Homesick: Rindu Rumah?

Homesick. 

Kata ini dalam pemahaman pribadi artinya kerinduan terhadap negara kita berasal, tanah kelahiran, dan segala aspek kehidupan yang ada di dalamnya.

15 hari sudah saya tinggal di kota kecil berpenduduk sekitar 60,000 orang di Loughborough Inggris Raya. Saya curiga, kok semakin bertambahnya hari malah semakin nyaman? Kapan ini homesick menyerang?

Di kepala saya sering muncul pertanyaan-pertanyaan. Seperti biasa, saya langsung telaah pertanyaan dan rasa ini. Saya potong-potong, cacah, amati dan muncullah buih-buih pikiran berikut:

“Saya tidak/belum homesick karena . . .”

  • Saya lahir di Indonesia tetapi selama ini cenderung merasa sebagai ‘Warga Negara Dunia’ atau ‘A Citizen of the World’. Penduduk dunia dengan otak paling canggih adalah manusia. Orang Indonesia, Inggris, China, Vietnam, Jerman, Austria, Prancis dan lainnya adalah manusia. Yang membedakan kita semua hanya bentukannya (warna kulit, warna mata, tinggi badan — segala sesuatu yang biasanya kasat mata). Namun karena kita semua adalah manusia, kita punya bahasa yang sama yakni ‘bahasa rasa’. Jadi dimana saya ditempatkan, selama saya membagi bahasa rasa yang sama dengan penduduk dunia lainnya, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mulai merasa seperti di ‘rumah’ sendiri.
  • Dalam kehidupan, saya pakai kacamata ‘ingin memahami’ bukan ‘menghakimi’ atau saling curiga. (Ironis memang kalimat yang baru saya tulis ini. Di saat kita bicara tentang memahami, Inggris Raya sedang memutuskan apakah akan keluar atau tidak dari Uni Eropa. Sejumlah media Inggris juga kerap mengaitkan kata Brexit dan (anti) imigran dalam sejumlah berita. Begitu pula dengan kandidat presiden dari Partai Republikan Donald Trump yang dalam kampanyenya selama ini menjual retorika yang tidak ramah pada penduduk imigran di Amerika Serikat.) Meski begitu, saya kekeuh pakai kacamata pilihan saya, membuka pikiran, dan mungkin karena itu proses adaptasi di negara baru menjadi lebih mudah.
  • Tidak homesick bukan berarti tidak nasionalis. Malah bisa jadi nasionalisme sehat tumbuh sumbur. Teman-teman mahasiswa bertanya dari mana saya berasal? Ada yang mengira saya dari China (hampir 2/3 mahasiswa internasional di departemen ilmu sosial datang dari China. Mungkin karena rambut dan mata saya segelap teman-teman dari negeri bambu ini); ada yang mengira dari Malaysia (memang betul kami sama-sama Melayu); ada si Angus McCalister, kolega asal Manchester, berusia 20-an yang bingung mereka-reka kebangsaan saya. Katanya: “Kamu bukan dari China. Bahasa Inggris-mu kental beraksen Amerika Serikat. Kamu jadi dari mana?” Saya jawab dengan senyum lebar: “Indonesia.” Dan setiap kali saya sebut “Indonesia”, rasanya seperti tersambar Anging Mamiri. Sejuk betul.
  • Setiap hari mendapat pengalaman baru dan ini sangat asyik. Yah, namanya juga anak baru, ada-lah kejadian salah ambil arah pulang, salah naik bus (pengalaman yang setiap diingat membuat saya tersenyum simpul geli melihat tingkah polah sendiri seperti ini), jalan kaki dalam setiap kesempatan (mumpung banyak trotoar), mata kuliah yang tiap minggu menyuapi dengan bacaan bejibun (sampai kedua mata ini mabuk kata dan kalimat), dosen yang asyik jadi memotivasi memutar otak (sampai otak panas terbakar!), dosen yang kadang menggoda rasa kantuk, rumah baru, empat musim dan temperatur udara yang dinginnya tidak pernah gagal membangunkan raga ini.

Yah, memang baru 15 hari di sini dan pasti ada yang bilang “Itu mah baru sebentar. Lihat saja nanti setelah beberapa bulan.” Bisa jadi?

Tapi untuk sekarang, saya sudah merasa tinggal di negara yang sambutan dan dekapannya senyaman rumah sendiri.