What kind of world is this?

When accomodating is considered the opposite

When being kind is considered otherwise

When being warm is seen as selfish

When being understanding is considered selfish

When helping is seen as selfish

When loving is seen as selfish

When being compassionate is seen as selfish

When being compassionate to oneself is seen as self centered, when one is surely not capable of compassion for others when one is not capable to give compassion to oneself.

When one starts to question oneself for all the things one does well (or one used to think do well)

 

 

What world are we living in?

Should we listen to ourselves or the world?

Or if we listen to ourselves, our hearts, will that be seen as selfish, too?

 

What kind of world am I living in?

 

 

Why?

To live

To live in the moment

To rejoice happiness when it says hello to you in that moment

 

Why can’t we just live?

Why can’t we just live in the moment?

Why can’t we rejoice and relish happiness when it says hello to us in that moment?

Why can’t we trust the process? That whathever happens in life happen.

That we don’t know what life will bring and that’s alright.

Yes we worry about the future, but we should not let that worry overcast this moment – a moment where we are actually living.

Relish this moment. Why can’t we just relish this moment?

Instead of rejoicing in happiness, why do we have to always find flaws in this being called happiness? Why can’t we trust ourselves that it is OK to be happy. And if something bad happens along the way, it’s just how life is. And how life is as well, during that journey we will find happiness again. It’s the wheel of life.

We may not have tomorrow. Why can’t we just rejoice when we can rejoice?

 

 

 

 

I Heart NY

“It was official. A new season had begun. Maybe our mistakes are what make our fate. Without them, what would shape our lives? Perhaps, if we never veered off course, we wouldn’t fall in love or have babies or be who we are. After all, seasons change, so do cities. People come into your life and people go. But it’s comforting to know, the ones you love are always in your heart. And if you’re very lucky, a plane ride away.” – Carrie Bradshaw.

Tentang Eurydice.

Pernah mencintai, namun ujungnya berpisah

Perpisahan yang selalu terasa abu-abu, Muram.

Lebih baik pernah mencinta atau tidak sama sekali?

Lebih baik mengingat atau melupakan?

Melupakan untuk ingat?

Atau mengingat untuk lupa?

Ketika bicara cinta dan perpisahan,

kenangan indah bagai buah terlarang di Taman Eden.

Satu gigitan yang membuang manusia dari Nirwana selamanya

Rasa yang sesaat manis, namun menyakitkan.

Mencintai sesungguhnya adalah membiarkan ia yang kita cinta

menjadi atau merasakan sesuatu sesempurna mungkin.

Mencinta yang sesungguhnya kadang berarti

melepaskannya pergi.

Eurydice Poster.jpg

Eurydice adalah sebuah lakon Bahasa Inggris persembahan Jakarta Players tentang cinta, kehilangan, dan keinginan untuk melupakan namun juga untuk merengkuh kembali memori indah yang pernah lewat dalam hidup kita. Lakon Eurydice adalah adaptasi modern dari mitologi Yunani Orpheus dan Eurydice.

Eurydice meninggal pada hari pernikahannya dengan Orpheus. Orpheus berusaha untuk turun ke “alam selanjutnya” untuk kembali bersatu dengan Eurydice.

“Sebuah meditasi tentang kondisi manusia. Lembut, kaya dan menyentuh” – Now Toronto, 2015

“Devastatingly lovely.” – The New York Times, 2006

Nak.

 

Aku tidak pernah menjadi seorang anak. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil.

Aku tidak pernah menjadi si kecil yang riang, padahal bahagia seorang anak kecil muncul dari hal yang sangat sederhana. Aku tidak pernah jadi si kecil berprestasi, karena terlalu sibuk menjadi jala curahan hati si dewasa yang bingung linglung harus kemana membawa sedihnya. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil yang pertama kali mengenal cinta lelaki dari sang ayah. Yang kupelajari duluan malah rasa cemburu.  Bukan karena dia memuji sang kakak yang nilainya lebih baik, melainkan karena dia “bercanda” akan memadu kasih dengan perempuan lain yang bukan ibunya.

