Inception

Pernahkah Anda bermimpi berada dalam mimpi dalam mimpi? Saya pernah. Dan saya baru tahu ternyata mimpi berlapis ini juga pernah dialami banyak orang ketika sineas Christopher Nolan menelurkan karya terbarunya: Inception.

Film yang bertabur bintang Hollywood ternama ini ternyata tidak hanya apik dilihat, namun juga memiliki ide dasar yang membuat Anda berdecak kagum di awal, pertengahan, dan akhir film. Inception berkisah tentang petualangan Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan  kawan kawan yang berprofesi “ekstraktor” – seseorang yang bisa mengakses mimpi orang lain untuk mendapatkan informasi rahasia.

Cobb yang merupakan seorang buron lari dari Amerika Serikat karena dituduh membunuh istrinya Mal (Marion Cotillard). Cobb yang sangat ingin pulang ke Amerika, kembali ke kedua anaknya, akhirnya bertransaksi dengan Saito (Ken Watanabe) – seorang bos besar kaya raya yang bisa “mengatur” kepulangan Cobb. Syaratnya, Cobb harus menanamkan ide dalam benak saingan berat bisnis Saito, Robert Fisher Jr (Cillian Murphy), agar Fisher menghentikan potensi monopoli bisnisnya. Untuk menanamkan ide dengan sempurna, Cobb perlu mengutak-ngatik pikiran Fischer dalam lima tingkatan mimpi. Untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sempurna, Cobb menggunakan jasa Ariadne (Ellen Page) yang bertugas sebagai disainer mimpi.

Konsep awal Inception ini ternyata muncul saat Nolan kecil. “Saya sudah sangat tertarik dengan mimpi dan cara kerjanya sejak kecil. Saya selalu terpesona bagaimana pikiran kita, saat kita tertidur, dapat menciptakan sebuah dunia yang terasa sungguhan,” kata sineas Inggris ini. Sejumlah nama aktor kawakan mungkin bertebaran di film ini, namun penulis dan sutradara Chris Nolan membuat saya paling berdecak kagum karena ia mampu membuat fenomena mimpi yang rumit menjadi cerita yang detil dan jelas. Jika Anda menonton film ini, Anda pasti setuju, Nolan seorang sineas jenius!

Jika Anda dalam kondisi lelah atau mengantuk, saya sarankan untuk menonton film ini lain kali. Karena jika Anda melewatkan satu adegan saja, saya jamin Anda akan bingung saat film ini berakhir. Ini terjadi pada saya, sehingga akhirnya saya menonton Inception untuk kedua kalinya. Salah satu adegan favorit saya, yang saya yakin juga akan menjadi favorit Anda, adalah adegan berkelahi Arthur (Joseph Gordon-Levitt) di terowongan hotel. Rekan kerja Cobb ini tonjok-tonjokan dengan musuh sambil melayang di udara – mungkin mengingatkan kita pada the Matrix (2000) hanya lebih keren! Untuk membuat adegan ini terlihat sungguhan, Nolan khusus membangun sebuah terowongan dengan interior hotel yang ia sebut “kandang hamster”. Terowongan sepanjang 30 meter ini mampu berputar 360 derajat, menghasilkan adegan bergulat yang aneh namun mengagumkan.

Meski film ini berbudget 160 juta dolar, Nolan sebisa mungkin tidak banyak menggunakan teknologi komputer dalam Inception. Namun kita bisa memprediksi kemana sebagian uang ini dialokasikan. Nolan, kru dan para aktor terbang ke enam negara di empat benua – Jepang, Maroko, Prancis, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dan hanya dalam waktu 11 hari setelah film diluncurkan, Inception berturut-turut menjadi film nomor wahid di Amerika Serikat dan telah menghasilkan 234 juta dolar dari penjualan tiket di seluruh dunia! Film Inception pada dasarnya adalah sebuah film pencurian yang melibatkan sebuah tim, masuk ke daerah terlarang, dan berusaha menyelesaikan misi. Dengan sentuhan emas Nolan, Inception dibawa ke tingkatan film heist yang lebih tinggi. Beli popcorn dan minuman, duduk senyaman mungkin, dan nikmati perjalanan menuju dunia mimpi manusia!

