Karena Ku Hanya Manusia

I am a human. 

With heart.

With kindness.

With love.

With respect.

 

With an ability to think, to feel, to get affected by those outside my control. 

 

And thus, I am a human. 

With emotion.

With anger.

With sadness.

With tears.

With dissapointments.

With flaws.

And thus, bless me with patience, strengh, and hope

that I am constantly protected within Your grace,

Your power,

Your love.

That I am delivered from those who inflict pain, anger and dissapointments.

Your Grace, deliver me from evil.

For I am only human.

 

***

 

Aku manusia

punya hati

punya kebaikan

punya cinta

saling menghormati

 

punya nalar, rasa, dan kerap rapuh terpengaruh apa pun di luar kendaliku

 

Maka itu, aku manusia

punya rasa

punya amarah

punya kesedihan

jatuh air mata

rasa kecewa

punya kekurangan

Maka itu, berilah ku sabar, kekuatan, dan harapan

bahwa aku dalam lindungan-Mu

dalam kuat-Mu

dalam cinta-Mu

bahwa aku terlindung dari mereka yang hendak menyakiti, memprovokasi, mendatangkan kecewa

Yang Kuasa, jauhkanku dari yang jahat

Karena ku hanya manusia

Keras Kepala Yang Tidak Perlu

“I am who I am. Don’t try to change me. Take me as I am, or watch me as I go.”
“Aku adalah aku. Jangan coba-coba mengubahku. Terima aku apa adanya. Kalau tidak ya sudah.”

Mungkin kalimat ini ada benarnya. Tapi setelah menjalani hidup sepuluh tahun terakhir, jalan fikir seperti ini perlahan berubah.

Think about it.

Kalau orang yang saya cintai sedang menghancurkan diri, apakah saya harus tinggal diam hanya karena saya tidak berhak “mengubah” dia? Atau ketika saya tahu saya telah melakukan kesalahan karena sifat dasar saya yang kurang berkenan bagi orang lain, apakah kemudian saya tidak berusaha untuk merubah diri agar jadi lebih baik?

Hidup itu proses evolusi, terus berevolusi menjadi lebih baik — baik bagi orang lain dan tentunya baik bagi kita sendiri. Biasanya proses evolusi ini akan lebih mudah ketika kita benar benar mencintai diri kita sendiri dan orang lain.

Mungkin bagi sebagian orang, ini terdengar klise dan sekedar retorika. Tidak demikian bagi saya. Dua per tiga perjalanan hidup saya tidak mudah. Banyak kecewa, sakit hati, tidak percaya karena satu dan lain hal. Di masa lalu, jika saya mau hancurkan diri dalam dunia kelam pun bisa. Namun meski perjalanan berkerikil, darah dan luka di telapak kaki mungkin memperlambat langkah, namun tak pernah hentikan langkah untuk keluar dari yang kelam. Mungkin karena saya terlalu sayang pada hidup ini yang hanya kita terima satu kali. Mungkin juga saya terlalu cinta pada orang-orang terkasih dan tak pernah mau kehilangan mereka hanya karena keras kepala yang tidak perlu.

Sept 26

Courtesy of http://3.bp.blogspot.com

Seasons of Love

Falling in love feels so good.

It’s that feeling when cupids pierce you with their endorphine-laden arrows. There is no other way but up even when things may you bring down. You have no time to feel blue as you fill your mind with the thought of him or her. His coo. Her laughter. What ecstasy.

“I wonder what she’s doing now?”
“I wonder what he’s thinking now?”
“Oh I miss her.”
“I miss him.”
“I think I’m falling in love.”
“Damn, I think I love her.”
“Let’s have dinner. Drinks after? Coffee or tea? ”
“Can I kiss you?”
“Maybe yes. Yes!”
And as they kissed, fireworks exploded in their brains and hearts, butterflies flutter frantically in utter joy . . . and life feels limitless.

Love. It’s like seasons. And just like seasons it’s nature is everchanging. After summer comes fall where leaves turn bright orange and red while they fall one by one into the ground. As love gets more intense, so does insecurity.

“Are you OK?”
“Your phone flashed up. Parker called. Who’s he?”
“A colleague.”
“Oh”

“Are you ignoring me?”
“I’m tired and I just want to sit and be quiet.”
“Don’t you love me anymore?”
“Of course.”

. . .

“Do you still love me?”
“No.”

Winter chills freeze hearts till they break into million little pieces that continue to break into zillion little pieces till it’s gone.

As if the love between them was never there. Never.

Then silence . . .

Is that the end? How bleak.

Bleak. Sometimes it is.
But at times hope springs.

When two people know that they’re worth fighting for.

How do we know? We know.

Nineteen Years of Reminiscence

Today in 1995, I fell deeply for a boy 4 years older, in 3 days. And when we were eventually separated by the sea, I cried 3 days straight in the attic, imagining how he was, where he was, what he was doing. Ah fascination. I continued to puppy love him for years after. We have not seen each other since. Nineteen years passed. Wonder if he still remembers, me, us, that day in one fine summer’s day.

Ketika Ajal Menjemput

Kematian — mungkin sesuatu yang menjadi mimpi buruk seluruh makhluk hidup di dunia. Namun apa yang ditakuti ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir?