Aku tidak pernah menjadi seorang anak yang paham apa itu kasih, karena tidak pernah belajar dari si dewasa. Mungkin sang panutan terlalu sibuk meng-iya-kan ego-nya, atau mungkin terlalu bingung mencari rumus bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai orang dewasa.

Aku pernah menjadi anak yang bingung. Tubuhku di sekolah. Buku yang seharusnya penuh dengan tulisan ilmu, malah penuh dengan gambar nisan yang bertuliskan namaku. Aku, seorang anak yang kepalanya terus melarikan diri dalam impian indah, namun tubuh dan hatinya tenggelam dalam kegetiran.

Aku pernah menjadi anak itu. Tapi Nak, aku takkan pernah membuatmu merasa begitu.

Kan kubiarkan kau berlari dan tertawa tanpa gundah dan sedih di hati. Tangismu hanya karena lututmu terantuk aspal, bukan karena harus memikirkan gundahku, gundah dewasa, kegundahan yang belum kau perlu tahu.

Ketika lututmu luka dan kau menangis karena malu dan daging yang menganga, ku kan ada di sana, lingkari tubuh kecilmu dengan lenganku, jariku ‘kan belai rambutmu dan katakan semua akan baik baik saja. Ketika pun hatimu yang terluka, ku kan ada di situ untukmu. Ku ‘kan ada saat kau merangkak, berdiri, berjalan, belajar . . . dan belajar menjalani kehidupan.

 

 

 

 

 

“Teman Lama”

Hisapan asap itu selalu membawaku ke malam-malam menyendiri di musim dingin di tanah kanguru. Sepuluh tahun telah berlalu. Tak pernah terpikir sedikit pun aku akan ada di sini sekarang. Berada dalam kondisi kini dan sekarang. Konsistensi membawaku perlahan ke tempat yang lebih tinggi. Tentu, hidup seakan tak lengkap tanpa momen pahit dan menyakitkan — kecil atau besar. Kegagalan dan rasa sakit ku pakai sebagai anak-anak tangga yang semakin kudaki, hanya membuatku makin kuat dan mantap. Setiap tahun, sebagian langkah terasa berat, meski berat ku maju terus. Setiap langkah mengakar kuat dalam tanah yang kupijak.

Kemarin, ku tak mampu berdiri. Pikiranku lagi-lagi nyasar ke titik-titik gelap yang dulu aku kunjungi. Kegelapan menyelimuti dengan senang hati seperti teman lama. Seorang Teman Lama yang menyapa dengan senyuman menyeringai yang mengerikan. Seringai yang kutakuti. Seringai yang tak sabar ingin menelanku bulat-bulat dalam kemuramannya. Dan ketika ia menelanku, tiap detik terasa seperti sejam, setiap jam terasa seperti sehari. Hari itu terasa seperti kemuraman bertahun-tahun. Ku tak kuat menahannya.

Aku muram, dikelilingi, dibanjiri ribuan tanda tanya dan ribuan andai. Mereka membuatku disorientasi, menyeretku ke ruang pengap tak tertahankan.

Tapi ku sudah belajar, ketika dalam kegelapan, terima dia dengan tangan terbuka. Biarkan dia tinggal bersamamu sampai ia memuaskan laparnya. Dan benar, hari itu, ku biarkan dia menikmati cita rasa dari setiap airmataku, berjam-jam, hingga ku tertidur, hingga dalam tidur.

Ku bangun merasa sebagai sisa-sisa. Kepalaku berat tapi aku bertekad hari ini ku akan putar peranku dengannya, sang Teman Lama.

Ku ajak bicara setan di kepalaku. Ku katakan padanya, ku berkata . . . “Sudahkah air mataku memuaskan dahagamu? Sudah kenyangkah kau pagi ini, Teman Lama?” Ku tersenyum. Dan senyuman itu membuat dia bosan denganku. Aku tidak lagi asyik diajak bermain. Aku tak seru lagi dipermainkan karena aku tidak menyerah meski dia telah membantai dan mengoyak jiwaku sehari sebelumnya.