 http://www.imdb.com/title/tt1375666/

Sex & the City 2

THE GIRLS ARE BACK! Carrie Bradshaw, Charlotte York, Miranda Hobbes dan Samatha Jones mungkin menjadi empat tokoh televisi wanita paling digandrungi di tahun 90an hingga pertengahan 2000. Jutaan wanita di dunia memuja mereka, menjadikan mereka inspirasi dalam hidup – terkait hubungan dengan pria, pekerjaan, keluarga, dan tentunya pertemanan. Saat serial Sex and the City berakhir pada 2003, sejumlah penggemar patah hati. Ketika tampil di layar lebar untuk pertama kalinya pada 2008, sejumlah pesta dan nonton bareng premiere diadakan, termasuk di Jakarta. Sambutan secara umum dunia internasional pun cukup baik. Saya sebagai salah satu penggemar berat puas dengan Sex and the City: The Movie yang menyajikan kisah yang lebih dalam dan serius mengenai lika-liku kehidupan ke-empat wanita kosmopolitan ini. Sayangnya, tahun ini, Sex and the City 2 gagal memberikan kepuasan yang sama.

SATC 2 menceritakan kehidupan Carrie Bradshaw pasca menikah dengan John Preston atau “Big”. Di film pertama, Carrie mencari cinta. Di film kedua, Carrie berusaha memelihara api asmara dalam pernikahan. Setelah dua tahun menikah, Carrie merasa bara cinta antara dia dan Big menurun. Carrie kuatir mereka perlahan menjadi pasangan menikah yang membosankan – menjalani pernikahan karena terbiasa, bukan lagi karena cinta. Kekuatiran ini diperparah saat Big meminta 2 hari (dalam seminggu) untuk menyendiri. Carrie ternyata tidak sendiri. Charlotte sering letih dan frustrasi mengurus dua anak perempuan lucu hasil pernikahannya dengan Harry Goldenblatt. Ia kemudian menggunakan jasa seorang pengasuh yang cantik bertubuh sintal. Pikiran mengganggu tumbuh dalam benak Charlotte – khawatir apakah sang suami bermain mata dengan pengasuh kedua anak mereka. Tema besar film ini yakni kesetiaan dalam sebuah ikatan – baik antara kekasih dan pasangan menikah (sesama jenis dan lain jenis). Hak suara wanita dan persamaan derajat menjadi tema tambahan.

Dalam film ini, New York bukan menjadi lokasi satu-satunya. Samantha diundang seorang Arab super kaya untuk tinggal di hotel mewahnya di Abu Dhabi. Tentunya, Samantha mengundang ketiga temannya, jadi lebih dari separuh film ini menceritakan petualangan mereka di Abu Dhabi.

Namun, pilihan lokasi ini tidak berhasil. Sutradara/ penulis Michael Patrick King menyajikan klise-klise dunia Arab yang mungkin berdasarkan pengetahuan terbatasnya mengenai Timur Tengah. Carrie, Samantha, Miranda dan Charlotte sering digambarkan sebagai makhluk yang lebih “tinggi” daripada orang Arab dan hanya Miranda yang menunjukkan niat untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan budaya baru ini. Setibanya di Abu Dhabi, ke-empat wanita ini dijemput empat mobil mewah dengan empat pelayan pribadi. Hubungan antara empat wanita ini dengan para pelayan pribadi yang manut dan siap melayani mereka pun terkesan feodal – membuat simpati saya kepada mereka lenyap.

Film SATC: The Movie (2008) fokus pada perjalanan Carrie Bradshaw kembali bangun dari kekecawaan dan patah hati setelah Big, tunangannya, tidak jadi menikahinya. Kerangka utama film pertama ini jelas diselingi sejumlah kisah kehidupan tiga kawan Carrie yang mendukung jalannya cerita utama – jika dibayangkan, bagaikan batang pohon yang kuat dengan ranting-ranting yang mempercantik bentuk pohon. Dalam SATC 2, King berusaha mengangkat sejumlah isu wanita, seperti kesetiaan, stress yang dialami ibu dengan anak yang sedang tumbuh, menopause, penyeimbangan karir dan keluarga. Semua isu ini tentunya sangat relevan dengan kehidupan wanita yang hidup di kota besar. Namun alur cerita SATC 2 kali ini berantakan, tidak realistis bahkan terkesan sangat materialistis. Sejumlah produk perancang terkenal yang dulu hanya menjadi pemanis, kini mendominasi dalam film ini. Kabarnya sutradara/produser/penulisSATC 2, Michael Patrick King, rela menghabiskan budget film US$10 juta hanya untuk kostum wanita paruh baya ini. Nama merk-merk ternama pun bertebaran dalam dialog film – seakan King memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan produk-produk ini “dipasarkan”.  Hampir setiap adegan, ke-empat wanita ini ganti kostum. Penempatan kostum pun sering tidak realistis. Wanita mana yang (saat santai di rumah sendiri) memakai sepatu hak tinggi? Kegemerlapan berlebihan ini membuat fokus cerita buram dan karakter empat wanita yang dulu begitu dekat di hati, tidak lagi simpatik.

