Kenapa Sih Harus Bohong?

Saya kerap tidak mengerti kebiasaan orang berbohong. Bohong — apakah itu besar atau kecil — dua-duanya sama sama mengesalkan. 

Contoh: Janjian bertemu dengan seseorang. Namun si seseorang membatalkan pertemuan dengan alasan sakit. Pada nyatanya, seseorang ini ternyata ke-“gep” di sebuah, semisal, coffee shop dengan orang lain. Ketika tertangkap, alasan yang keluar dari mulutnya adalah “Oh iya, kemarin saya bilang saya akan ketemuan sama Si Anu karena Si Anu akan ke Singapura keesokan harinya. Maaf sekali mungkin penjelasan saya kurang jelas ke Anda.” 

Padahal alasan yang dia kemukakan sehari sebelumnya adalah: “Sakit.” (Sudah tertangkap basah pakai nge-les pula.)

Bohongnya masuk kategori kecil. Tapi sama menyebalkannya khan? 

White lies. Kebohongan putih. I don’t get it. 

Kenapa kita harus membuat-buat alasan ketika fakta sebenarnya lebih masuk akal? Karena kejujuran itu, sebagaimana pun buruknya, akan selalu jauh lebih dari daripada kebohongan. Ketika kita mendengar realita yang mungkin menyakitkan, tapi realita ini keluar dari mulut seorang yang jujur, setidaknya kita masih bisa menghormati atau bahkan mengagumi keberaniannya mengungkap sesuatu yang sulit namun jujur. Namun kalau berbohong, yang ada malah kita jadi kehilangan respect pada Si Pembohong Putih ini. 

Kepercayaan adalah sesuatu yang sulit kita dapatkan. Karena kepercayaan hanya terbentuk seiring berjalannya waktu dan dari konsistensi. Dan untuk konsistensi terbukti, butuh waktu. Dan ketika kita konsisten, reputasi lahir. Baik buruknya reputasi lagi-lagi tergantung pada kebiasaan atau habit kita. 

Lalu, apakah kita mau mengorbankan reputasi terpercaya hanya karena sebuah “kebohongan kecil”? 

 

Published by

Marissa Anita

A multi-hyphenate: #journalist #actress #mc #moderator