How to Train Your Dragon

Dreamworks kembali menghadirkan film animasi andalan setelah perusahaan film ini meraup kesuksesan dengan Shrek yang dirilis tahun 2001. How to Train Your Dragon adalah film yang tidak hanya ramai dibicarakan anak-anak melainkan juga para penikmat film usia dewasa. Film yang diadaptasi dari novel karya novelis Inggris Cressida Cowell ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang remaja lelaki bernama Hiccup yang hidup di bawah bayang-bayang dan harapan besar ayahnya Stoick yang bersuku Viking.

Untuk menunjukkan ke-Viking-an seseorang, ia harus berhasil membunuh musuh bebuyutan mereka yakni naga-naga yang sering berkeliaran dan merusak desa mereka. Suku Viking dan naga telah bermusuhan sejak jaman nenek moyang mereka. Namun dengan kehadiran Hiccup, sejarah dendam kesumat antara kedua pihak yang selama ini tertoreh dalam buku suku Viking terhapus. Remaja pandai, kutu buku, bertubuh kurus dan ringkih ini mampu menaklukan naga terganas dalam legenda Viking tanpa perang dan kekerasan.
Dalam film ini, Anda dapat melihat bagaimana kualitas animasi Dreamworks perlahan namun pasti bersaing ketat dengan Pixar. Pada film animasi, umumnya, para aktor mengisi suara karakter dalam ruang dan waktu yang berbeda. Beda halnya dengan How To Train Your Dragon. Film ini memiliki pengucapan dialog yang alami layaknya film non-animasi di mana para aktor berinteraksi dan bereaksi spontan terhadap satu sama lain.

Kisah film ini diliputi alegori. Di saat anak-anak dapat menikmati petualangan antara anak manusia dan naga serta mengenyam nilai moral yang baik dan solid, orang dewasa memperoleh interpretasi mendalam yang menekankan pentingnya keluarga dan sikap toleransi yang besar antar sesama – atau dalam konteks film ini, antara mahkluk yang berbeda.

Sejumlah bintang ternama yang turut “menghembuskan hidup” pada karakter animasi ini adalah Gerard Buttler dari film kolosal karya Zack Snijder “300” dan America Ferrera dalam serial “Ugly Betty”. Buttler berperan sebagai ayah Hiccup yang bertubuh kekar dengan idealisme Viking yang tinggi. Sedangkan Ferrera berperan sebagai gadis pandai dan disiplin idaman Hiccup. Karakter Hiccup sendiri diperankan Jay Baruchel, aktor yang pernah menyabet peran kecil di film nominasi Oscar Million Dollar Baby pada tahun 2004.

Ekspresi karakter animasi ini begitu mengesankan sampai-sampai Anda bisa melihat sebersit wajah Buttler pada raut Stoick. Gerak tubuh karakter pun luwes dan bernuansa hampir menyerupai karakter film non-animasi. Sejumlah bintang peran pembantu lainnya yang turut meramaikan layar yakni Craig Ferguson, David Tennant, and Ashley Jense, Jonah Hill dan Kristin Wiig.

Humor non-slapstick yang tersaji dalam film ini dapat dicerna baik anak-anak maupun orang dewasa. Penulisan naskah dengan bahasa sederhana namun cerdas.

Saat pertama kali dirilis di Amerika Serikat akhir Maret lalu, How To Train Your Dragon langsung menggeser posisi “Alice In Wonderland” karya Tim Burton yang sempat bertahan selama 3 minggu. Pada akhir minggu pembukaan, How To Train Your Dragon langsung meraup US$43,3 juta atau setara Rp392,6 miliar.
Tak hanya menulis dan menyutradarai film ini, Dean DeBlois dan Chris Sanders juga merancang Toothless secara khusus. Jika pada dasarnya seekor naga lebih menyerupai reptil, Toothless sengaja dibuat lebih menyerupai seekor mamalia yang lebih memberikan kesan hangat. Meski Toothless adalah naga legenda terganas dalam kamus Viking, Anda akhirnya akan terhanyut dan tergelitik dalam sejumlah adegan manis antara Hiccup dan Toothless.

Film animasi ini hadir dalam dua versi yakni 3-dimensi dan 2-dimensi. Bagi Anda yang terkesan dengan adegan angkasa Avatar, aksi terbang di angkasa How To Train Your Dragon ini tidak kalah serunya! Jika kocek terbatas, 2-dimensi pun dapat memuaskan Anda rasa penasaran Anda. Atau bahkan . . . membuat Anda ingin menonton untuk kedua kalinya!