Meski telah memainkan peran ini selama lebih dari enam tahun, ke-empat wanita ini terlihat tidak nyaman memerankan empat karakter wanita favorit dunia ini. Walaupun mereka sudah mendekati usia 50 tahun, mereka berusaha tampil dan berperilaku seperti perempuan yang masih 30-an, dan kadang-kadang ini memberi kesan agak desperate (putus asa dan menyedihkan). Saya mengharapkan eksplorasi isu dan emosi yang lebih dalam dan riil daripada film sebelumnya, tetapi yang disajikan sangat dangkalsehingga saya kesulitan memandang mereka sebagai orang sungguhan.

Penampilan empat teman SATC agak mirip dengan adegan penyanyi legendaris Liza Minelli menyanyikan dan menarikan “Single Ladies” Beyonce Knowles di pernikahan pasangan gay Stanford Blatch dan Anthony Marantino – terlihat tua dan menyedihkan.

Kesimpulannya —  SATC 2 dapat menjadi angin segar bagi para penggemar dan menjadi ajang temu kangen dengan empat karakter wanita kosmopolitan ini. Naun bagi penonton yang bukan fans berat, film ini mengecewakan. Dari 1 sampai 10, saya berikan 4,5 untuk Sex kali ini.

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt1261945/

Kick Ass

Anak perempuan nan manis berusia 11 tahun menerima pisau khas Filipina, Balisong,  pada hari ulang tahunnya. Ia mengeluarkan sumpah serapah semudah mengucapkan selamat pagi kepada orang tuanya. Dengan kemampuannya menggunakan senjata, anak ini membantai puluhan kriminal dengan brutal namun enteng.

Ayahnya tidak kalah aneh. Ia mengajarkan jenis-jenis senjata api kepada anaknya bagaikan mengajarkan hitungan dasar. Karena semua kesintingan ini, pengkritik film ternama Roger Ebert sama sekali tidak simpati pada film ini dan memberikan skor buruk.

Meski begitu, percaya atau tidak, saya puas dengan film komedi action ini. Puas sekali sampai-sampai hampir merasa bersalah. Apa yang membuat Kick Ass menjadi sebuah guilty pleasure?

Kick Ass ini diadaptasi dari sebuah buku komik karya Mark Millar dan John Romita Jr dengan judul yang sama . Kick Ass berkisah tentang bagaimana seorangsuper hero lahir.

The Incredible Hulk menjadi monster hijau karena eksperimen kimia. Superman menjadi tokoh pahlawan kuat kebanggaan Amerika Serikat karena ia lahir di planet Krypton. Tokoh utama Kick Ass, Dave Lizewski, adalah seorang remaja pencinta komik super hero yang coba-coba menjadi pahlawan penyelamat. Kick Ass (Aaron Johnson), yang juga merupakan nama karakter pahlawan ini, pun tidak kreatif dan terkesan meniru “pendahulunya” Spiderman.

Parahnya lagi, Kick Ass sama sekali tidak memiliki kekuatan khusus dan kerap mudah ditaklukan para musuhnya. Di satu kejadian, ia berusaha menyelamatkan seorang laki-laki dari amukan tiga preman. Dengan ilmu bela diri yang terbatas, Kick Ass menghentikan pertikaian ini meski pada akhirnya ia pun turut babak belur. Lewat YouTube, aksi heroik Kick Ass ini terekspos ke publik. Pemberitaan media menginspirasi dua super hero baru — Hit Girl (Chloe Moretz) dan Big Daddy (Nicholas Cage) — untuk buka-bukaan beraksi.

Kick Ass memiliki aksen Amerika Serikat yang sempurna. Padahal Aaron Johnson berkebangsaan Inggris. Ini merupakan bakat yang cukup mengesankan mengingat tidak banyak aktor Inggris yang bisa melafalkan aksen Amerika secara tepat. Chloe Moretz yang memerankan Hit Girl pun menunjukkan kemampuan akting yang luar biasa untuk usianya. Menurut saya, dialah bintang utama dari film ini!

Jika Anda suka dengan Kill Bill I karya Quentin Tarantino atau Wanted karya Timur Bekmambetov, Anda akan menyukai film ini. Posternya mungkin berwarna-warni dan dipenuhi dengan anak-anak muda. Jangan terkecoh. Film ini tidak cocok bagi anak-anak di bawah umur.

Seperti film-film Tarantino, sutradara Matthew Vaughn tidak ragu menggunakan darah yang muncrat ke mana-mana. Aksi slow motion-nya benar-benar mengingatkan pada adegan tembak menembak Angelina Jolie dan James McAvoy dalam Wanted – sangat seru!

Gaya suntingan Kick Ass cepat, padat dan efisien. Dialognya pun cerdas diselingi dengan sejumlah humor kasar dan tidak senonoh seperti pada film-film Vaughn sebelumnya dengan Guy Ritchie – Lock Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch.

Kombinasi dialog yang singkat, padat, jelas, ditambah dengan naskah cerdas dan lucu membuat Kick Ass film yang sangat mudah dinikmati. Karakter Hit Girl dan Kick Ass pun pada dasarnya simpatik. Tetapi yang paling membuat film ini berkesan dan menyenangkan adalah bagaimana seorang anak perempuan 11 tahun dan anak lelaki 18 tahun bisa mengalahkan gerombolan mafia paling mengerikan di New York –seperti menonton Persija mengalahkan Brazil dalam pertandingan bola.

Kick Ass surely kicks ass!

Robin Hood

Pertama kali melihat trailer Robin Hood di bioskop, jujur saya sama sekali tidak tertarik. Mengingat film ini sudah pernah dibuat tahun 1991 dengan bintang Kevin Costner. Saya kira Robin Hood (2010) karya Ridley Scott ini akan menjadi sebuah remake saja, dengan aktor berbeda – Si “beringas dan bermasalah” Russel Crowe.

Saya salah besar. Robin Hood karya Scott menawarkan cerita heroik non klise dibandingkan film dengan judul serupa pada tahun 1991.

Robin Hood versi R Scott ini merupakan prequel dari sejumlah film pahlawan pemanah sebelumnya. Jadi bagi Anda yang penasaran dengan bagaimana Robin Hood lahir dan “pasukan hutan” Little John dan Friar Tuck muncul, Anda dapat temukan jawabannya dalam film ini.

Robin Hood
 secara apik merajut legenda dengan sejarah asli Inggris. Kisah Robin Hood bermula sebagai salah satu dari ratusan pasukan pemanah di bawah pemerintahan Raja Richard pada awal abad 12. Pada jaman itu, perintah raja adalah undang-undang negara. Dengan pajak yang sangat tinggi, sang raja merampas kesuburan tanah dan kemakmuran seluruh warga Inggris demi memenuhi ambisinya akan perang.

Setelah Raja Richard tewas, nasib membawa Robin ke Nottingham, sebuah kota gersang nan miskin, di mana ia bertemu dengan tambatan hatinya, Maid Marion. Inggris saat itu sudah dalam keadaan terpecah belah. Setiap wilayah dipimpin seorang baron yang sakit hati terhadap kerajaan yang telah membuat mereka melarat.

Kondisi ini diperparah dengan hadirnya raja pengganti, Raja John, yang dianggap tidak kompeten, feodal dan tidak dapat dipercaya. Robin mencoba menciptakan keteraturan pada negara yang amburadul ini dengan menyatukan rakyat dan menggunakan persatuan bangsa menjadi senjata terkuat melawan Perancis yang saat itu berusaha menjajah Inggris.

Persatuan Inggris Raya inilah yang akhirnya menghasilkan Magna Carta – sebuah perjanjian yang memberikan hak baru kepada warga Inggris dan mengurangi kekuatan absolut sang raja.

Robin Hood kali ini jauh berbeda dengan Robin Hood: Prince of Thieves versi 1991. Kevin Costner dulu memainkan karakter ini dengan aksen Amerika yang kental sedangkan Russel Crowe mencoba mempersembahkan karakter ini sebagai pahlawan Inggris – kebangsaan asli Robin Hood.

Sebagai penonton Indonesia (dengan bioskop yang menyiapkan terjemahan bahasa Indonesia), saya tidak masalah dengan aksen Crowe yang ternyata dianggap publik Inggris tidak jelas. Crowe sempat berang ketika pengkritik seni radio BBC Mark Lawson menyinggung tentang aksen Crowe yang kurang sempurna. Robin Hood berasal dari Midlands (Inggris Tengah).

Namun menurut  Lawson, aksen Crowe terdengar Irlandia. Berang dengan pernyataan Lawson, Crowe langsung meninggalkan studio dengan sumpah serapah. Crowe memang terkenal keras kepala, gampang tersinggung dan cepat panas.

Meski begitu, mesti diakui kemampuan aktingnya merupakan salah satu yang paling top di Hollywood sekarang. Dulu, Costner memainkan karakter Robin sebagai “prince charming”.

Crowe memainkan peran pemanah handal yang cerdik, serius, jujur namun dekil. Kucuran keringat yang menetes pada baju baja dan wajah penuh brewok Crowe mungkin pada awalnya tidak semenarik mata biru dan wajah bersih Costner. Namun penggambaran Crowe akan Robin terasa lebih jujur.

Penggambaran Marion kini pun lebih segar. Aktris pemenang Oscar Cate Blanchett menghembuskan emansipasi wanita masa kini yang sejajar dengan pria. Suara Blanchett yang berat dan dalam memberikan gravitas tersendiri.

Kolaborasi Crowe dan Blanchett ini membuat Robin Hood a la Ridley Scott lebih dari sekedar roman picisan. Sentuhan humor di sana sini juga mampu menyeimbangkan dan memberi kesegaran pada film yang pada dasarnya serius ini.

Bagi saya, film gaya klasik adalah yang terbaik. Di era yang penuh teknologi canggih ini, R Scott menggunakan CGI (Computer Generated Images) secukupnya dengan kualitas yang mirip aslinya – menghasilkan film yang sinematik dan megah – mengingatkan kita pada karya R Scott lain, pemenang film terbaik Oscar tahun 2000, The Gladiator.

Pada akhir pekan pertama setelah dirilis, penjualan tiket Robin Hood se-dunia mencapai sekitar US$111 juta  – memang kalah dengan penjualan tiket Iron Man 2. Walau pun begitu, ini merupakan penjualan tiket terbesar ke-dua film produksi Universal setelah King Kong pada 2005.

Sebagian kritik menyukai film ini, sebagian lain tidak. Mungkin karena mereka mengharapkan kisah Robin Hood dengan sentuhan yang lebih manis dan romantis.

Bagi saya, panah Robin Hood tepat sasaran. Bagaimana dengan Anda?

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0955308/

The Ghost Writer

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa mantan perdana menteri Inggris Tony Blair begitu antusias bergabung dengan Amerika Serikat dalam perang di Iraq?

Sutradara Roman Polanski menawarkan sebuah jawaban nakal dalam kisah fiksi teranyarnya The Ghost Writer. Kolaborasi Polanski dan novelis Inggiris Robert Harris ini mengisahkan seorang penulis bayangan, The Ghost (Ewan McGregor), yang bertugas menulis memoir seorang mantan perdana menteri Inggris Adam Lang (Pierce Brosnan) setelah penulis sebelumnya tewas secara misterius – entah karena kecelakaan atau bunuh diri.

Adam Lang tersandung kasus kejahatan perang. Ia dicurigai menyerahkan sejumlah tersangka teroris Iraq ke CIA untuk disiksa.

Semakin dalam The Ghost menyelidiki masa lalu Lang, semakin ia mengetahui rahasia gelap di balik perilaku politik Lang. Setiap rahasia membawa The Ghost ke malapetaka yang lebih besar. Dalam The Ghost Writer, Polanski secara brilian menciptakan  ketegangan yang makin meningkat melalui adegan-adegan yang terkonstruksi secara klasik tanpa harus menggunakan trik perfilman modern seperti efek visual berlebihan dan teknik editing super cepat.

Film ini kembali menunjukkan mengapa Polanski dianggap sebagai salah satu sutradara terbaik di dunia!

Bisa dibilang The Ghost Writer merupakan satir kehidupan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair. Ruth Lang, istri Adam Lang yang diperankan akris Inggris Olivia Williams pun mengingatkan kita pada Cherie Blair – wanita pintar dan sukses, pendamping setia Tony Blair. Dalam film ini,  Ruth Lang, wanita kuat, manipulatif, dan berkepribadian keras, perlahan tidak hanya kehilangan cinta dari sang suami, namun juga pengaruh politiknya terhadap suaminya.

The Ghost Writer bisa dibilang kembali menaikan pamor para pemeran di dalamnya. McGregor yang akhir-akhir ini berperan dalam film-film yang kurang populer di mata pengkritik film seperti Amelia, Men Who Stare at Goats dan Deception, kembali menunjukkan kebolehannya dengan akting yang halus namun tajam. Hal yang sama terjadi pada mantan agen 007 Pierce Brosnan.

Sejak kontrak film James Bond habis pada tahun 2002, Brosnan tampak tidak berhenti memainkan karakter ‘Mister Ganteng’ berkarakter monoton dan membosankan dalam berbagai produksi film-film berikutnya. Namun kemampuan beraktingnya dalam The Ghost Writer kembali mencuri perhatian. Selain tubuh yang terlihat fit di usianya yang ke-56, Brosnan mampu memerankan seorang pejabat tinggi yang karismatik dan keras namun rentan.

Setelah lama vakum dari dunia pertelevisian, aktris Kim Catrall kembali hadir dalam political thriller bergaya Hitchcock ini sebagai sekertaris Adam Lang yang tampak selalu bersitegang dengan sang istri Ruth Lang. Meski aktingnya mendukung cerita, Catrall yang berkebangsaan Amerika tampak kesulitan melafalkan aksen Inggris secara sempurna.

Meski begitu banyak persamaan antara karakter Adam Lang serta orang di sekitarnya dengan kehidupan Tony Blair, Polanski menyangkal bahwa film ini tentang Blair – mungkin untuk menghindari tuntutan hukum pencemaran nama baik. Polanski sendiri sudah berada dalam masalah besar – ia menjadi buronan Amerika Serikat sejak tahun 1978 setelah terlibat dugaan kasus pelecehan seksual terhadap seorang perempuan di bawah umur.

Proses pengambilan gambar rampung sebelum ia ditahan pihak kepolisian Zurich pada akhir tahun 2009. Meski demikian, semangatnya dalam merampungkan The Ghost Writer tidak pudar. Ia menyelesaikan editing sebagai tahanan rumah di Gstaad.

Sebelum terlibat dalam perang Amerika Serikat dan Iraq, Tony Blair bagaikan perdana menteri yang sempurna bagi sebagian besar warga Inggris. Ia selalu berpihak pada keingingan dan kepentingan rakyatnya.

Ketika Blair memutuskan untuk perang dengan Iraq, popularitasnya turun drastis dan tidak sedikit yang mengkritik Blair sebagai “boneka” pemerintahan Presiden AS George W. Bush. Dunia hingga kini masih bertanya-tanya mengapa Blair begitu mudah “disetir” Bush.

Tentunya hanya Blair yang tahu. Namun Polanski berusaha menjawab dalam fantasi fiksi-nya The Ghost Writer – sebuah “teori konspirasi” yang cerdas dan menghibur.

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt1139328/

How to Train Your Dragon

Dreamworks kembali menghadirkan film animasi andalan setelah perusahaan film ini meraup kesuksesan dengan Shrek yang dirilis tahun 2001. How to Train Your Dragon adalah film yang tidak hanya ramai dibicarakan anak-anak melainkan juga para penikmat film usia dewasa. Film yang diadaptasi dari novel karya novelis Inggris Cressida Cowell ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang remaja lelaki bernama Hiccup yang hidup di bawah bayang-bayang dan harapan besar ayahnya Stoick yang bersuku Viking.

