Goon

Pertama kali melihat poster film Goon, saya jujur tidak tertarik sama sekali. Apalagi melihat salah satu pemainnya Seann William Scott, aktor komedi yang tenar melalui film-film di antaranya American Pie (1999), Dude Where’s My Car (2000) dan Jack Ass 3D (2011). Namun ketika melihat beberapa film kritik favorit saya memberikan nilai cukup memuaskan, saya tergelitik untuk membuktikan penilaian mereka. Continue reading Goon

Tangled

Bagi Anda yang familiar dan suka dengan film animasi a la Beauty and the Beast (1991) atau Aladdin (1992) karya Disney terbaru Tangled (2010) bisa menjadi film pelepas rindu. Tangled mengisahkan seorang gadis berambut sangat panjang yang terperangkap di istana gantung. Familiar dengan cerita ini? Ya memang Tangled ini merupakan adaptasi dari dongeng lama Rapunzel yang kemudian Disney modifikasi. Kini, dongeng ini tidak hanya penuh nilai moral yang baik untuk anak-anak (maupun orang dewasa) tetapi juga memiliki unsur komedi yang segar dan menghibur.

Kisah Rapunzel berawal dari setangkai bunga emas yang memiliki kekuatan ajaib. Wanita tua bernama Gothel menemukan bunga ini dan merawatnya dengan baik karena bunga ini mampu membuatnya tetap muda dan cantik. Sementara itu seorang ratu yang sedang hamil berada dalam kondisi lemah. Untuk itu pasukan kerajaan langsung mencari setangkai bunga emas yang dipercaya dapat mengembalikan kekuatan dan kesehatan. Setelah meminum ramuan bunga emas, sang ratu kembali sehat dan melahirkan seorang bayi perempuan mungil berambut emas — Rapunzel. Geram dengan hilangnya bunga emas, Gothel suatu hari memutuskan untuk menculik Rapunzel — gadis yang kini memiliki rambut dengan khasiat memudakan yang sama.

Selama 18 tahun Rapunzel tinggal di atas kastil gantung — tanpa teman (kecuali Bunglon kesayangannya Pascal) dan tidak pernah memijakkan kakinya ke tanah. Setiap tahun di hari ulang tahunnya, ia selalu melihat cahaya emas berterbangan dari istana (ini adalah peringatan hilangnya putri Rapunzel dari istana). Keinginannya untuk keluar dari kastil tidak terpenuhi karena larangan keras Gothel. Namanya manusia, semakin dilarang semakin penasaran, Rapunzel akhirnya “turun gunung”. Dengan bantuan pencuri kelas teri Flynn Rider, Rapunzel mengarungi perjalanan pencarian jati dirinya.

Masing-masing karakter membawa simbol tema tersendiri. Rapunzel (Mandy Moore) menggambarkan remaja yang tumbuh dewasa dan mencari jati diri. Seorang anak gadis yang baik dan penurut namun masih memiliki keinginan untuk tumbuh tanpa kekangan berlebihan orang tua. Namun di saat ia berontak, hati kecil Rapunzel berteriak dan merasa bersalah. Yah, pada dasarnya kecamuk emosi yang dialami semua remaja.

Flynn Rider (Zachary Levy), seorang anak muda sebenarnya tidak percaya diri namun menutupinya dengan kesombongan dan kebohongan. Namun dalam perjalanannya, ia belajar melakukan kebaikan tanpa pamrih.   Sementara ibu tiri Rapunzel, Gothel (Donna Murphy), bisa dibilang menggambarkan sisi over-protektif orang tua terhadap anaknya. “Mother knows best!” kata Gothel berkali-kali pada Rapunzel. Orang tua tahu apa yang terbaik untuk anak. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit keputusan orang tua yang hanya membawa sengsara bagi anak-anaknya. Jika karakter ibu tiri biasanya hadir dengan wajah dan suara keji, kali ini Gothel hadir sebagai seorang ibu yang selalu memasang wajah manis namun mulutnya menyemburkan belati. Kombinasi ini malah semakin membuat karakter Gothel lebih jahat dari karakter antagonis biasanya.

Dari seluruh karakter yang ada, ada satu yang akan curi perhatian Anda, si kuda putih Maximus. Karakter ini mungkin tidak bisa berbicara, namun ia “berbicara” dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang beragam. Adegan tengkar antara Flynn dengan Max menjadi salah satu adegan favorit saya, dan saya yakin Anda juga!

Film animasi musikal karya sutradara ini Nathan Greno dan Byron Howard, baru kurang dari tiga minggu setelah rilis, mampu menghasilkan US$193 juta atau Rp1,7 triliun. Bisa dibilang antusiasme penikmat film animasi klasik besar. Film hasil kombinasi gambaran tangan dan CGI ini tampaknya hanya available dalam versi 3-dimensi di Indonesia. Namun efek 3-dimensi ini jarang terlihat. Intinya, tanpa efek 3-dimensi pun, film ini masih bagus dan enak ditonton.

Film animasi klasik cenderung kaya dengan pesan moral dan kebaikan yang biasanya membantu anak-anak tumbuh berperilaku baik. Namun denganTangled, bukan hanya anak-anak yang ‘belajar’, orang tua pun bisa. Enjoy!