Raindrops, Music and Peace

Jakarta, 19 July 2016, 5:15pm

I’m sitting alone in my office looking out as the raindrops kiss the grey glass of my window. Listening to Joao Gilberto’s S’wonderful while my White Gardenia candle burns calmly next to my computer screen. And suddenly I feel, being happy can be that simple.  Even just like this, in this current state, in this moment,  I find peace.

Life: The Eternal Pursuit of Meaning and Happiness

The first time I watched Eat Pray Love, I was perhaps too young to understand. I remember that I was not very impressed by the film. I thought it was just about a privileged woman from New York not being able to find happiness when everything that went around her was fine. She had a beautiful place in New York, married for eight years but still managed to feel unhappy. I did not get her, at all.

I watched it the second time last night. Still not very impressed by the film and how it was directed and how the script was written and how the scenes were edited and laid down. But this time, I understood the character better. It was most likely because now I’m a little older and have gone through, let’s say, some events in my life that have given me a better understanding of what she went through.

Was it depression? Was it a midlife crisis? She was feeling nothing and needed to find meaning in her life, needed to find what she wanted in life. She decided to take a sabatical from New York and flew to Italy, India and Indonesia — a year out of the Big Apple. Did she find what she was looking for? Did she find happiness? It was still unclear when the film ended. I have not read the book so am not sure either if she in the end finds “happiness” when the book ends either. But whatever the ending is, I figure that life, at least mine, is about discovering little happiness everyday. We will stumble upon little sadness everyday too. Little sadness, big sadness, little happiness, big happiness, and little sadness, happiness, big sadness, big happiness, big happiness, little happiness, big happiness and little sadness and happiness and the so the cycle of life goes . . .

Film imitating life imitating film. It’s funny how sometimes, in some inexplicable way, we seem to watch films we relate to at a certain stage of our lives. You can’t help but think and self reflect as the credits scroll up on the big screen. Some films perhaps make us feel worst, but some make us a little bit more optimistic.

 

 

MengHakimi Hati

Ketika suara-suara mengHakimi itu masih terus menghantui, ia tersadar bahwa ia mulai kehilangan jati diri.

“Palsu! Naif! Jangan selalu menempatkan diri sebagai korban! Muak!” . . . terus bergema tiada henti, gema pengHakiman yang sebenarnya lahir dari kegelisahan Sang Hakim. Namun sayang, rentetan ujaran ini terlanjur merasuk dalam Hati.

Perkenankan saya bercerita tentang Hati.

Hati, dulu hangat dan terbuka, kini tak lagi menjejak pasti dan mulai membenci diri. Sekali lagi, Hati membenci dirinya sendiri.

Goresan dari sayatan pertama belum kering, sudah ditusuk lagi dengan belati ke dua. Luka kedua hampir sembuh, harus kembali sobek dengan hantaman ketiga. Darah segar mengucur deras dari Hati yang sudah biru hitam lebam. Merah darah menjadi simbol bara amarah dan rasa sakit yang lahir dari tuduhan tak berdasar.

Hati remuk akibat suara Hakim. Suara yang dahulu samar terdengar bak gaung dari nirwana ternyata hanya menyamar. Suara itu kini menjelma menjadi gemuruh parau yang pahitnya terasa di ujung lidah terluar, tengah, hingga kanan kiri, hingga pangkal, bagai empedu yang tak sabar mencengkik leher, merampok napas, merenggut, mengerut-keriput dan membekukan hati yang dulu merah, hangat, berdegup dan hidup.

Hakim telah mengkhianati rasa dan harapan dalam Hati.

Remuk redam, Hati masih berusaha untuk berdegup, sementara darah terus mengalir meninggalkan rumahnya. Hati mempercepat degupnya agar darah segera tinggalkan dirinya karena baginya, darah adalah sumber Rasa. Hati tak ingin lagi merasa. Ia mau Rasa hilang dan akhirnya mati.

 

 

 

 

 

 

A Splendid Torch

A Splendid Torch by George Bernard Shaw

This is the true joy in life, the being used for a purpose recognized by yourself as a mighty one; the being a force of nature instead of a feverish, selfish little clod of ailments and grievances complaining that the world will not devote itself to making you happy.

I am of the opinion that my life belongs to the whole community, and as long as I live it is my privilege to do for it whatever I can.

I want to be thoroughly used up when I die, for the harder I work the more I live. I rejoice in life for its own sake. Life is no “brief candle” for me. It is a sort of splendid torch which I have got hold of for the moment, and I want to make it burn as brightly as possible before handing it on to future generations.

