Hari ke 6: Dingin Hangat ‘Rumah’ Baru di Loughborough

Day 6

Loughborough, UK

Saya mulai merasa nyaman tinggal di negara yang dingin ini. Cuaca di Loughborough sejauh ini menyambut saya dengan senyuman. Sinar matahari setiap pagi menyapa dengan seringai yang paling lebar. Meski angin terkadang nakal berhembus membuat saya mengancingkan jaket musim dingin saya lebih rapat dari biasanya. Temperatur udara bervariasi jelang musim gugur tahun ini – antara 8 derajat di malam hari hingga 18 di siang hari. Udara boleh dingin, tetapi hati semakin hari semakin hangat. Bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai belahan dunia; berinteraksi dengan kolega dan guru dalam kelas; dan mengekplorasi gedung-gedung kampus yang tersebar di ‘komplek’ Universitas Loughborough yang luasnya 1.77 km persegi (atau 1 koma 77 juta meter persegi). Universitas Loughborough adalah satu-satunya universitas di United Kingdom yang seluruh kampusnya berada dalam satu lahan besar. Selain itu, menurut badan peringkat Times Higher Education, universitas ini mendapatkan peringkat terbaik untuk ‘student experience’ atau pengalaman mahasiswa secara keseluruhan. Ini hari ke-tiga saya kuliah dan sudah merasakan betapa menarik mata kuliah yang saya ambil (seperti Digital Economies, Media and Cultural Industries dan Online Research Methods and Media Analysis). Semua sesuai dengan ‘goal’ saya ketika memutuskan untuk sekolah lagi yakni memahami etnografi media digital dan bagaimana saya cara meminimalkan dampak buruk dan memaksimalkan dampak baik digitalisasi media pada publik. Direktur Program saya lengkap. Namanya Dr Emily Keightley. Saya sempat bertukar e-mail dengannya sebelum terbang ke Inggris, menanyakan apakah saya bisa mendapatkan izin meninggalkan bangku kuliah seminggu untuk meliput pemilu presiden Amerika Serikat di bulan November. Dia tak keberatan dan langsung memberi izin dengan syarat saya akan tidak lupa memberi tahun dosen kelas dan membaca bahan bacaan yang cukup banyak agar tidak ketinggalan. Impresi awal saya terhadap Dr Keightley jadilah sangat baik.

Ketika masuk kelasnya untuk pertama kali Jumat lalu, saya berharap menemukan perempuan paruh baya, berambut putih, dengan garis kerut pada wajah yang kalau bisa bicara akan bercerita tentang ilmu akademis dan pengalaman hidup yang tidak sebentar. Saya salah. Mmm . . . tidak sepenuhnya salah. Dr Keightley punya pengetahuan akademis yang luar biasa (saya rasakan dari cara ia mengajar dengan referensi media dan penelitian yang luas). Namun di depan kelas berdiri tegak perempuan yang (saya duga) di akhir 30an, bergaun merah menyala dengan potongan leher V dengan tingkat kerendahan yang pas, membuat mata saya menuju pada titik indah dimana dua gundukan menyembul elegan. Perutnya juga menyembul karena ada bayi tiga bulan yang tidur di dalamnya. Rambut bob pirang, senyum mengembang dan keramahan menyemangati kelas saat itu. Meski sedang mengandung, tak lupa ia mengenakan sepatu hak tinggi hitam yang membuat lekuk betisnya cukup sedap dipandang. Saya suka Dr Keightley. Caranya mengajar, sejauh ini, yang paling saya suka. Dan untungnya sebagian besar mata kuliah saya diajarnya. Saya diam-diam berharap semoga hasil kerja akademik saya nantinya tidak akan terlalu mengecewakan untuknya.

Seperti tadi pagi pergi ke kampus, saya pulang juga jalan kaki. Angin berhembus cukup membuat menggigil, tetapi ketika boots saya menapak mantap dalam rute pulang selama 20 menit, kulit ini pun akhirnya menyesuaikan. Saya nyalakan musik 70 hingga 90an sebagai teman pulang. Setiap tapak saya hiasi dengan senyuman. Senyum yang mengembang sepanjang jalan karena hari ini hari yang baik. Bersyukur.

-M-

PS: Saya belum bertemu dengan tetangga manusia saya, tapi sudah disambut dengan tetangga kucing saya sore ini. Meski saya belum tahu namanya, ‘pertemuan’ kita menumbuhkan rasa sayang yang instan. Si kucing mengeong, meminta untuk disayang, saya ulurkan jari-jari dingin dekat kepalanya, ia pun menyambut manja. Hallo kamu, kucing sayang, teman baruku.

img_1197

%d bloggers like this: