Tangled

Bagi Anda yang familiar dan suka dengan film animasi a la Beauty and the Beast (1991) atau Aladdin (1992) karya Disney terbaru Tangled (2010) bisa menjadi film pelepas rindu. Tangled mengisahkan seorang gadis berambut sangat panjang yang terperangkap di istana gantung. Familiar dengan cerita ini? Ya memang Tangled ini merupakan adaptasi dari dongeng lama Rapunzel yang kemudian Disney modifikasi. Kini, dongeng ini tidak hanya penuh nilai moral yang baik untuk anak-anak (maupun orang dewasa) tetapi juga memiliki unsur komedi yang segar dan menghibur.

Kisah Rapunzel berawal dari setangkai bunga emas yang memiliki kekuatan ajaib. Wanita tua bernama Gothel menemukan bunga ini dan merawatnya dengan baik karena bunga ini mampu membuatnya tetap muda dan cantik. Sementara itu seorang ratu yang sedang hamil berada dalam kondisi lemah. Untuk itu pasukan kerajaan langsung mencari setangkai bunga emas yang dipercaya dapat mengembalikan kekuatan dan kesehatan. Setelah meminum ramuan bunga emas, sang ratu kembali sehat dan melahirkan seorang bayi perempuan mungil berambut emas — Rapunzel. Geram dengan hilangnya bunga emas, Gothel suatu hari memutuskan untuk menculik Rapunzel — gadis yang kini memiliki rambut dengan khasiat memudakan yang sama.

Selama 18 tahun Rapunzel tinggal di atas kastil gantung — tanpa teman (kecuali Bunglon kesayangannya Pascal) dan tidak pernah memijakkan kakinya ke tanah. Setiap tahun di hari ulang tahunnya, ia selalu melihat cahaya emas berterbangan dari istana (ini adalah peringatan hilangnya putri Rapunzel dari istana). Keinginannya untuk keluar dari kastil tidak terpenuhi karena larangan keras Gothel. Namanya manusia, semakin dilarang semakin penasaran, Rapunzel akhirnya “turun gunung”. Dengan bantuan pencuri kelas teri Flynn Rider, Rapunzel mengarungi perjalanan pencarian jati dirinya.

Masing-masing karakter membawa simbol tema tersendiri. Rapunzel (Mandy Moore) menggambarkan remaja yang tumbuh dewasa dan mencari jati diri. Seorang anak gadis yang baik dan penurut namun masih memiliki keinginan untuk tumbuh tanpa kekangan berlebihan orang tua. Namun di saat ia berontak, hati kecil Rapunzel berteriak dan merasa bersalah. Yah, pada dasarnya kecamuk emosi yang dialami semua remaja.

Flynn Rider (Zachary Levy), seorang anak muda sebenarnya tidak percaya diri namun menutupinya dengan kesombongan dan kebohongan. Namun dalam perjalanannya, ia belajar melakukan kebaikan tanpa pamrih.   Sementara ibu tiri Rapunzel, Gothel (Donna Murphy), bisa dibilang menggambarkan sisi over-protektif orang tua terhadap anaknya. “Mother knows best!” kata Gothel berkali-kali pada Rapunzel. Orang tua tahu apa yang terbaik untuk anak. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit keputusan orang tua yang hanya membawa sengsara bagi anak-anaknya. Jika karakter ibu tiri biasanya hadir dengan wajah dan suara keji, kali ini Gothel hadir sebagai seorang ibu yang selalu memasang wajah manis namun mulutnya menyemburkan belati. Kombinasi ini malah semakin membuat karakter Gothel lebih jahat dari karakter antagonis biasanya.

Dari seluruh karakter yang ada, ada satu yang akan curi perhatian Anda, si kuda putih Maximus. Karakter ini mungkin tidak bisa berbicara, namun ia “berbicara” dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang beragam. Adegan tengkar antara Flynn dengan Max menjadi salah satu adegan favorit saya, dan saya yakin Anda juga!