Matahari terbit, dia mulai jalan menjauh. Matahari terbenam, ia pun menghilang dari pandanganku. Tapi ku sangat kenal dengan Teman Lamaku ini. Oh dia pasti akan kembali. Tapi ku ‘kan selalu buka tanganku dan memeluknya ketika ia datang. Tak apa, karena ku tahu aku akan selalu membuatnya bosan. Kemarin seharian penuh.  Lain waktu ku tak tahu berapa lama ia akan tinggal bersamaku. Teman lama akan selalu datang untuk menikmati deritaku. Tapi lagi-lagi, selamat datang selalu akan terucap dari bibirku untuknya, dan keesokannya lagi-lagi ‘kan ku buat dia bosan dengan sinarku. Karena ku tahu, pada akhirnya, cahaya dalam diriku akan selalu menang.

“Old Friend”

That one puff always takes me back to those solitary nights in winter in the land of kangaroos. Ten years have passed since. Never thought I would be here and now. In the condition I am in, here and now. Consistency leads to a steady hike. Yes, life gives its occasional faltering — big and small. The faltering I use as my stairs to be stronger. Each year, some pace were heavy, but steadily moving forward. Every step rooted deep into the ground.

Yesterday, I could barely stand up. My mind again roamed into the dark places I used to visit. That blackness enveloped with glee like an old friend. An Old Friend who greeted with the nastiest grin. That nasty grin I fear. The grin that could not wait to eat me up in its somberness. And when it did, every second felt like an hour, every hour felt like a day. That day felt like years of somberness. Unbearable.

I was somber, surrounded, inundated with question marks and what ifs. They disoriented me, dragging me to the insuffarable.

But I learnt, when in darkness, welcome him. Let him stay with you until he satisfies his hunger. And I let him indulge on every teardrop for hours until I fell asleep, and when I was asleep.

I woke up feeling like his leftover. My head was heavy but I was determined to turn the table.

I negotiated with the devil in my head. I said to him, I said . . . “Have my tears quenched your thirst? Are you full now, Old Friend?” I smiled. And that smile bored him. I was not fun anymore for I was not defeated after the beatup. The sun rose, he walked away. The sun set, he finally left, but of course only to return again I don’t know when. Oh he will come and visit again. I know that for sure. Knowing how he is. But Old Friend, I will always welcome him. Cause I know I will always win his boredom in the end. This time it’s one day. Next time who knows? Old Friend will have me suffer for his pleasure. But again, I always welcome him, and bore him with my light the next day. Because in the end, I know, that light within will always win.

 

 

Manusia Koper

 

Setiap orang punya cerita.

Cerita yang abu-abu.

Lahir di dunia dari orang tua yang tidak bisa dipilih.

Tumbuh membawa bagasi mereka dan sekitar.

Koper bersumpal bermacam benda/hal.

Berat, ringan, putih, hitam, bulat, persegi, harum, busuk,

bahkan terkadang sedikit banyak terselip yang bentuk, bau, dan warnanya abstrak bahkan absurd.

Setiap orang punya cerita.

Cerita yang abu-abu.

 

 

 

Crooked.

In my head, it’s that world. When things are crooked yet I do not know why they are crooked, it crooks the heart. And when things are crooked, perhaps it is good to accept the crookedness caused by the invisible crook that sometimes is invincible so that the heart no longer crooks hence not crooked. Ah the crooked heart, the crooked mind, these crooks create crooked seconds, minutes, hours, days , crooked moments. Some seconds, minutes, days are just crooked and . . . it’s all right.

The Worst Battle of All

“WAR will forever be one of the worst things in life.

But when in this battle, we turn out to be our own enemy, that, for me, is the worst battle of all.”

– Marissa Anita