Untuk menunjukkan ke-Viking-an seseorang, ia harus berhasil membunuh musuh bebuyutan mereka yakni naga-naga yang sering berkeliaran dan merusak desa mereka. Suku Viking dan naga telah bermusuhan sejak jaman nenek moyang mereka. Namun dengan kehadiran Hiccup, sejarah dendam kesumat antara kedua pihak yang selama ini tertoreh dalam buku suku Viking terhapus. Remaja pandai, kutu buku, bertubuh kurus dan ringkih ini mampu menaklukan naga terganas dalam legenda Viking tanpa perang dan kekerasan.
Dalam film ini, Anda dapat melihat bagaimana kualitas animasi Dreamworks perlahan namun pasti bersaing ketat dengan Pixar. Pada film animasi, umumnya, para aktor mengisi suara karakter dalam ruang dan waktu yang berbeda. Beda halnya dengan How To Train Your Dragon. Film ini memiliki pengucapan dialog yang alami layaknya film non-animasi di mana para aktor berinteraksi dan bereaksi spontan terhadap satu sama lain.

Kisah film ini diliputi alegori. Di saat anak-anak dapat menikmati petualangan antara anak manusia dan naga serta mengenyam nilai moral yang baik dan solid, orang dewasa memperoleh interpretasi mendalam yang menekankan pentingnya keluarga dan sikap toleransi yang besar antar sesama – atau dalam konteks film ini, antara mahkluk yang berbeda.

Sejumlah bintang ternama yang turut “menghembuskan hidup” pada karakter animasi ini adalah Gerard Buttler dari film kolosal karya Zack Snijder “300” dan America Ferrera dalam serial “Ugly Betty”. Buttler berperan sebagai ayah Hiccup yang bertubuh kekar dengan idealisme Viking yang tinggi. Sedangkan Ferrera berperan sebagai gadis pandai dan disiplin idaman Hiccup. Karakter Hiccup sendiri diperankan Jay Baruchel, aktor yang pernah menyabet peran kecil di film nominasi Oscar Million Dollar Baby pada tahun 2004.

Ekspresi karakter animasi ini begitu mengesankan sampai-sampai Anda bisa melihat sebersit wajah Buttler pada raut Stoick. Gerak tubuh karakter pun luwes dan bernuansa hampir menyerupai karakter film non-animasi. Sejumlah bintang peran pembantu lainnya yang turut meramaikan layar yakni Craig Ferguson, David Tennant, and Ashley Jense, Jonah Hill dan Kristin Wiig.

Humor non-slapstick yang tersaji dalam film ini dapat dicerna baik anak-anak maupun orang dewasa. Penulisan naskah dengan bahasa sederhana namun cerdas.

Saat pertama kali dirilis di Amerika Serikat akhir Maret lalu, How To Train Your Dragon langsung menggeser posisi “Alice In Wonderland” karya Tim Burton yang sempat bertahan selama 3 minggu. Pada akhir minggu pembukaan, How To Train Your Dragon langsung meraup US$43,3 juta atau setara Rp392,6 miliar.
Tak hanya menulis dan menyutradarai film ini, Dean DeBlois dan Chris Sanders juga merancang Toothless secara khusus. Jika pada dasarnya seekor naga lebih menyerupai reptil, Toothless sengaja dibuat lebih menyerupai seekor mamalia yang lebih memberikan kesan hangat. Meski Toothless adalah naga legenda terganas dalam kamus Viking, Anda akhirnya akan terhanyut dan tergelitik dalam sejumlah adegan manis antara Hiccup dan Toothless.

Film animasi ini hadir dalam dua versi yakni 3-dimensi dan 2-dimensi. Bagi Anda yang terkesan dengan adegan angkasa Avatar, aksi terbang di angkasa How To Train Your Dragon ini tidak kalah serunya! Jika kocek terbatas, 2-dimensi pun dapat memuaskan Anda rasa penasaran Anda. Atau bahkan . . . membuat Anda ingin menonton untuk kedua kalinya!

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0892769/

Prince of Persia: The Sands of Time

Suatu hari di tahun 90an, sepulang sekolah, saya dan kakak terkadang menyempatkan memainkan Prince of Persia di komputer. Grafik dua dimensi, gerakan jagoan Dastan yang lincah melompati batu-batu dan meminum ramuan warna-warni membuat waktu bermain seru dan menegangkan! Kini permainan komputer ini bisa kita lihat dalam film Prince of Persia: The Sands of Time. Setelah sekian lama ngiler melihat trailer Prince of Persia (PoP), akhirnya baru-baru ini saya dapat menjawab rasa penasaran saya terhadap film action kolosal ini.