 

What kind of world is this?

When accomodating is considered the opposite

When being kind is considered otherwise

When being warm is seen as selfish

When being understanding is considered selfish

When helping is seen as selfish

When loving is seen as selfish

When being compassionate is seen as selfish

When being compassionate to oneself is seen as self centered, when one is surely not capable of compassion for others when one is not capable to give compassion to oneself.

When one starts to question oneself for all the things one does well (or one used to think do well)

 

 

What world are we living in?

Should we listen to ourselves or the world?

Or if we listen to ourselves, our hearts, will that be seen as selfish, too?

 

What kind of world am I living in?

 

 

Why?

To live

To live in the moment

To rejoice happiness when it says hello to you in that moment

 

Why can’t we just live?

Why can’t we just live in the moment?

Why can’t we rejoice and relish happiness when it says hello to us in that moment?

Why can’t we trust the process? That whathever happens in life happen.

That we don’t know what life will bring and that’s alright.

Yes we worry about the future, but we should not let that worry overcast this moment – a moment where we are actually living.

Relish this moment. Why can’t we just relish this moment?

Instead of rejoicing in happiness, why do we have to always find flaws in this being called happiness? Why can’t we trust ourselves that it is OK to be happy. And if something bad happens along the way, it’s just how life is. And how life is as well, during that journey we will find happiness again. It’s the wheel of life.

We may not have tomorrow. Why can’t we just rejoice when we can rejoice?

 

 

 

 

I Heart NY

“It was official. A new season had begun. Maybe our mistakes are what make our fate. Without them, what would shape our lives? Perhaps, if we never veered off course, we wouldn’t fall in love or have babies or be who we are. After all, seasons change, so do cities. People come into your life and people go. But it’s comforting to know, the ones you love are always in your heart. And if you’re very lucky, a plane ride away.” – Carrie Bradshaw.

Tentang Eurydice.

Pernah mencintai, namun ujungnya berpisah

Perpisahan yang selalu terasa abu-abu, Muram.

Lebih baik pernah mencinta atau tidak sama sekali?

Lebih baik mengingat atau melupakan?

Melupakan untuk ingat?

Atau mengingat untuk lupa?

Ketika bicara cinta dan perpisahan,

kenangan indah bagai buah terlarang di Taman Eden.

Satu gigitan yang membuang manusia dari Nirwana selamanya

Rasa yang sesaat manis, namun menyakitkan.

Mencintai sesungguhnya adalah membiarkan ia yang kita cinta

menjadi atau merasakan sesuatu sesempurna mungkin.

Mencinta yang sesungguhnya kadang berarti

melepaskannya pergi.

Eurydice Poster.jpg

Eurydice adalah sebuah lakon Bahasa Inggris persembahan Jakarta Players tentang cinta, kehilangan, dan keinginan untuk melupakan namun juga untuk merengkuh kembali memori indah yang pernah lewat dalam hidup kita. Lakon Eurydice adalah adaptasi modern dari mitologi Yunani Orpheus dan Eurydice.

Eurydice meninggal pada hari pernikahannya dengan Orpheus. Orpheus berusaha untuk turun ke “alam selanjutnya” untuk kembali bersatu dengan Eurydice.

“Sebuah meditasi tentang kondisi manusia. Lembut, kaya dan menyentuh” – Now Toronto, 2015

“Devastatingly lovely.” – The New York Times, 2006

Nak.

 

Aku tidak pernah menjadi seorang anak. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil.

Aku tidak pernah menjadi si kecil yang riang, padahal bahagia seorang anak kecil muncul dari hal yang sangat sederhana. Aku tidak pernah jadi si kecil berprestasi, karena terlalu sibuk menjadi jala curahan hati si dewasa yang bingung linglung harus kemana membawa sedihnya. Aku tidak pernah menjadi gadis kecil yang pertama kali mengenal cinta lelaki dari sang ayah. Yang kupelajari duluan malah rasa cemburu.  Bukan karena dia memuji sang kakak yang nilainya lebih baik, melainkan karena dia “bercanda” akan memadu kasih dengan perempuan lain yang bukan ibunya.

Aku tidak pernah menjadi seorang anak yang paham apa itu kasih, karena tidak pernah belajar dari si dewasa. Mungkin sang panutan terlalu sibuk meng-iya-kan ego-nya, atau mungkin terlalu bingung mencari rumus bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai orang dewasa.

