S.A.L.T

Angelina Jolie adalah seorang bunglon. Seluruh peran yang ia mainkan tak pernah terlihat kaku atau aneh. Dari seorang supermodel bermasalah di Gia. Seorang ibu penuh kasih sayang yang kehilangan anaknya di Changeling. Hingga peran wanita perkasa di Tomb Raider dan Wanted. Tahun ini Jolie kembali bermain-main dengan pistol, berjingkrak, melompat dari satu kendaraan ke kendaraan lain, dengan wajah dan tubuh penuh memar! Peran yang awalnya ditulis untuk Tom Cruise ini disabet Angelina Jolie dengan performa yang sama sekali tidak mengecewakan.

Dari Edwin Salt ke Evelyn Salt, dalam film arahan sutradara Australia Phillip Noyce, Jolie memerankan seorang agen CIA yang tentunya identitasnya di masyarakat selalu berubah. Suatu hari ia mengaku sebagai seorang petinggi perusahaan minyak di Amerika Serikat. Lain hari ia seorang agen rahasia Amerika Serikat. Lain hari lagi ia dituduh sebagai mata-mata Rusia. Who is Salt? Inilah pertanyaan yang muncul saat Anda menyaksikan film ini. Bagi Anda yang kangen dengan film action Jolie, mungkin ini bisa menjadi pelipur lara. Sejak dirilis, Salt telah menerima sejumlah pujian dari film kritik internasional. Bagi saya, film Jolie terdahulu Wanted lebih menarik dibandingkan Salt. Plot dari film ini cukup sederhana: seorang wanita yang ingin menyelamatkan dunia dari serangan nuklir.

Memang sepertinya tidak ada sesuatu yang baru jika dibandingkan dengan Wanted yang menggambarkan sekelompok pembunuh yang memiliki kemampuan membelokkan peluru yang mereka tembakkan. Tetapi justru yang membuat hal ini menarik karena film ini ditarik dari kehidupan seorang agen CIA yang sebenarnya. Semua pihak yang pernah menjadi agen CIA tidak pernah membuka identitas mereka sebenarnya sampai mereka pensiun. Bayangkan hidup dalam “kebohongan” selama puluhan tahun, tidak bisa membicarakan masalah yang mereka hadapi kepada anggota keluarga terdekat.

Meski ceritanya cukup sederhana, saya yakin Anda bisa tetap menikmatinya. Angelina Jolie jelas adalah aktris yang bertubuh molek dengan wajah yang enak dipandang. Baik laki-laki dan perempuan dapat menikmati “pemandangan indah” ini. Plus, pernahkah Anda melihat Jolie versi lelaki? Tonton Salt dan rasa penasaran Anda akan terjawab. Sebagai film action, Salt cukup seru dan menghibur. Tapi apakah film ini sangat mengagumkan? Mmm . . . OK lah

Despicable Me

Setelah diputar beberapa kali sebagai promo di Metro Pagi, akhirnya film animasi karya Universal Studios ini diputar di bioskop. Selang beberapa hari setelah diluncurkan, pendapat kanan kiri mengatakan film yg dipenuhi makhluk kuning berbentuk kacang ini lucu sekali. Ingin ikut tergelitik, saya akhirnya menonton Despicable Me di salah satu bioskop di Jakarta.

Tiga bintang yang sekarang sedang naik daun turut menghiasi layar lebar. Komedian Steve Carell mengisi suara sang peran utama Gru – seorang kriminal kelas kakap yang hanya mau mencuri karya-karya besar dengan bantuan Dr Nefario (Russel Brand). Tiba-tiba reputasi ini diserobot kriminal pendatang baru Vector (Jason Segel) yg merupakan anak dari pemilik Bank of Evil. Vector berhasil menggemparkan dunia saat ia berhasil mencuri Piramid Giza di Mesir. Untuk menandingi keberhasilan Vector, Gru memutuskan untuk melakukan aksi yg lebih ekstrem – mencuri bulan! 

