoceh di telefon hingga dini hari pun tak terasa ketika pesona yang berbicara. Gus konsisten menunjukkan rasa sayangnya melalui pernyataan yang tak muluk namun mengena. Pembicaraan pintar dan lucu antara keduanya akhirnya melelehkan hati Hazel Grace.

Hazel Grace terobsesi dengan sebuah novel karya penulis Van Houten (Willem Dafoe) yang tinggal di Amsterdam Belanda. Novel ini berakhir menggantung sehingga ia bermimpi bertemu dengan Van Houten untuk tahu akhir novel ini. Gus pun mengabulkan mimpi ini dengan mengajaknya ke Amsterdam. Namun kisah cinta hebat biasanya harus lalui banyak tantangan, dan tantangan ini sama sekali tak mudah.

Yang jelas film ini mengangkat tentang tema yang saya suka: cinta tanpa syarat. Dan ketika kita telah menemukan sang cinta sejati, kita akan melakukan apa saja, dan berjuang melawan segala tantangan, demi bersama sang tercinta. Meski kisah cinta ini antara dua sejoli 16 dan 18 tahun, rasa sayang keduanya terasa dewasa. Karena kanker, mereka tak punya waktu banyak untuk bertengkar hanya karena hal-hal kecil. Meski cinta antara kedua remaja ini terasa dewasa, Josh Boone tetap menjaga karakter agar realistis. Remaja pun terkadang bisa spontan dan nakal. Ini Boone tunjukkan dalam adegan Guz dan Hazel Grace saat membantu sobat dekat mereka balas dendam karena diputus pacar.

Percintaan keduanya adalah kombinasi rasa itu ketika kita pertama kali jatuh cinta dan rasa nyaman setelah bersama bertahun-tahun. Those butterflies in your stomach and that loving glow.

“Think of all the beauty around you and be happy.” Jalani hidup mengamati keindahan yang ada di sekitarmu dan berbahagialah. Kita terkadang khawatir berpikir mengenai apa yang akan terjadi di masa datang sehingga lupa menikmati apa yang ada di depan mata sekarang — sebuah teguran halus dan manis bagi sebagian dari kita mungkin?

Kedua aktor muda Shailene Woodley dan Ansel Elgort memainkan kedua peran utama sangat baik. Chemistry antara keduanya terbangun natural membuat kisah cinta antara mereka otentik. Kedua aktor ini telah berkontribusi dalam sejumlah film lain. Woodley dalam The Descendants (2011), The Spectacular Now (2013) dan Divergent (2014). Elgort sebagai peran utama pria dalam drama horor remake Carrie (2013). Namun dalam The Fault in Our Stars, kedua aktor ini maksimal menunjukkan kemampuan akting mereka — otentik, tulus, mengesankan.

Bagi mereka yang percaya cinta sejati akan sangat menikmati film ini. Bagi mereka yang pesimistis bisa jadi menganggap kisah ini terlalu manis dan tak nyata.

Sebagian yang telah menyaksikan tak henti menitikkan air mata, termasuk kaum Adam. Saya pun salah satunya.

Berkali-kali air mata saya menetes jatuh ke dada seakan tahu darimana rasa itu berasal.

Durasi: 126 menit | Rating: PG-13 | Genre: Drama, Romance | IMDB: 8.4 | Metacritic: 69