Nak.

 

Aku tidak pernah menjadi seorang anak. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil.

Aku tidak pernah menjadi si kecil yang riang, padahal bahagia seorang anak kecil muncul dari hal yang sangat sederhana. Aku tidak pernah jadi si kecil berprestasi, karena terlalu sibuk menjadi jala curahan hati si dewasa yang bingung linglung harus kemana membawa sedihnya. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil yang pertama kali mengenal cinta lelaki dari sang ayah. Yang kupelajari duluan malah rasa cemburu.  Bukan karena dia memuji sang kakak yang nilainya lebih baik, melainkan karena dia “bercanda” akan memadu kasih dengan perempuan lain yang bukan ibunya.

Aku tidak pernah menjadi seorang anak yang paham apa itu kasih, karena tidak pernah belajar dari si dewasa. Mungkin sang panutan terlalu sibuk meng-iya-kan ego-nya, atau mungkin terlalu bingung mencari rumus bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai orang dewasa.

Aku pernah menjadi anak yang bingung. Tubuhku di sekolah. Buku yang seharusnya penuh dengan tulisan ilmu, malah penuh dengan gambar nisan yang bertuliskan namaku. Aku, seorang anak yang kepalanya terus melarikan diri dalam impian indah, namun tubuh dan hatinya tenggelam dalam kegetiran.

Aku pernah menjadi anak itu. Tapi Nak, aku takkan pernah membuatmu merasa begitu.

Kan kubiarkan kau berlari dan tertawa tanpa gundah dan sedih di hati. Tangismu hanya karena lututmu terantuk aspal, bukan karena harus memikirkan gundahku, gundah dewasa, kegundahan yang belum kau perlu tahu.

Ketika lututmu luka dan kau menangis karena malu dan daging yang menganga, ku kan ada di sana, lingkari tubuh kecilmu dengan lenganku, jariku ‘kan belai rambutmu dan katakan semua akan baik baik saja. Ketika pun hatimu yang terluka, ku kan ada di situ untukmu. Ku ‘kan ada saat kau merangkak, berdiri, berjalan, belajar . . . dan belajar menjalani kehidupan.

 

 

 

 

 

Published by

Marissa Anita

A multi-hyphenate: #journalist #actress #mc #moderator