Film animasi musikal karya sutradara ini Nathan Greno dan Byron Howard, baru kurang dari tiga minggu setelah rilis, mampu menghasilkan US$193 juta atau Rp1,7 triliun. Bisa dibilang antusiasme penikmat film animasi klasik besar. Film hasil kombinasi gambaran tangan dan CGI ini tampaknya hanya available dalam versi 3-dimensi di Indonesia. Namun efek 3-dimensi ini jarang terlihat. Intinya, tanpa efek 3-dimensi pun, film ini masih bagus dan enak ditonton.

Film animasi klasik cenderung kaya dengan pesan moral dan kebaikan yang biasanya membantu anak-anak tumbuh berperilaku baik. Namun denganTangled, bukan hanya anak-anak yang ‘belajar’, orang tua pun bisa. Enjoy!

S.A.L.T

Angelina Jolie adalah seorang bunglon. Seluruh peran yang ia mainkan tak pernah terlihat kaku atau aneh. Dari seorang supermodel bermasalah di Gia. Seorang ibu penuh kasih sayang yang kehilangan anaknya di Changeling. Hingga peran wanita perkasa di Tomb Raider dan Wanted. Tahun ini Jolie kembali bermain-main dengan pistol, berjingkrak, melompat dari satu kendaraan ke kendaraan lain, dengan wajah dan tubuh penuh memar! Peran yang awalnya ditulis untuk Tom Cruise ini disabet Angelina Jolie dengan performa yang sama sekali tidak mengecewakan.

Dari Edwin Salt ke Evelyn Salt, dalam film arahan sutradara Australia Phillip Noyce, Jolie memerankan seorang agen CIA yang tentunya identitasnya di masyarakat selalu berubah. Suatu hari ia mengaku sebagai seorang petinggi perusahaan minyak di Amerika Serikat. Lain hari ia seorang agen rahasia Amerika Serikat. Lain hari lagi ia dituduh sebagai mata-mata Rusia. Who is Salt? Inilah pertanyaan yang muncul saat Anda menyaksikan film ini. Bagi Anda yang kangen dengan film action Jolie, mungkin ini bisa menjadi pelipur lara. Sejak dirilis, Salt telah menerima sejumlah pujian dari film kritik internasional. Bagi saya, film Jolie terdahulu Wanted lebih menarik dibandingkan Salt. Plot dari film ini cukup sederhana: seorang wanita yang ingin menyelamatkan dunia dari serangan nuklir.

Memang sepertinya tidak ada sesuatu yang baru jika dibandingkan dengan Wanted yang menggambarkan sekelompok pembunuh yang memiliki kemampuan membelokkan peluru yang mereka tembakkan. Tetapi justru yang membuat hal ini menarik karena film ini ditarik dari kehidupan seorang agen CIA yang sebenarnya. Semua pihak yang pernah menjadi agen CIA tidak pernah membuka identitas mereka sebenarnya sampai mereka pensiun. Bayangkan hidup dalam “kebohongan” selama puluhan tahun, tidak bisa membicarakan masalah yang mereka hadapi kepada anggota keluarga terdekat.

Meski ceritanya cukup sederhana, saya yakin Anda bisa tetap menikmatinya. Angelina Jolie jelas adalah aktris yang bertubuh molek dengan wajah yang enak dipandang. Baik laki-laki dan perempuan dapat menikmati “pemandangan indah” ini. Plus, pernahkah Anda melihat Jolie versi lelaki? Tonton Salt dan rasa penasaran Anda akan terjawab. Sebagai film action, Salt cukup seru dan menghibur. Tapi apakah film ini sangat mengagumkan? Mmm . . . OK lah

Despicable Me

Setelah diputar beberapa kali sebagai promo di Metro Pagi, akhirnya film animasi karya Universal Studios ini diputar di bioskop. Selang beberapa hari setelah diluncurkan, pendapat kanan kiri mengatakan film yg dipenuhi makhluk kuning berbentuk kacang ini lucu sekali. Ingin ikut tergelitik, saya akhirnya menonton Despicable Me di salah satu bioskop di Jakarta.

