Dekat.

Kedekatan dengan seseorang bisa terukur dari seberapa nyaman kita bisa duduk dan diam dengannya tanpa merasa canggung.

Tanpa merasa harus mengisi sunyi itu dengan percakapan hanya demi menyingkirkan canggung itu.

Kedekatan seperti ini paling nyaman.

Kenapa Sih Harus Bohong?

Saya kerap tidak mengerti kebiasaan orang berbohong. Bohong — apakah itu besar atau kecil — dua-duanya sama sama mengesalkan. 

Contoh: Janjian bertemu dengan seseorang. Namun si seseorang membatalkan pertemuan dengan alasan sakit. Pada nyatanya, seseorang ini ternyata ke-“gep” di sebuah, semisal, coffee shop dengan orang lain. Ketika tertangkap, alasan yang keluar dari mulutnya adalah “Oh iya, kemarin saya bilang saya akan ketemuan sama Si Anu karena Si Anu akan ke Singapura keesokan harinya. Maaf sekali mungkin penjelasan saya kurang jelas ke Anda.” 

Padahal alasan yang dia kemukakan sehari sebelumnya adalah: “Sakit.” (Sudah tertangkap basah pakai nge-les pula.)

Bohongnya masuk kategori kecil. Tapi sama menyebalkannya khan? 

White lies. Kebohongan putih. I don’t get it. 

Kenapa kita harus membuat-buat alasan ketika fakta sebenarnya lebih masuk akal? Karena kejujuran itu, sebagaimana pun buruknya, akan selalu jauh lebih dari daripada kebohongan. Ketika kita mendengar realita yang mungkin menyakitkan, tapi realita ini keluar dari mulut seorang yang jujur, setidaknya kita masih bisa menghormati atau bahkan mengagumi keberaniannya mengungkap sesuatu yang sulit namun jujur. Namun kalau berbohong, yang ada malah kita jadi kehilangan respect pada Si Pembohong Putih ini. 

Kepercayaan adalah sesuatu yang sulit kita dapatkan. Karena kepercayaan hanya terbentuk seiring berjalannya waktu dan dari konsistensi. Dan untuk konsistensi terbukti, butuh waktu. Dan ketika kita konsisten, reputasi lahir. Baik buruknya reputasi lagi-lagi tergantung pada kebiasaan atau habit kita. 

Lalu, apakah kita mau mengorbankan reputasi terpercaya hanya karena sebuah “kebohongan kecil”? 

 

Manusia Memuakkan!

Makan siang yang seharusnya nikmat menjadi memuakkan ketika saya melihat seorang anak berusaha merekam/memfoto seorang anak lelaki gemuk – mungkin berusia 10 tahun – yang sedang menangis meraung karena diledek saudaranya. Sang perekam pun adalah anak lelaki seumuran berkacamata yang ternyata saudara kandung si bocah gemuk yang sedang tersiksa.

 

Saudara kandung mempermalukan saudaranya sendiri di tempat umum. Mungkin dia berpikir, betapa “keren”nya jika ia bisa mem-posting video/foto “Si Adik Cengeng” di sosial media, di Facebook? Twitter? Apa pun itulah dimana tombol LIKE menunggu untuk dipencet. Inikah generasi baru kita? Generasi yang terpapar kecanggihan digital, terpapar dampak negatif sosial media yang mendorong narsisisme — mencari popularitas di atas penderitaan orang lain – hanya demi mendapatkan belasan, puluhan, ratusan atau ribuan tombol LIKE?

 

Dangkal!

 

Yang lebih mencengangkan, di antara dua ‘preman’ kecil dan anak yang dipermalukan, ada lebih dari 5 orang tua yang tidak melakukan apa-apa ketika sang preman menjadikan saudara kandungnya sendiri korban bual-bualan hingga menangis kesakitan di depan publik. Mereka semua hanya menunduk, meneruskan makan seakan tak terjadi apa-apa. Seakan tak peduli apakah kericuhan ini mengusik kenyamanan tamu lain atau tidak.

 

Apakah karena budaya timur yang “mengedepankan” budaya malu sehingga lebih baik menyelamatkan wajah sendiri daripada mengakui ketiga anak “liar” ini sebagai bagian dari mereka?

 

Dua hal ini sungguh memuakkan!