Setelah performa memukau Jake Gyllenhaal di Brothers, kini ia kembali menghiasi layar lebar dengan otot yang lebih besar dan mungkin image yang lebih seksi sebagai Dastan, sang pangeran Persia. Lawan mainnya tak kalah menarik. Gemma Arterton yang sebelumnya memiliki peran kecil dalam film James Bond: Quantum of Solace, kini menyabet pemeran utama wanita, putri Tamina, dengan warna kulit yang lebih gelap dan bentuk tubuh yang aduhai – sangat eksotis!

Di tambah lagi kehadiran aktor kawakan Inggris Ben Kingsley dengan kemampuan akting yang secara konstan maksimal ini. Sayangnya setelah selesai menonton saya tidak begitu puas dengan film kolosal ini. Alasannya bervariasi. Mulai dari hasil suntingan yang terkesan dipaksakan membuat film tidak memiliki alur yang terputus. Kemungkinan besar dikarenakan produser film ini Jerry Bruckheimer yang mengharuskan sutradaranya memotong banyak adegan dalam film karena film ini dinilai Jerry Bruckheimer terlalu panjang. Sejumlah adegan bahkan terkesan mulai dari tengah-tengah. Saya pun baru mengerti alur ceritanya setelah film 2/3 berjalan tepatnya ketika sang Putri Tamina menceritakan mengapa belati suci ini sangat penting dan kasiatnya yang mengagumkan.

Jake Gyllenhaal yang performa akting di film-film sebelumnya sangat optimal pun terlihat setengah hati dan tidak menjiwai. Ini pun terlihat dalam sejumlah wawancara promosi film Prince of Persia ini di berbagai media. Gyllenhaal yang biasanya sangat antusias dan spesifik menjelaskan karakter peran dan alur cerita film-filmnya, tidak memancarkan cahaya antusiasme di matanya. Gyllenhaal tampak kikuk mungkin juga karena ia seorang kebangsaan Amerika Serikat yang harus melafalkan aksen Inggris. Ia memang mengaku sangat hati-hati dengan aksen Inggrisnya itu, mengetahui orang Inggris secara umum sangat mudah mengkritik aktor yang melafalkan aksen Inggrise tidak sempurna.

Anehnya, sang sutradara tampaknya mengharuskan Jake memiliki aksen Inggris, padahal latar belakang film ini di Persia (sekarang Iran). Mestinya jika Jake memiliki aksen Amerika pun tak apa karena dia sendiri bukan berasal dari keluarga kerajaan (seluruh anggota keluarga kerajaan memiliki aksen Inggris).

Hubungan antara putri Tamina dengan Dastan pun terasa terlalu cepat bersemi. Dastan baru saja membantu saudara kandungnya menghancurkan kota milik Tamina. Namun sesaat setelah kota hancur, Tamina langsung jatuh cinta ketika pertama kali beradu pandang dengan Dastan. Secara logika, pasti ada amarah yang kemudian tumbuh menjadi cinta seiring dengan berjalannya waktu. Meski begitu, Dastan dan Tamina terlihat sangat ideal, pasangan cantik dan ganteng ini tentunya menjadi pemandangan nan molek bagi para penonton.

Film ini sebenarnya berdurasi lebih dari 116 menit. Namun produser film ini, Jerry Bruckheimer meminta sutradara Mike Newell memangkas sejumlah adegan. Alhasil film ini terkesan terpotong-potong. Dalam wawancaranya dengan Movies Online, Bruckheimer mengatakan tidak ingin membuat penonton duduk di bioskop terlalu lama. Padahal, banyak sejumlah film panjang yang meraih sukses di mata penonton seperti film kolosal James Cameron Titanic (1998) berdurasi 194 menit atau lebih dari 3 jam!

Meski ceritanya terkesan terpotong-potong, Ben Kingsley dengan pengalaman akting selama bertahun-tahun, mampu memberikan performa akting yang konsisten dan baik.

Tema dari film ini yakni adalah memperjuangkan pihak yang benar. Tampaknya film Prince of Persia ini juga menyentuh topik modern yakni pertarungan antara Amerika Serikat dengan Iraq. Karena kerajaan Persia menuduh kota Tamina memiliki senjata yang dapat menghancurkan Persia. Namun tentunya satir ini dalam konteks lebih ringan – dari segi film, Prince of Persia mungkin meraih sukses biasa saja. Meski begitu, Prince of Persia menjadi gamepaling sukses tahun ini lho!

IMDB: http://www.imdb.com/title/tt0473075/