Tiga bintang yang sekarang sedang naik daun turut menghiasi layar lebar. Komedian Steve Carell mengisi suara sang peran utama Gru – seorang kriminal kelas kakap yang hanya mau mencuri karya-karya besar dengan bantuan Dr Nefario (Russel Brand). Tiba-tiba reputasi ini diserobot kriminal pendatang baru Vector (Jason Segel) yg merupakan anak dari pemilik Bank of Evil. Vector berhasil menggemparkan dunia saat ia berhasil mencuri Piramid Giza di Mesir. Untuk menandingi keberhasilan Vector, Gru memutuskan untuk melakukan aksi yg lebih ekstrem – mencuri bulan! 

Ide awal yang menjadi dasar film ini, menurut saya, tidak kuat. Dalam film buatan Perancis ini, pencurian bulan oleh Gru tidak memiliki resiko atau stakeyang tinggi – tidak dijelaskan sama sekali apakah hilangnya bulan akan berdampak buruk pada jutaan manusia di dunia. Malah film ini hanya berkutat pada persaingan antara Vector dan Gru terkait siapa yang akan menjadi kriminal terkakap di dunia. Siapa peduli dengan kemenangan seorang penjahat menguasai bulan? Alhasil ide dasar ini menjadikan Despicable Me film yang dangkal. 

Film yang menarik selalu memiliki suatu unsur yang dipertaruhkan atau stake. Selain itu, film juga harus memiliki tokoh-tokoh/karakter yang membuat kita simpati dan mendukung mereka dari awal hingga akhir cerita. Enam puluh menit film berlangsung, Gru masih tidak memiliki sifat yang disukai penonton. Berbeda halnya dengan si kakek pemarah Carl di film animasi Up. Meski Carl sering cemberut dan emosian, pada awal film, penonton langsung diajak melihat sisi lembut Carl sebagai anak-anak, kekasih dan suami yang setia pada istrinya. Sehingga, penonton langsung tahu, dibalik wajah keras Carl, terdapat hati yang lembut. 

Tiga gadis kecil yatim piatu yang diadopsi Gru sesekali menjadi pemanis. Tiga gadis kecil inilah yang nantinya merubah Gru menjadi orang yang lebih baik. Meski begitu Margot (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier) dan Agnes (Elsie Fisher) ini pun hanya mengandalkan sikap cute (manis dan lucu) untuk menarik perhatian penonton. Itu saja. Saya sebagai penonton tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap ketiganya seperti saya “jatuh cinta” pada karakter Russ di salah satu animasi andalan Pixar Up. Hubungan antara Gru dengan makhluk berbentuk kacang kuning juga hanya sebatas atasan dan bawahan. Padahal poster Despicable Me memberikan kesan ada hubungan yang lebih personal antara Gru dan ratusan makhluk kacang ini. Makhluk kacang ini pun akhirnya terkesan hanya menjadi peramai suasana saja. 

Setidaknya dari sejumlah poin negatif yang telah saya kemukakan, masih ada sisi positif dari film ini. Soundtrack Despicable Me setidaknya masih enak didengar. Karya musisi hip hop karya Pharell Williams yang muncul di sejumlah adegan menceriakan suasana dengan dentuman dan nada yang catchy yang memberikan semangat saat rasa kantuk melanda. Satu-satunya humor cerdas yang berkesan adalah saat Gru mencoba meminta pinjaman dari Bank Kejahatan atau Bank of Evil untuk muluskan proyek pencurian bulannya itu. Tepat di bawah tulisan Bank of Evil: “Dulu Dikenal Sebagai Lehman Brothers” – sebuah perusahaan layanan finansial yang koleps dan menghancurkan ekonomi dunia pada tahun 2008. 

Sebagai film anak-anak, mungkin Despicable Me mungkin sukses. Tetapi bagi orang dewasa, film ini jauh dari memuaskan. Apalagi mengingat begitu banyak film animasi sukses yang dapat dinikmati segala usia seperti How to Train Your Dragon dan Toy Story 3. Secara keseluruhan Despicable Me tidak jauh dari arti judulnya. Ironically, Despicable Me is indeed despicable. 

Durasi: 95 menit | Sutradara: Pierre Coffin & Chris Renaud | Penulis: Sergio Pablos & Ken Daurio