 

Tanpa bermaksud rasis, keluarga disfungsional ini kebetulan berdarah Tionghoa. Saya pun berdarah Tionghoa. Ketika itu pun saya tersadar, teringat ketika kecil saya sering di-bully keluarga – oleh nenek saya sendiri, berdarah Tionghoa. Ketika saya menangis, nenek mengejek saya memanggil saya “Terompet!”. Saya menangis semakin keras. Dan makin keras saya menangis, ia semakin memanggil saya “Terompet!!” dan bibi saya pun ikut-ikutan meledek. Sekali lagi, tanpa bermaksud rasis sama sekali, saya jadi bertanya pada diri sendiri, apakah memang ini termasuk cara ampuh dari budaya ini untuk ‘mendidik’ anak? Ataukah ini memang budaya “Timur” secara umum? Ataukah kebetulan saja?

 

Kalau boleh mengemukakan pendapat pribadi, anak adalah tanggung jawab besar. Jika memang tidak siap dan tidak mengerti cara mendidik anak, jangan punya anak. Jangan hanya karena tekanan keluarga untuk berkeluarga, kita jadi salah kaprah — membesarkan anak tanpa tahu betul cara mendidik dan mendisplinkan mereka secara sehat. Ini hanya akan melahirkan generasi baru tanpa empati.

 

Kita adalah Manusia yang seharusnya merasa bangga ketika berbuat baik tanpa harus menunjukkan ke publik kita telah berbuat baik. Kita adalah Manusia yang merasa bahagia ketika orang yang kita sayangi bahagia. Kita adalah Manusia yang mampu berempati dan menyejukkan hati yang remuk. Kita adalah Manusia yang memberi cinta, kasih sayang dan ketenangan ketika orang tersayang menitikkan air mata.

 

Kisah ini untungnya berakhir baik. Seorang tamu, lelaki berusia 40 tahunan, mendatangi meja keluarga disfungsional ini dan dengan tegas memaksa preman preman kecil menghentikan perbuatannya. “Stop! STOP! Kamu bangga merekam tangis adikmu dan memamerkannya ke teman teman di sosial media?! Kamu bangga?! Kita manusia. Mampu berpikir. Mampu berempati. Pikirkan! Bertindaklah sebagai manusia. Jangan seperti binatang!” tegasnya. Ia memarahi sang preman. Nah giliran sang preman yang dipermalukan. Sang pria pun kembali ke mejanya, meneruskan makan sambil terus mengawasi dan memelototi preman preman kecil, memastikan ia tidak mengulangi perbuatannya.  Tak lama ketika itu, barulah salah satu anggota keluarga dewasa mulai ‘mendidik’ ketiga anak ini, memarahi – memberikan pengertian — layaknya orang tua seharusnya ketika anak berlaku salah. Selesai makan, mereka meninggalkan restoran. Ibunda sang anak melambaikan tangan kepada sang pria 40 tahun dan pria pun mengangguk. Apakah keluarga disfungsional itu akan menjadi fungsional akibat kejadian ini, hanya Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya, mereka kini sedikit mengerti apa itu menjadi Manusia.   

 

Dan satu lagi, STOP BULLYING!

Hati Tenang. Stress Jauh. Hidup Lebih Lama.

Salah satu yang menyenangkan menjadi seorang jurnalis adalah ketika bertemu dengan narasumber. Mereka bak buku yang hidup. Masing-masing punya kisah menarik untuk kita cerna dan kemudian refleksikan. 

Minggu lalu saya sempat berbincang dengan kawan baru. Ia seorang pemilik kedai kopi trendi di bilangan Jakarta Barat. Sebut saja namanya Nyonya Lee. Yang awalnya berencana wawancara singkat tentang kedai kopi a la Baratnya, berlanjut menjadi cengkerama panjang tentang hidup hanya karena kami berdua punya kesamaan — pernah mengenyam pendidikan di Sydney, Australia.

Sambil makan sepotong kue coklat dengan krim jeruk, secangkir kopi hangat dan alunan musik jazz easy listening, mulailah Nyonya Lee bercerita. Ia bersaudara sembilan. Kebanyakan dari mereka tinggal di Australia atau negara barat lainnya. Satu per satu ia ceritakan dengan antusias. Namun keceriaannya hilang ketika bercerita tentang satu saudara perempuannya. Ia meninggal di usia 30 tahun karena kanker. “Ya. Dia tinggal di Sydney. Padahal makannya bagus. Olah raga teratur. Hidup sehat pokoknya,” kata Nyonya Lee. Melihat wajah saya yang bingung, ia menyambung kalimatnya, “tapi ya itu . . . Stress. Dengan suami dan perceraiannya.” Ketika melihat raut wajah Nyonya Lee, saya memutuskan untuk tidak menanyakan lebih detil perceraian dan sakit sang kakak perempuan. 