Ide awal yang menjadi dasar film ini, menurut saya, tidak kuat. Dalam film buatan Perancis ini, pencurian bulan oleh Gru tidak memiliki resiko atau stakeyang tinggi – tidak dijelaskan sama sekali apakah hilangnya bulan akan berdampak buruk pada jutaan manusia di dunia. Malah film ini hanya berkutat pada persaingan antara Vector dan Gru terkait siapa yang akan menjadi kriminal terkakap di dunia. Siapa peduli dengan kemenangan seorang penjahat menguasai bulan? Alhasil ide dasar ini menjadikan Despicable Me film yang dangkal. 

Film yang menarik selalu memiliki suatu unsur yang dipertaruhkan atau stake. Selain itu, film juga harus memiliki tokoh-tokoh/karakter yang membuat kita simpati dan mendukung mereka dari awal hingga akhir cerita. Enam puluh menit film berlangsung, Gru masih tidak memiliki sifat yang disukai penonton. Berbeda halnya dengan si kakek pemarah Carl di film animasi Up. Meski Carl sering cemberut dan emosian, pada awal film, penonton langsung diajak melihat sisi lembut Carl sebagai anak-anak, kekasih dan suami yang setia pada istrinya. Sehingga, penonton langsung tahu, dibalik wajah keras Carl, terdapat hati yang lembut. 

Tiga gadis kecil yatim piatu yang diadopsi Gru sesekali menjadi pemanis. Tiga gadis kecil inilah yang nantinya merubah Gru menjadi orang yang lebih baik. Meski begitu Margot (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier) dan Agnes (Elsie Fisher) ini pun hanya mengandalkan sikap cute (manis dan lucu) untuk menarik perhatian penonton. Itu saja. Saya sebagai penonton tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap ketiganya seperti saya “jatuh cinta” pada karakter Russ di salah satu animasi andalan Pixar Up. Hubungan antara Gru dengan makhluk berbentuk kacang kuning juga hanya sebatas atasan dan bawahan. Padahal poster Despicable Me memberikan kesan ada hubungan yang lebih personal antara Gru dan ratusan makhluk kacang ini. Makhluk kacang ini pun akhirnya terkesan hanya menjadi peramai suasana saja. 

Setidaknya dari sejumlah poin negatif yang telah saya kemukakan, masih ada sisi positif dari film ini. Soundtrack Despicable Me setidaknya masih enak didengar. Karya musisi hip hop karya Pharell Williams yang muncul di sejumlah adegan menceriakan suasana dengan dentuman dan nada yang catchy yang memberikan semangat saat rasa kantuk melanda. Satu-satunya humor cerdas yang berkesan adalah saat Gru mencoba meminta pinjaman dari Bank Kejahatan atau Bank of Evil untuk muluskan proyek pencurian bulannya itu. Tepat di bawah tulisan Bank of Evil: “Dulu Dikenal Sebagai Lehman Brothers” – sebuah perusahaan layanan finansial yang koleps dan menghancurkan ekonomi dunia pada tahun 2008. 

Sebagai film anak-anak, mungkin Despicable Me mungkin sukses. Tetapi bagi orang dewasa, film ini jauh dari memuaskan. Apalagi mengingat begitu banyak film animasi sukses yang dapat dinikmati segala usia seperti How to Train Your Dragon dan Toy Story 3. Secara keseluruhan Despicable Me tidak jauh dari arti judulnya. Ironically, Despicable Me is indeed despicable. 

Durasi: 95 menit | Sutradara: Pierre Coffin & Chris Renaud | Penulis: Sergio Pablos & Ken Daurio


Splice

“Apa jadinya jika manusia dan binatang memiliki seorang anak?”