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0892769/

Prince of Persia: The Sands of Time

Suatu hari di tahun 90an, sepulang sekolah, saya dan kakak terkadang menyempatkan memainkan Prince of Persia di komputer. Grafik dua dimensi, gerakan jagoan Dastan yang lincah melompati batu-batu dan meminum ramuan warna-warni membuat waktu bermain seru dan menegangkan! Kini permainan komputer ini bisa kita lihat dalam film Prince of Persia: The Sands of Time. Setelah sekian lama ngiler melihat trailer Prince of Persia (PoP), akhirnya baru-baru ini saya dapat menjawab rasa penasaran saya terhadap film action kolosal ini.

Setelah performa memukau Jake Gyllenhaal di Brothers, kini ia kembali menghiasi layar lebar dengan otot yang lebih besar dan mungkin image yang lebih seksi sebagai Dastan, sang pangeran Persia. Lawan mainnya tak kalah menarik. Gemma Arterton yang sebelumnya memiliki peran kecil dalam film James Bond: Quantum of Solace, kini menyabet pemeran utama wanita, putri Tamina, dengan warna kulit yang lebih gelap dan bentuk tubuh yang aduhai – sangat eksotis!

Di tambah lagi kehadiran aktor kawakan Inggris Ben Kingsley dengan kemampuan akting yang secara konstan maksimal ini. Sayangnya setelah selesai menonton saya tidak begitu puas dengan film kolosal ini. Alasannya bervariasi. Mulai dari hasil suntingan yang terkesan dipaksakan membuat film tidak memiliki alur yang terputus. Kemungkinan besar dikarenakan produser film ini Jerry Bruckheimer yang mengharuskan sutradaranya memotong banyak adegan dalam film karena film ini dinilai Jerry Bruckheimer terlalu panjang. Sejumlah adegan bahkan terkesan mulai dari tengah-tengah. Saya pun baru mengerti alur ceritanya setelah film 2/3 berjalan tepatnya ketika sang Putri Tamina menceritakan mengapa belati suci ini sangat penting dan kasiatnya yang mengagumkan.

Jake Gyllenhaal yang performa akting di film-film sebelumnya sangat optimal pun terlihat setengah hati dan tidak menjiwai. Ini pun terlihat dalam sejumlah wawancara promosi film Prince of Persia ini di berbagai media. Gyllenhaal yang biasanya sangat antusias dan spesifik menjelaskan karakter peran dan alur cerita film-filmnya, tidak memancarkan cahaya antusiasme di matanya. Gyllenhaal tampak kikuk mungkin juga karena ia seorang kebangsaan Amerika Serikat yang harus melafalkan aksen Inggris. Ia memang mengaku sangat hati-hati dengan aksen Inggrisnya itu, mengetahui orang Inggris secara umum sangat mudah mengkritik aktor yang melafalkan aksen Inggrise tidak sempurna.

Anehnya, sang sutradara tampaknya mengharuskan Jake memiliki aksen Inggris, padahal latar belakang film ini di Persia (sekarang Iran). Mestinya jika Jake memiliki aksen Amerika pun tak apa karena dia sendiri bukan berasal dari keluarga kerajaan (seluruh anggota keluarga kerajaan memiliki aksen Inggris).

Hubungan antara putri Tamina dengan Dastan pun terasa terlalu cepat bersemi. Dastan baru saja membantu saudara kandungnya menghancurkan kota milik Tamina. Namun sesaat setelah kota hancur, Tamina langsung jatuh cinta ketika pertama kali beradu pandang dengan Dastan. Secara logika, pasti ada amarah yang kemudian tumbuh menjadi cinta seiring dengan berjalannya waktu. Meski begitu, Dastan dan Tamina terlihat sangat ideal, pasangan cantik dan ganteng ini tentunya menjadi pemandangan nan molek bagi para penonton.

Film ini sebenarnya berdurasi lebih dari 116 menit. Namun produser film ini, Jerry Bruckheimer meminta sutradara Mike Newell memangkas sejumlah adegan. Alhasil film ini terkesan terpotong-potong. Dalam wawancaranya dengan Movies Online, Bruckheimer mengatakan tidak ingin membuat penonton duduk di bioskop terlalu lama. Padahal, banyak sejumlah film panjang yang meraih sukses di mata penonton seperti film kolosal James Cameron Titanic (1998) berdurasi 194 menit atau lebih dari 3 jam!

Meski ceritanya terkesan terpotong-potong, Ben Kingsley dengan pengalaman akting selama bertahun-tahun, mampu memberikan performa akting yang konsisten dan baik.

Tema dari film ini yakni adalah memperjuangkan pihak yang benar. Tampaknya film Prince of Persia ini juga menyentuh topik modern yakni pertarungan antara Amerika Serikat dengan Iraq. Karena kerajaan Persia menuduh kota Tamina memiliki senjata yang dapat menghancurkan Persia. Namun tentunya satir ini dalam konteks lebih ringan – dari segi film, Prince of Persia mungkin meraih sukses biasa saja. Meski begitu, Prince of Persia menjadi gamepaling sukses tahun ini lho!

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0473075/