Hidup kita memang tidak jauh dari dua macam emosi: negatif dan positif. Saat hal-hal menyenangkan bertandang dalam hidup, nikmati seakan tak ada hari esok. Ketika malang datang dan menyakiti hati, menangislah sampai rasa sakit mereda. Perasaan negatif membuat kita stress, akhirnya tidak nyaman secara fisik dan mental. Ketika kita stress, tanpa kita sadari kita bunuh diri/memperpendek hidup, karena penyakit mematikan biasanya merupakan hasil mutasi buruk yang berakar dari stress. Bicaralah pada orang terkasih atau yang Anda percaya yang bisa obyektif dan menyejukkan hati — apakah itu orang tua, pasangan, atau teman dekat. Beruntung dari curahan hati ini, muncullah solusi dari problema yang kita hadapi. Ketika hati tak kunjung tenang, ada satu cara: meditasi (sesuai dengan kepercayaan masing-masing). Carilah tempat yang tenang dan mulailah bicara pada Sang Pencipta layaknya meluapkan curahan hati dengan seorang teman lama. Hati tenang. Stress jauh. Hidup lebih lama. 

Image

Photo by: Holstee Manifesto

 

 

A CV that Gets You the Job

Beberapa waktu lalu, saya pernah men-tweet pentingnya pendidikan demi menjaga kestabilan ekonomi. Ada yang setuju, ada yang tidak. Namun ada satu komentar yang membuat saya berpikir. Ia mengatakan bahwa jaman sekarang susah cari kerja meski memegang gelar sarjana. Kemudian saya membayangkan, jika saya menjadi kepala Human Resource Development (HRD) sebuah perusahaan, apalagi kalau perusahaan itu “seksi” atau menjadi target banyak fresh graduates, saya pasti akan menerima ratusan bahkan mungkin ribuan CV dalam sebulan. Saya tidak akan punya waktu untuk benar-benar membaca seksama setiap CV di meja dan akhirnya banyak lulusan baru yang menganggur. Lalu bagaimana kita bisa membuat CV kita menarik perhatian sang kepala HRD? Mungkin saya boleh berbagi sedikit bagaimana membuat CV yang mudah dibaca, alhasil eye-catching. 

Yang jelas, sebuah CV harus mampu menunjukkan kita adalah orang yang tepat untuk posisi yang kita incar. CV juga harus bisa menunjukkan kita punya pengalaman, kualifikasi dan keterampilan yang berguna untuk melaksanakan jabatan itu. 

Tubuh CV terdiri dari: 

  • Personal Profile (Profil Pribadi)
  • Work Experience (Pengalaman Kerja)
  • Education (Pendidikan) 
  • Skills (Kemampuan Lain) 
  • Reference (Pemberi Referensi) 

Personal Profile adalah keterangan singkat mengenai diri kita, apa harapan dan yang bisa kita tawarkan jika kita diterima bergabung dengan perusahaan ini. 

Work Experience adalah pengalaman kerja kita selama ini. Jika kita baru lulus, namun saat kuliah punya pengalaman kerja part-time atau keorganisasian, bisa kita tulis di sini. 

Education & Qualifications adalah latar belakang pendidikan kita (formal dan informal). Jangan lupa cantumkan prestasi (IP, atau penghargaan yang kita terima selama menjadi mahasiswa/i). Cantumkan juga judul skripsi apabila relevan dengan jabatan yang kita incar. 

Skills adalah kemampuan yang kita dapatkan dari kursus. 

Reference adalah orang yang pernah bekerjasama dengan kita dan dapat memberikan testimoni mengenai kualitas dan etos kerja kita jikalau perusahaan membutuhkan background check mengenai kita. 

Penggunaan Bahasa: jelaskan kontribusi nyata Anda di setiap bagian CV. Misalnya: 

Anda pernah menjadi penyiar di kampus Anda selama 3 tahun. Anda ingin melamar menjadi penyiar di sebuah radio hits di Jakarta. Cara menulis:

2000-2003 | Penyiar Radio Hits 

Saya memproduksi tiga acara baru untuk Hits Radio dalam waktu tiga tahun di kampus saya. Saya menjadi produser, DJ, guestbooker, dan sound editor selama menjabat. Saya juga delapan liputan seputar Java Music Festival yang saya rekam di lapangan, edit dengan ProTools. 

