Anak.

Tetangga. Saya dengar mereka — seorang ibu dan anak lelaki bernama Jason. Saya mendengar mereka dan tahu nama sang anak karena ibunya yang terus meneriakkan namanya sedemikian frustrasi.

‘JASON! Dengar. DENGARRRRRRRR!’

Marah-marah yang semuanya tumpah di atas anak yang, dari nada suaranya, terdengar usianya kurang dari 10 tahun.

Ibunya membredel dengan rentetan kalimat-kalimat yang tak nyambung dan janggal satu sama lain. Semuanya bernada tinggi, kadang teriak, kadang seperti menggila sendiri, karena Jason tak banyak bereaksi.

Bayangkan betapa membingungkan situasi ini bagi seorang anak yang pengalaman hidupnya masih tidak terlalu banyak, referensi emosinya jauh lebih sederhana dari orang dewasa, dengan saraf-saraf otak anak yang masih terus berubah. Mendengar teriakan saja sudah membuat hati dan pikiran kacau, apalagi datang dari ibunya, di mana perutnya pernah menjadi rumah aman pertama.

Chaotic. Dibayangkan rasanya pasti kacau di kepala, Jason.

Dari luar pintu, ibunya terdengar gila. Meracau tak karuan, mengancam, berteriak, kemudian mengancam lagi kali ini untuk memindahkan sekolah karena dia yakin sekolah yang sekarang telah gagal menghasilkan anak yang patuh dan mendengarkan perintahnya. Sepanjang kelahi, umpan balik Jason terhadap ibu hanya 10 persen berbanding 1000 persen renteten peluru tajam yang muncul dari mulut ibu.

Apa akar amarah ibu? Dia tidak terdengar bahagia. Apakah ditinggal suami mati, dikhianati atau cerai? Apakah dulu ibunya ibu sering berteriak tak karuan juga ketika hati dan pikirannya kacau? Apakah mungkin ayahnya ibu yang demikian? Apakah ibu tertekan pekerjaan? Apakah rasa frustrasi ibu datang dari ketidakbahagiaan sang ibu sendiri yang tidak tahu bagaimana mengolah semua ketidakbahagiaan ini sehingga samsak paling dekat adalah Jason?

Jika kita belum selesai dengan diri sendiri, apakah bijak menghadirkan nyawa baru di bumi? Nyawa baru ini hidup dan baiknya bisa hidup dengan keseimbangan jiwa. Dan memberikan keseimbangan jiwa itu bukan hal mudah. Perlu sadar diri.

Ada anak-anak keleleran di jalan-jalan di bawah teriknya matahari ibukota. Ada anak-anak keleleran di atas kursi anak di restoran-restoran mal megah juga.

Keleleran dari kasih sayang orang tua yang bisa jadi tidak sempat atau tidak dapat kesempatan belajar mencintai dirinya sendiri dulu, sehingga kurang paham bagaimana mencintai anaknya. Mungkin mereka menghadirkan nyawa baru karena tekanan keluarga atau mereka di sekitar?; mungkin nyawa baru menjadi tambal permasalahan yang menganga dengan pasangannya?; mungkin karena distraksi dari kebosanan?

Anak itu nyawa baru yang hadir bukan untuk membungkam bising yang datang dari mulut keluarga; bukan menjadi api yang menghangatkan ranjang yang sudah dingin; bukan sekedar penerus genetik; apalagi bukan asesoris untuk dipamerkan di dunia maya, setelah dijepret kemudian dipindah-rawatkan ke tangan asisten rumah tangga.

Jason. Dia lahap bulat-bulat teriakan ibu-nya, dia akan mengemban bagasi jiwa yang tidak ringan. Dia ‘kan tumbuh besar dengan banyak pertanyaan, kebanyakan mempertanyakan diri sendiri. “Apa salahku?”

Bagasi yang tidak ringan yang jika tak terurai dengan sadar diri penuh, bisa menghancurkannya dan sekitar.

Anak, itu tanggungjawab. Kalau belum selesai dengan diri sendiri, lantas apakah pantas memiliki?

Published by

Marissa Anita

A multi-hyphenate: #journalist #actress #mc #moderator