Anda bisa melihat imajinasi ini menjadi nyata dalam film terbaru karya Vincenzo Natali dan Guillermo Del Toro – Splice. Penggandaan makhluk hidup atau kloning telah menjadi ide/konsep yang kontroversial sejak muncul pada akhir abad 19. Namun rasa ingin tahu manusia pada dasarnya tidak berbatas. Nah,Splice ini mengisahkan tentang dua ilmuwan muda, Clive (Adrian Brody) dan Elsa (Sarah Polley) yang mengawinkan DNA sejumlah binatang, menghasilkan makhluk hidup baru. Walau “karya” mereka ini mengagumkan bagi publik, kedua ilmuwan ini kurang puas. Dengan tidak mengindahkan moral dan etika, mereka mencoba mengawinkan DNA manusia dengan hewan – jadilah Dren – tokoh alien bertubuh dan berwajah manusia, namun berkaki binatang dan berekor. Aneh namun mengagumkan; seksi sekaligus menyeramkan. Setelah lama tidak tampil di layar lebar, aktor penerima piala Oscar, Adrian Brody, bertemu kangen dengan para fans dalam film Sci-Fi horor ini. Wajah Brody yang sendu cenderung lancip; dan jarak mata aktris Kanada Sarah Polley yang  agak berjauhan, semakin mendukung keanehan film ini.

Film berbudget rendah ini hanya diperankan kurang dari sepuluh aktor dengan pengambilan gambar setidaknya di tiga lokasi di Toronto dan Hamiton, Kanada. Namun fitur yang paling mencolok dari film ini tentunya adalah teknologi grafis yang menghasilkan sejumlah makhluk aneh yang terlihat bagaikan sungguhan! Saat menonton, saya sempat bertanya pada diri sendiri, apakah Dren ini murni hasil komputer grafis atau diperankan oleh seorang aktris. Dren hanya memiliki tiga jari, berkaki hewan, berkepala botak dengan mata besar alien. Hebatnya, dalam menghasilkan efek ini, Natali hanya menggunakan perangkat lunak seadanya yang bisa dibeli di toko komputer serta teknologi sederhana. “Kami tidak punya dan tidak perlu bugdet seperti James Cameron (Avatar),” katanya.  Nah, “Perkawinan” antara aktris Perancis Delphine Chaneac dengan CGI (Computer-Generated Imagery) ini menghasilkan Dren yang mengubek-ubek emosi penonton – dari rasa sayang, ngeri, hingga sedih – semua campur aduk.

Sutradara sekaligus penulis dari film ini Vincenzo Natali terinspirasi dari eksperimen ilmiah sungguhan. Masih ingatkah Anda pada seekor tikus berpunggung telinga manusia pada 1997? Meskipun Tikus Vacanti ini bukan hasil perkawinan antara gen manusia dengan hewan, eksperimen ini cukup untuk membuat Natali merealisasikan imajinasi liarnya dalam Splice. Jika Anda tertarik menonton ini, siap-siap melihat potongan adegan hubungan seksual tidak konvensional antara Dren dan manusia. Sejumlah adegan juga memperlihatkan Dren dalam keadaan “polos” jadi anak-anak tentunya tidak direkomendasikan menonton film ini.

Semakin maju jaman, semakin pandai dan canggih kemampuan manusia. Tak terhitung banyaknya jumlah karya manusia yang mempermudah kehidupan di dunia. Dari transportasi, komunikasi, kebutuhan medis dan banyak lagi. Manusia bahkan telah menemukan formula untuk menggandakan makhluk hidup. Pertanyaan: haruskah kita berhenti di sini atau lanjutkan gunakan pengetahuan untuk menciptakan makhluk/manusia baru? Jawablah pertanyaan ini setelah Anda saksikan Splice!

Durasi: 104 menit | R-Rating | Sutradara & Penulis: Vincenzo Natali 


Inception

Pernahkah Anda bermimpi berada dalam mimpi dalam mimpi? Saya pernah. Dan saya baru tahu ternyata mimpi berlapis ini juga pernah dialami banyak orang ketika sineas Christopher Nolan menelurkan karya terbarunya: Inception.