Apakah rasa itu ketika kita tahu ajal akan menjemput dalam hitungan menit, detik? Apakah rasa itu ketika kematian datang perlahan selagi penyakit menggerogoti setiap inci tubuh kita? Apakah rasa itu ketika kita tahu akan meninggalkan orang yang dicinta, melepaskan mereka yang tak lagi kita lihat tawanya, tak lagi rasakan cintanya – apakah dalam bentuk belaian atau amarah ketika terbakar cemburu? Apakah rasa itu ketika kita tidak tahu jika ada kehidupan lanjutan di alam sana, alam yang konon penuh bahagia dan damai dalam arti sebenarnya? Apakah rasa itu ketika kita melihat cahaya dunia meredup dalam tarikan nafas paling akhir?

Pagi tadi saya berbincang dengan seorang kawan. Kematian tidaklah pernah mudah. Ada yang berharap mati dalam tidur. Mungkin damai bagi yang tinggalkan dunia. Tapi sakit bagi yang ditinggalkan dalam tiba-tiba. Mungkinkah mati perlahan lebih baik? Mungkin ini siapkan hati yang rela bagi mereka yang tertinggal, namun sengsara panjang bagi yang ‘kan meninggalkan.

Apa pun itu perjalanan kita, satu hal selalu tertanam dalam benak dan hati. Siapa pun bisa pergi kapan pun, dengan atau tanpa pesan. Maka jalani hari untuk cintai yang harus dicintai sepenuh hati. Dan ketika kita pergi, mungkin kita tinggalkan jejak air mata di pipi, namun dengan waktu, senyum akan mekar di hati dalam memori yang ‘kan kita peluk selamanya.

 

A Short Tale of a Married Couple

One morning, a married couple lying in bed, looking at the bedroom ceiling as the sun breaks through their bedroom window. 

Wife: How long have we been married for? 

Husband: 6 years. 

Wife: You’ve promised. At least 70 more years. 

Husband: (giggles) Yes I will try. 

Wife: OK. Maybe 64 more years then. By then you will be . . . 

Husband: 112 years old. 

Wife: . . . and I will be 94 years old. Maybe I will already by forgetful by then . . . 

Husband: (chuckles) Me too. 

Wife: We will be birdwatching. . . 

Husband: . . . drinking tea 

Wife: Having scones made by our children. 

Husband: Our great grandchildren perhaps?

Wife: Yeah, the scones will be all wonky but it doesn’t matter because what’s important is not always necessarily the result, but the process. 

Husband: Maybe there will be no jam then. 

Wife: Really? I think there will still be jam. Like sugar and salt. Something so basic. So irreplaceable

 

Life: Certainty vs Confusion

Life is not black and white.

Life offers gradation.

There is beauty in its greyness.

However the greyness often confuses. And when tangled in this confusion, you are left wondering . . .

Whether it’d be better for life to be as such, or to be clearly black or white . . .

Buka Mata Hati

Ibu sejak kecil kerap bercerita.

“Kebahagiaan bagi ibu adalah ketika makan ada, tempat tinggal ada, mau jalan-jalan kadang-kadang juga bisa. Hidup cukup. Tidak perlu kaya raya untuk menjadi bahagia,” seloroh ibu. 

Ketika dipikir-pikir, memang kebutuhan kita sebagai manusia sebenarnya sangat sederhana. Kita butuh makan; butuh rumah untuk berteduh; butuh keluarga dan teman yang mengasihi untuk membuat hidup ini punya sinar dan harapan meski ketika dirundung masalah; terkadang kita butuh rekreasi untuk tenangkan pikiran dan ringankan hati ketika hidup terasa ruwet. 

Buka mata hati. Mati tidak membawa harta. Ketika kita diberi yang Kuasa kelebihan, tidak ada salahnya berbagi kepada mereka yang tidak berkelebihan. 

 

 

My Life, My Art, My Happiness

Terima kasih Ed-in-Chief Ivana Atmojo untuk wawancara dengan OK! Magazine Indonesia yang super menyenangkan. Makan siang sambil ngobrol hasilnya sebuah artikel yang well written, well laid out and has made a deep impression on me. Thanks Ivana for your wonderful positivity and energy. Wishing you the best with your new future venture. Lots of love, Mariss x

Image

Image

Image

Image

Image

A Deeper Conversation with Oneself

Who would have thought that a human so happy could be so depressed over something so basic: trust.

Basic, it is basic all right, but it is so fundamental that once it cracks it is harder to mend. It is so fundamental that it influences how you see things around you, how you see others, whether or not you can trust your good intent in the care of others.

Sometimes I ask myself, why we humans could be so complicated? Can’t we just all live without intrigue? Can we live without lies? Why can’t we live side my side happily without the expense of hurting others? Without having to sacrifice others’ happiness? Why do we have to bring others down to make ourselves feel better?

When all what matters it to feel alive.

To know that you have done well. To know that you treat each other well. To know that you’ve lived an honest life that the universe is not against you when you have lived so. To have justice for those who are good. To have serenity for those who do no harm to others. To have peace and happiness to those who have the best intentions.

The longer I live in this world, the more I realize how life can be so wonderful and unbearable for us humans. To feel such elation one moment and to drown in such dark sadness – depression – another moment. I can’t imagine how confusing life could be for someone with bipolar disorder. Life is confusing enough already.

As humans and how we are with each other, I conclude for now that to live is to be humble and inspiring for others when we are given the privilege. And to be strong when the universe seems to be against us.