Aku pernah menjadi anak yang bingung. Tubuhku di sekolah. Buku yang seharusnya penuh dengan tulisan ilmu, malah penuh dengan gambar nisan yang bertuliskan namaku. Aku, seorang anak yang kepalanya terus melarikan diri dalam impian indah, namun tubuh dan hatinya tenggelam dalam kegetiran.

Aku pernah menjadi anak itu. Tapi Nak, aku takkan pernah membuatmu merasa begitu.

Kan kubiarkan kau berlari dan tertawa tanpa gundah dan sedih di hati. Tangismu hanya karena lututmu terantuk aspal, bukan karena harus memikirkan gundahku, gundah dewasa, kegundahan yang belum kau perlu tahu.

Ketika lututmu luka dan kau menangis karena malu dan daging yang menganga, ku kan ada di sana, lingkari tubuh kecilmu dengan lenganku, jariku ‘kan belai rambutmu dan katakan semua akan baik baik saja. Ketika pun hatimu yang terluka, ku kan ada di situ untukmu. Ku ‘kan ada saat kau merangkak, berdiri, berjalan, belajar . . . dan belajar menjalani kehidupan.

 

 

 

 

 

“Teman Lama”

Hisapan asap itu selalu membawaku ke malam-malam menyendiri di musim dingin di tanah kanguru. Sepuluh tahun telah berlalu. Tak pernah terpikir sedikit pun aku akan ada di sini sekarang. Berada dalam kondisi kini dan sekarang. Konsistensi membawaku perlahan ke tempat yang lebih tinggi. Tentu, hidup seakan tak lengkap tanpa momen pahit dan menyakitkan — kecil atau besar. Kegagalan dan rasa sakit ku pakai sebagai anak-anak tangga yang semakin kudaki, hanya membuatku makin kuat dan mantap. Setiap tahun, sebagian langkah terasa berat, meski berat ku maju terus. Setiap langkah mengakar kuat dalam tanah yang kupijak.

Kemarin, ku tak mampu berdiri. Pikiranku lagi-lagi nyasar ke titik-titik gelap yang dulu aku kunjungi. Kegelapan menyelimuti dengan senang hati seperti teman lama. Seorang Teman Lama yang menyapa dengan senyuman menyeringai yang mengerikan. Seringai yang kutakuti. Seringai yang tak sabar ingin menelanku bulat-bulat dalam kemuramannya. Dan ketika ia menelanku, tiap detik terasa seperti sejam, setiap jam terasa seperti sehari. Hari itu terasa seperti kemuraman bertahun-tahun. Ku tak kuat menahannya.

Aku muram, dikelilingi, dibanjiri ribuan tanda tanya dan ribuan andai. Mereka membuatku disorientasi, menyeretku ke ruang pengap tak tertahankan.

Tapi ku sudah belajar, ketika dalam kegelapan, terima dia dengan tangan terbuka. Biarkan dia tinggal bersamamu sampai ia memuaskan laparnya. Dan benar, hari itu, ku biarkan dia menikmati cita rasa dari setiap airmataku, berjam-jam, hingga ku tertidur, hingga dalam tidur.

Ku bangun merasa sebagai sisa-sisa. Kepalaku berat tapi aku bertekad hari ini ku akan putar peranku dengannya, sang Teman Lama.

Ku ajak bicara setan di kepalaku. Ku katakan padanya, ku berkata . . . “Sudahkah air mataku memuaskan dahagamu? Sudah kenyangkah kau pagi ini, Teman Lama?” Ku tersenyum. Dan senyuman itu membuat dia bosan denganku. Aku tidak lagi asyik diajak bermain. Aku tak seru lagi dipermainkan karena aku tidak menyerah meski dia telah membantai dan mengoyak jiwaku sehari sebelumnya.

Matahari terbit, dia mulai jalan menjauh. Matahari terbenam, ia pun menghilang dari pandanganku. Tapi ku sangat kenal dengan Teman Lamaku ini. Oh dia pasti akan kembali. Tapi ku ‘kan selalu buka tanganku dan memeluknya ketika ia datang. Tak apa, karena ku tahu aku akan selalu membuatnya bosan. Kemarin seharian penuh.  Lain waktu ku tak tahu berapa lama ia akan tinggal bersamaku. Teman lama akan selalu datang untuk menikmati deritaku. Tapi lagi-lagi, selamat datang selalu akan terucap dari bibirku untuknya, dan keesokannya lagi-lagi ‘kan ku buat dia bosan dengan sinarku. Karena ku tahu, pada akhirnya, cahaya dalam diriku akan selalu menang.