Film yang bertabur bintang Hollywood ternama ini ternyata tidak hanya apik dilihat, namun juga memiliki ide dasar yang membuat Anda berdecak kagum di awal, pertengahan, dan akhir film. Inception berkisah tentang petualangan Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan  kawan kawan yang berprofesi “ekstraktor” – seseorang yang bisa mengakses mimpi orang lain untuk mendapatkan informasi rahasia.

Cobb yang merupakan seorang buron lari dari Amerika Serikat karena dituduh membunuh istrinya Mal (Marion Cotillard). Cobb yang sangat ingin pulang ke Amerika, kembali ke kedua anaknya, akhirnya bertransaksi dengan Saito (Ken Watanabe) – seorang bos besar kaya raya yang bisa “mengatur” kepulangan Cobb. Syaratnya, Cobb harus menanamkan ide dalam benak saingan berat bisnis Saito, Robert Fisher Jr (Cillian Murphy), agar Fisher menghentikan potensi monopoli bisnisnya. Untuk menanamkan ide dengan sempurna, Cobb perlu mengutak-ngatik pikiran Fischer dalam lima tingkatan mimpi. Untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sempurna, Cobb menggunakan jasa Ariadne (Ellen Page) yang bertugas sebagai disainer mimpi.

Konsep awal Inception ini ternyata muncul saat Nolan kecil. “Saya sudah sangat tertarik dengan mimpi dan cara kerjanya sejak kecil. Saya selalu terpesona bagaimana pikiran kita, saat kita tertidur, dapat menciptakan sebuah dunia yang terasa sungguhan,” kata sineas Inggris ini. Sejumlah nama aktor kawakan mungkin bertebaran di film ini, namun penulis dan sutradara Chris Nolan membuat saya paling berdecak kagum karena ia mampu membuat fenomena mimpi yang rumit menjadi cerita yang detil dan jelas. Jika Anda menonton film ini, Anda pasti setuju, Nolan seorang sineas jenius!

Jika Anda dalam kondisi lelah atau mengantuk, saya sarankan untuk menonton film ini lain kali. Karena jika Anda melewatkan satu adegan saja, saya jamin Anda akan bingung saat film ini berakhir. Ini terjadi pada saya, sehingga akhirnya saya menonton Inception untuk kedua kalinya. Salah satu adegan favorit saya, yang saya yakin juga akan menjadi favorit Anda, adalah adegan berkelahi Arthur (Joseph Gordon-Levitt) di terowongan hotel. Rekan kerja Cobb ini tonjok-tonjokan dengan musuh sambil melayang di udara – mungkin mengingatkan kita pada the Matrix (2000) hanya lebih keren! Untuk membuat adegan ini terlihat sungguhan, Nolan khusus membangun sebuah terowongan dengan interior hotel yang ia sebut “kandang hamster”. Terowongan sepanjang 30 meter ini mampu berputar 360 derajat, menghasilkan adegan bergulat yang aneh namun mengagumkan.

Meski film ini berbudget 160 juta dolar, Nolan sebisa mungkin tidak banyak menggunakan teknologi komputer dalam Inception. Namun kita bisa memprediksi kemana sebagian uang ini dialokasikan. Nolan, kru dan para aktor terbang ke enam negara di empat benua – Jepang, Maroko, Prancis, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dan hanya dalam waktu 11 hari setelah film diluncurkan, Inception berturut-turut menjadi film nomor wahid di Amerika Serikat dan telah menghasilkan 234 juta dolar dari penjualan tiket di seluruh dunia! Film Inception pada dasarnya adalah sebuah film pencurian yang melibatkan sebuah tim, masuk ke daerah terlarang, dan berusaha menyelesaikan misi. Dengan sentuhan emas Nolan, Inception dibawa ke tingkatan filmheist yang lebih tinggi. Beli popcorn dan minuman, duduk senyaman mungkin, dan nikmati perjalanan menuju dunia mimpi manusia!

Durasi: 148 minutes | Genre: Sci-Fi/Thriller | Actors: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard,

Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, Tom Berenger, and Michael Caine |