Dan yang paling penting: CV kita harus jujur! 

Happy job hunting, and good luck! Image

ImageImage

Everything is Going to be All Right

“Keyakinan itu bagaikan burung yang merasakan cahaya dan bernyanyi ketika subuh masih gelap” – Rabindranath Tagore

Punya kesempatan untuk hidup itu adalah hadiah terindah bagi manusia. Bayi terlahir bagaikan kertas putih. Pengalaman hidup yang naik turun adalah guratan tulisan yang mengisi “buku kehidupan” kita.

Pengalaman hidup itu seperti sebuah koin. Pengalaman indah bisa membuat manusia makin indah. Namun pengalaman yang terlalu indah bisa membuat manusia lupa diri. Sementara pengalaman buruk bisa menjerumuskan seseorang ke hidup tersiksa dan sedih tak berujung. Namun juga bisa membuat seseorang kuat menjalani hidup dan membagi kekuatannya dengan mereka di sekitarnya. Dua sisi pengalaman hidup inilah yang membentuk karakter, membantu menempatkan dan menentukan bagaimana kita berinteraksi di masyarakat.

Setiap orang pasti mengalami tingkat tantangan hidup yang berbeda-beda. Seberapa pun beratnya tantangan hidup, jangan pernah biarkan kesedihan, amarah dan keputus-asaan merundung terlalu lama. Karena ketika kita membiarkan energi positif menang dalam diri, hal-hal baik pun akhirnya akan datang.

“Faith is the bird that feels the light and sings when the dawn is still dark.” – Rabindranath Tagore

Live for Love for Happiness

Do you marry for love or for money? Apakah Anda menikahi seseorang demi cinta atau uang?

Pertanyaan ini saya lempar ke Twitter dan mendapatkan jawaban bervariasi. Ada yang menikah demi uang. Ada yang demi cinta. Ada yang demi dua-duanya. Ada yang demi masa depan. Ada yang demi orang tua. Ada yang demi seks. Ada yang demi Tuhan.

Menarik. Dan tentunya semua orang punya alasan sendiri-sendiri.

Menikah adalah keputusan besar dalam hidup kita. Ketika saya memutuskan untuk menikah karena saya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan komunikasi antara saya dan pasangan yang seperti tak ada ujungnya.

  • Karena kita memiliki kemiripan hobi dan pandangan hidup.
  • Karena dia menjalankan hidup dengan passion dan mendukung penuh saya menjalankan hidup dan pekerjaan sesuai dengan passion saya.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ketrampilan untuk menciptakan hidup yang nyaman dan berkecukupan.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ilmu yang saya bisa pelajari begitu pula sebaliknya.
  • Karena kita bisa terbuka dan apa adanya dengan satu sama lain.
  • Karena kita bisa jujur mengenai semua hal — apakah itu hal yang baik atau pun hal kurang mengenakkan.
  • Karena saya bisa menjadi diri sendiri — dengan segala kekurangan dan kelebihan — dan dia tetap mencintai saya begitu pula sebaliknya.
  • Karena dia memiliki empati dan mampu mengajarkan empati.
  • Karena dia menganggap saya sejajar; mendengarkan pendapat dan mempertimbangkan pendapat atau pandangan saya terhadap sesuatu begitu pula sebaliknya.
  • Karena saya tidak pernah berhenti merindukannya ketika dia pergi dinas ke luar kota atau mengunjungi keluarga besar di negeri seberang.
  • Karena komunikasi kita tidak berhenti pada hal-hal garis besar, melainkan semua topik menarik yang sedang hangat.
  • Karena dia selalu makan sampai habis makanan yang saya masak apakah itu tidak enak, biasa atau enak (tergantung mood) tanpa mengeluh.
  • Karena kita bisa bicara dan bercanda tentang apa saja. Saya tidak pernah merasa dia akan terganggu dengan candaan saya separah atau segokil apa pun itu, begitu pula sebaliknya. Dan yang terpenting . . .
  • Karena saya tidak bisa hidup tanpa dia begitu pula sebaliknya.

Mungkin ini bisa menjadi sebagian dari checklist sebelum kita memutuskan untuk menjadikan kekasih kita sekarang sebagai pasangan seumur hidup. Saya yakin masih banyak lagi poin-poin yang Anda miliki untuk melengkapi kebahagiaan dalam hidup. Live for love for happiness!

20130331-092241.jpg